BANTENCORNER.COM – Ketua Umum Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Peduli Banten sekaligus Aktivis Gandasari, Erick Ferdyan, melontarkan kecaman keras terhadap pelaksanaan proyek galian pipa yang dikerjakan oleh Perumda Tirta Benteng. Pengerjaan dinilai sangat buruk, membahayakan keselamatan, serta merugikan masyarakat luas. 

Menurut pengamatan di lapangan, proyek tersebut meninggalkan sejumlah masalah serius. Bekas galian dibiarkan terbuka tanpa penutupan yang layak, permukaan jalan lingkungan menjadi rusak parah, serta minimnya pemasangan alat keselamatan atau rambu pengaman bagi warga sekitar.

“Ini bukan lagi soal teknis, ini adalah bentuk kelalaian yang nyata. Warga dipaksa hidup dengan risiko akibat proyek yang dikerjakan secara sembrono,” tegas Erick Ferdyan. 

Kondisi tersebut juga dibenarkan oleh warga di lokasi, khususnya di Jalan AMD, Kelurahan Gandasari, Kecamatan Jatiuwung. Warga mengeluhkan jalan yang sebelumnya mulus dan baik kini berubah menjadi rusak, bergelombang, dan penuh lubang. Kondisi ini sangat membahayakan pengendara sepeda motor maupun mobil yang melintas.

Erick menegaskan, permasalahan ini sudah masuk kategori pembiaran yang membahayakan nyawa, bukan sekadar keluhan biasa. Jalan yang dirusak lalu ditinggalkan tanpa perbaikan maksimal menunjukkan ketidakpedulian pihak penyelenggara terhadap keselamatan publik.

Lemahnya sistem pengawasan terhadap kontraktor pelaksana dinilai sebagai akar dari semua masalah ini. Tanpa kontrol yang ketat, kualitas pengerjaan menjadi buruk dan masyarakatlah yang akhirnya menanggung beban kerugian.

“Ketika pengawasan lemah, maka yang dikorbankan adalah masyarakat. Ini kegagalan yang tidak bisa ditutup-tutupi,” ujarnya.

Sebagai bentuk tanggapan serius, pihaknya memastikan akan segera menggelar aksi demonstrasi. Langkah ini diambil agar pihak terkait segera bertindak dan tidak menganggap remeh keluhan warga.

“Kami tidak akan diam. Dalam waktu dekat, kami akan turun ke jalan. Ini adalah peringatan keras bahwa masyarakat tidak bisa terus dijadikan korban dari proyek yang tidak bertanggung jawab,” ucap Erick.

Ada lima tuntutan utama yang akan diajukan dalam aksi tersebut, meliputi perbaikan total dan menyeluruh tanpa penundaan, pertanggungjawaban penuh dari pelaksana proyek, evaluasi total terhadap kinerja kontraktor dan pengawas, jaminan keselamatan bagi seluruh warga terdampak, serta transparansi anggaran dan pelaksanaan proyek.

Selain simbolik, aksi ini juga awal dari tekanan yang akan terus diperbesar jika tidak ada respons konkret. Jika tuntutan tidak dipenuhi, pihaknya akan mengkonsolidasikan kekuatan masyarakat dalam skala yang lebih luas.

“Jika tidak ada tindakan nyata, kami akan konsolidasikan kekuatan masyarakat dalam skala yang lebih besar. Jangan uji kesabaran warga,” pungkasnya.

Pihaknya menegaskan, pembangunan yang mengabaikan keselamatan masyarakat adalah bentuk ketidakadilan yang harus dilawan dan tidak boleh dibiarkan terus terjadi.***

Leave A Reply

Exit mobile version