BANTENCORNER.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Bina Bangsa (UNIBA) Kelompok 79 menggelar edukasi pencegahan stunting sekaligus sosialisasi pemanfaatan minuman herbal daun sirsak di Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak pada Rabu, 12 Agustus2026.

Kegiatan yang merupakan program kerja Bidang 4: Lingkungan Hidup, Ketahanan Pangan, dan Kesehatan Masyarakat itu berlangsung di rumah kader Posyandu, RT 10/RW 04, Desa Sukadaya, mulai pukul 09.38 hingga 14.46 WIB. Sebanyak 43 peserta hadir, terdiri atas ibu-ibu, ibu hamil, ibu menyusui, dan warga sekitar, didampingi lima kader Posyandu.

Materi pencegahan stunting disampaikan Siti Rafika Azzahra dengan pendampingan Bidan Yeni. Materi meliputi pengertian stunting, faktor penyebab dan risikonya, pemenuhan gizi, ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI), kebersihan dan sanitasi, hingga pemantauan tumbuh kembang anak melalui Posyandu. Kegiatan ini juga diisi penimbangan balita sebagai bagian dari pemantauan pertumbuhan anak.

Koordinator Bidang 4, Siti Robi’atul Fitriah, mengatakan isu stunting dipilih karena pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. “Pencegahan stunting dimulai dari keluarga. Penuhi gizi anak, berikan ASI dan MPASI yang sesuai, jaga kebersihan, pantau tumbuh kembang secara rutin, dan gunakan tanaman herbal secara bijak,” katanya.

Setelah edukasi stunting, peserta mendapat sosialisasi pemanfaatan daun sirsak sebagai minuman herbal, disampaikan Siti Robi’atul Fitriah, mahasiswa Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan UNIBA, dengan pendampingan Bidan Yeni. Mahasiswa juga mendemonstrasikan cara pembuatan minuman herbal tersebut: sekitar 10 gram daun sirsak dicuci lalu direbus dengan 300 mililiter air selama sekitar 15 menit hingga tersisa sekitar 150 mililiter, kemudian disaring sebelum disajikan.

Siti menegaskan pengenalan daun sirsak dalam kegiatan itu bukan sebagai upaya pencegahan atau pengobatan stunting, melainkan pengetahuan tambahan mengenai pemanfaatan tanaman yang tersedia di lingkungan masyarakat. “Minuman herbal daun sirsak bukan pengganti obat atau pengobatan medis. Penggunaannya hanya sebagai pendamping, dan masyarakat tetap dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” ujarnya. Ia menambahkan, mahasiswa tidak menganjurkan konsumsi minuman herbal itu kepada ibu hamil, ibu menyusui, maupun ibu yang membawa balita tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.

Salah satu kader Posyandu, Nina, menilai edukasi stunting masih diperlukan karena belum semua warga memahami cara pencegahannya secara menyeluruh. “Sebagian sudah mengetahui, tetapi masih banyak yang belum memahami secara lengkap, terutama mengenai cara pencegahan dan pentingnya pola makan serta gizi untuk anak,” katanya. Ia berharap kegiatan edukasi serupa dapat terus digelar. “Semoga mahasiswa KKM terus memberikan edukasi yang bermanfaat kepada masyarakat, dan ilmu yang sudah diberikan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dua peserta, Mulyati dan Nurmala, mengaku mendapat pengetahuan tambahan dari kegiatan tersebut. Mulyati menilai materi pencegahan stunting penting bagi orang tua karena berkaitan dengan pola makan dan pemantauan tumbuh kembang anak. Sementara itu, Nurmala mengatakan demonstrasi pengolahan daun sirsak membuat materi herbal lebih mudah dipahami, meski ia memahami penggunaannya tetap harus bijak dan tidak menggantikan pelayanan kesehatan.

Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab dan demonstrasi pengolahan minuman herbal. Mahasiswa KKM berharap pengetahuan mengenai pencegahan stunting dapat diterapkan masyarakat, terutama dalam pemenuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak melalui Posyandu. ***

Leave A Reply

Exit mobile version