Bantencorner.com Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk urusan negara, Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Anton Sukartono Suratto, membuktikan bahwa hati wakil rakyat tetap berdetak seirama dengan warga. Melalui unggahan di akun Instagram resmi @Antoncommandcenter, momen menyentuh terekam jelas: beliau tidak berdiri di atas panggung, melainkan memegang kuas cat dan sekop tanah, bekerja bahu-membahu dengan warga.

Jembatan gantung yang menghubungkan wilayah Benteng hingga Rancabungur selama ini menjadi nadi perjalanan warga. Namun cat yang mengelupas dan tampilan yang kusam kerap membuat hati was-was setiap kali melintas. Kini, jembatan itu tampak berkilau cerah, seolah tersenyum kembali menyambut siapa pun yang lewat. Warna baru bukan sekadar hiasan, melainkan tanda bahwa perhatian nyata mampu mengubah sesuatu yang terabaikan menjadi penuh harapan.

Di sela-sela menyelesaikan pengecatan, Anton pun memimpin gerakan menanam 1.000 bibit pohon di bantaran sungai dan jalur akses sekitar. Gerakan ini bukan sekadar menanam kayu, melainkan menanam masa depan: agar tanah tetap subur, air tetap terjaga, dan udara tetap sejuk untuk anak cucu kelak.

“Kesejahteraan rakyat tidak hanya tertulis di undang-undang atau disampaikan dalam pidato. Ia ada di jembatan yang aman dilalui, di lingkungan yang asri, dan di rasa aman yang dirasakan setiap hari,” ujar Anton dengan tulus, Minggu (9/8/2026)

Rasa haru dan syukur membuncah di hati warga. Suryana yang setiap hari melintas di jembatan itu menahan senyum haru.

“Sudah lama kami mengkhawatirkan jembatan ini. Tak pernah kami sangka ada wakil rakyat yang rela berkotor-kotor demi kami. Terima kasih, Bapak benar-benar hadir untuk kami,” ucap Suryana.

Ratna, yang tinggal tak jauh dari lokasi, menatap barisan bibit pohon dengan penuh harap. Pohon-pohon ini akan tumbuh besar dan menjaga tempat kami tinggal. Ini bukan sekadar tanaman, tapi kepedulian yang akan kami jaga bersama.

“Banyak yang hanya datang berjanji, tapi Bapak Anton datang untuk bekerja. Semoga semangat ini menular ke kami semua.” ujarnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa kehadiran pemimpin bukan diukur dari jabatan yang disandang, melainkan dari seberapa dekat ia merasakan harap dan cemas rakyatnya. Langkah kecil yang dilakukan bersama ternyata mampu menyentuh hati lebih dalam dari segala perkataan manis.

Leave A Reply

Exit mobile version