BANTENCORNER.COM – Perundungan merupakan salah satu masalah yang kerap terjadi di lingkungan sosial masyarakat, bahkan tidak menutup kemungkinan juga dijumpai di lingkungan keluarga. Kita sering mendengar berbagai kasus serupa, mulai dari perkataan yang menghina, merendahkan, tindakan fisik, pelecehan, pencemaran nama baik, hingga bentuk-bentuk tindakan lainnya. Fenomena ini sering dianggap hal biasa, diabaikan begitu saja, dan baru disebarluaskan setelah tersebar di media sosial. Padahal, setiap peristiwa itu membawa dampak, baik bagi pelaku maupun bagi korbannya.
Luka fisik akibat perundungan memang dapat terlihat dengan jelas. Namun, dampak terhadap kondisi psikis sering kali tidak terlihat secara langsung. Banyak korban tampak seperti biasa saja, padahal belum tentu demikian. Tidak sedikit di antara mereka yang menderita dalam waktu yang lama, karena kejadian tersebut tersimpan dan terekam jelas dalam ingatan. Setiap kali hal itu teringat kembali, muncul berbagai perasaan seperti marah, benci, kecewa, dan sedih yang dapat menekan jiwa serta pikiran. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa berakibat sangat fatal bagi diri mereka sendiri.
Menyadari hal tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 25 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) yang melaksanakan pengabdian di Desa Singamerta turut memberikan edukasi kepada siswa SDN Priuk, Kabupaten Serang pada Jum’at, 07 Agustus 2026 mengenai pentingnya menghentikan tindakan perundungan di lingkungan sekolah.

Kegiatan bertema “Stop Anti Bullying” ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya mahasiswa KKM Kelompok 25 untuk menumbuhkan kesadaran siswa agar saling menghargai, menjaga perasaan teman, serta bersama-sama menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan diarahkan pada perilaku sederhana yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penyampaiannya, mahasiswa mengajak siswa memahami bahwa perundungan tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga berupa ejekan, penghinaan, pengucilan, ancaman, maupun perlakuan lain yang membuat teman merasa takut, sedih, atau tidak nyaman. Para siswa juga didorong untuk berani berkata “tidak” terhadap perundungan serta berani melapor kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya apabila mengalami atau melihat tindakan tersebut.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya membangun hubungan pertemanan yang positif. Siswa diajak untuk saling membantu, menghargai perbedaan, tidak mengejek kekurangan teman, serta bersedia menjadi pendukung ketika ada siswa lain yang mengalami kesulitan.
SDN Priuk berlokasi di Kampung Priuk, Desa Singamerta, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM Kelompok 25 Singamerta berharap pesan tentang saling menghormati dan menjaga sesama dapat terus dijalankan oleh para siswa. Edukasi ini diharapkan menjadi langkah kecil yang berdampak besar dalam membangun lingkungan sekolah yang ramah anak, aman, dan mendukung perkembangan setiap siswa. ***