BANTENCORNER.COM – Di tengah deru pembangunan Kota Serang, ada satu titik kecil di Karang Asem, Taktakan, yang memilih membangun dengan cara berbeda. Bukan dengan semen dan baja, tapi dengan buku dan cerita.Di sanalah Taman Baca Masyarakat Titik Literasi menggelar kegiatan “Jelajah Literasi, Mission Literasi! Cari Cerita, Temukan Inspirasi” pada Sabtu (23/8/2026).

Puluhan anak duduk melingkar di lantai. Di depan mereka bukan papan tulis, tapi tumpukan buku dan rasa ingin tahu. Dari Membaca ke Berpikir Kegiatan ini dibuka Founder TBM Titik Literasi, Wawan Gunawan. Ia menegaskan literasi bukan sekadar bisa mengeja.

Salah Satu Peserta Kegiatan bersama Narasumber

“Literasi adalah kunci. Kunci untuk membuka wawasan dan membangun generasi yang berpikir kritis, kreatif, dan berani menyampaikan gagasan,” ujar Wawan.

Bagi Wawan, ruang baca harus jadi rumah kedua. Tempat anak-anak tidak takut salah, tidak takut bertanya, dan tidak takut bermimpi. Semangat itu kemudian diperkuat pemateri pertama, Aip Rochadi peraih Award Literasi Kepustakaan Islam 2024 dari Kemenag RI. Sosok yang akrab disapa Bang Aip ini mengajak anak-anak melihat buku sebagai pintu.

“Setiap buku memiliki cerita dan setiap cerita memiliki pelajaran,” katanya.

Lebih dari itu, Aip menekankan pentingnya membaca dengan rasa ingin tahu.

“Ketika kita membaca dengan rasa ingin tahu, kita bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi juga menemukan sudut pandang dan inspirasi baru,” jelasnya.

Tidak Berhenti di Membaca Sesi kedua menghadirkan Imam Tantowi, Tenaga Ahli Bidang Komunikasi PT ASDP sekaligus jurnalis di Kota Serang. yang mendorong anak-anak naik satu tangga lagi. Dari pembaca menjadi pencipta.

Imam mengajak peserta tidak berhenti pada aktivitas membaca. Mereka juga harus berani mengolah hasil bacaan menjadi gagasan, karya, atau cerita yang bisa dibagikan.Anak-anak pun diberi ruang diskusi. Mereka bertanya, berdebat kecil, dan berbagi buku apa yang paling membekas. Suasana yang awalnya kaku berubah hidup.

“Literasi yang sejati adalah ketika kita berani bersuara setelah membaca,” kata Imam.

Ruang Baca sebagai Jalan Masa DepanMelalui “Jelajah Literasi, Mission Literasi”, TBM Titik Literasi ingin menegaskan satu hal: literasi tidak boleh jadi kegiatan sesaat menjelang lomba 17an. Ia harus jadi kebiasaan. Jadi budaya. Jadi jalan.

“Harapan kami, dari ruang kecil ini lahir anak-anak yang gemar membaca, berpikir kritis, kreatif, dan mampu mengambil inspirasi dari setiap pengalaman,” kata Wawan menutup kegiatan.

Sebelum pulang, satu kalimat ditempel di pintu: “Cari ceritanya. Temukan inspirasinya. Jadikan literasi perjalanan menuju masa depan.”Beberapa anak masih sempat meminjam buku. Dibawa pulang. Misi hari ini selesai. Tapi petualangan mereka baru dimulai.

Leave A Reply

Exit mobile version