BANTENCORNER.COM – Sebanyak 15.960 keluarga di wilayah Kota Serang masuk dalam kategori beresiko stunting. Faktor utamanya adalah minimnya pengetahuan orang tua terhadap asupan gizi kepada sang buah hati.

Informasi ini terungkap dalam rapat koordinasi percepatan, pencegahan, dan penurunan stunting (P3S) tingkat Kota Serang, yang digelar Hotel Wisata Baru, Selasa, 28 Oktober 2025.

Demi menurunkan angka stunting di daerahnya, Wali Kota Serang Budi Rustandi mengatakan pihaknya telah memprioritaskan pemberian bantuan sosial berupa bahan sembako bagi keluarga beresiko stunting.

Selanjutnya, mereka juga akan diberikan pemahaman terkait bagaimana menjaga asupan gizi dengan baik kepada anaknya.

“Ya atensinya sudah jelas lah untuk mereka menjaga gizi mereka dengan cara diberikam protein, susu dan lain lain. Makanya kita nanti genjot semua,” ujar Budi.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Serang, Anthon Gunawan menyebut bahwa angka stunting di wilayahnya ada sekitar 600-an.

“Tapi yang kita hadirkan hari ini itu keluarga resiko stunting. Mulai dari kehamilan, menyusui, sampai anak usia dua tahun,” ujarnya.

Sedangkan, hasil pendataan keluarga (PK) tahun 2024 yang dirilis Januari 2025 tercatat sebanyak 15.960 keluarga di Kota Serang beresiko mengalami stunting.

Namun, angka ini terbilang turun ketimbang data di tahun sebelumnya yang mencapai 24.000 keluarga beresiko stunting.

“Tahun sebelumnya ada di 24.000 an. Sekarang turun di angka 15.000 an. Mudah-mudahan (2025) turun lagi karena fasilitas air bersih semakin banyak pemasangan,” kata Anthon.

“Untuk tahun ini belum, nanti bulan Desember 2025. PK nya sudah dilakukan tapi nanti dirilis di awal Januari 2026,” imbuhnya.

Anthon menyebut, wilayah yang paling banyak beresiko stunting itu berada di Kecamatan Kasemen. Daerah tersebut merupakan salah satu wilayah yang minim tersedianya air bersih.

“Kemudian, dulu pernah dibangun satu juta WC se-Indonesia tetapi tidak dimanfaatkan. Gak tahu sekarang kondisinya, mungkin perlu edukasi lebih lanjut,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa keluarga stunting adalah mereka yang tidak mengikuti arahan pemerintah dalam melakukan pencegahan stunting.

“Contoh akses air bersih mereka tidak punya, terus BAB (Buang Air Besar) masih di tempat sembarang. Itu termasuk keluarga beresiko stunting,” sebut Anthon.

Meski demikian, Pemerintah Kota Serang terus berupaya melakukan penanganan kepada masyarakat agar mereka yang berstatus keluarga resiko stunting tidak menjadi keluarga stunting.

“Kita datang ke masyarakat atau pun kita mengundang seperti kegiatan hari ini. Jadi biar pola hidupnya, pola makannya dan lain-lain tetap terjaga,” ucap Anthon.

Selain pemberian asupan gizi, lanjut Anthon, upaya lainnya yaitu dengan cara memberikan edukasi secara langsung kepada masyarakat.

“Kita juga datang ke calon pengantin, mereka kan dikasih bimbingan di KUA, nah kita masuk di sana. Jangan sampai sebelum usia 20 tahun, mereka melakukan pernikahan, karena reproduksi si wanitanya kurang siap,” ujarnya.

Anthon menyebutkan kendala yang sering dihadapi saat melakukan sosialisasi stunting di lapangan adalah merubah kebiasaan buruk masyarakat.

“Pola asuh, kebiasaan bagaimana memberikan asupan gizi kepada anak. Mungkin faktor ekonomi jadi apa aja yang membuat si bayi masuk, tidak dipertimbangkan gizinya. Makanya kita pernah punya program nol kepiting. Itu untuk asupan gizi mereka,” pungkasnya.

Leave A Reply

Exit mobile version