BANTENCORNER.COM – Di tengah maraknya berbagai kesenian modern, Tim Marawis Zauzat Al Hind dari Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, tetap teguh melestarikan irama religi yang menyejukkan jiwa. Grup marawis ini dikenal bukan hanya karena kekompakan ritmenya, tetapi juga semangat keislaman yang mereka bawa dalam setiap ketukan rebana.

Didirikan oleh para pemuda yang cinta pada seni Islami, Zauzat Al Hind hadir sebagai wadah untuk menyalurkan bakat, mempererat silaturahmi, serta memperkuat syiar Islam melalui musik dan sholawat. Setiap penampilan mereka tak sekadar hiburan, tetapi juga ajakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bagi mereka, marawis bukan sekadar tabuhan dan lantunan, melainkan bentuk ekspresi cinta kepada Rasulullah SAW. Semangat itu terlihat dari setiap wajah anggota yang tampil penuh penghayatan, membuat setiap nada terasa hidup dan bermakna.

Kini, Zauzat Al Hind terus berkembang. Dari acara keagamaan hingga festival seni, mereka selalu tampil membawa suasana yang menggugah dan penuh spiritualitas. Dukungan masyarakat yang semakin besar membuat tim ini semakin percaya diri untuk terus melangkah, membawa harum nama Cikulur dan Kabupaten Lebak.

Cita-cita mereka sederhana namun bermakna besar  menjadikan marawis sebagai kebanggaan daerah dan menghidupkan kembali semangat kesenian Islami di kalangan generasi muda. Mereka berharap, ke depan, event-event marawis di Provinsi Banten semakin ramai, lebih terorganisir, dan mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak.

“Marawis itu bukan hanya seni, tapi juga ibadah. Lewat marawis, kami ingin mengajak masyarakat untuk mencintai sholawat dan menjadikan musik Islami bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Yusuf, salah satu anggota Zauzat Al Hind, dengan penuh semangat.

Tak berhenti di situ, mereka juga bercita-cita bisa tampil di tingkat nasional, bahkan internasional, untuk memperkenalkan marawis ke dunia. Dengan latihan rutin, kekompakan tim, dan niat tulus berdakwah lewat seni, impian itu bukan hal yang mustahil.

Setiap latihan menjadi momen kebersamaan. Mereka saling mengingatkan, berbagi ilmu, dan memperbaiki kekurangan agar bisa tampil lebih baik di kesempatan berikutnya. Suasana latihan mereka di Cikulur selalu hangat, penuh canda, namun tetap disiplin dan berfokus pada tujuan bersama.

Selain sebagai kelompok seni, Zauzat Al Hind juga menjadi ruang bagi para pemuda untuk tumbuh dalam lingkungan positif. Mereka membuktikan bahwa kesenian Islami bukan hal kuno, justru relevan di tengah zaman yang serba digital dan modern.

“Anak muda sekarang perlu wadah positif, dan marawis bisa jadi salah satu jalannya. Di sini kami belajar disiplin, kerja sama, dan tentu saja memperkuat iman,” tuturnya.

Untuk diketahui, grup Zauzat Al Hind terdiri dari 11 orang anggota, yakni Aikal, Yusuf, Rizki, Fahmi, Apan, Doni, Najwar, Ziltan, Adit, Bian, dan Firman.

Aikal, Yusuf, dan Rizki berperan sebagai pemain darbuka, Fahmi sebagai vokalis utama, Najwar sebagai pemain hajir, Bian sebagai pemain markis, sementara Ziltan, Adit, Firman, Apan, dan Doni memainkan alat koprak (kepak). Kombinasi peran ini membuat penampilan mereka selalu solid dan penuh harmoni.

Zauzat Al Hind menjadi inspirasi bagi banyak komunitas marawis di Banten, terutama di wilayah pedesaan, bahwa seni Islam bisa menjadi alat dakwah yang menyenangkan. Dengan irama yang dinamis dan lirik yang menyentuh hati, mereka membawa pesan kedamaian dan cinta Rasulullah SAW ke setiap panggung yang mereka tapaki.

Bagi Zauzat Al Hind, perjalanan ini masih panjang. Tapi satu hal yang pasti selama masih ada semangat, sholawat, dan cinta kepada Rasulullah, mereka akan terus menabuh rebana, menyebarkan kedamaian melalui irama, dan menyalakan cahaya marawis dari Cikulur, Lebak, untuk Banten dan Indonesia.

Mereka juga berharap, semoga Pemerintah Provinsi Banten semakin membuka mata terhadap potensi besar kesenian Islami, seperti marawis, hadroh, dan qasidah. Karena di balik setiap tabuhan rebana, ada semangat dakwah, cinta budaya, dan kebersamaan yang mampu memperkuat jati diri masyarakat Banten sebagai daerah yang religius dan berbudaya.

Leave A Reply

Exit mobile version