BantenCorner– Pengusaha Penggilingan Padi di Banten meminta Perum Bulog dan PT Wilmar supaya menyerap beras yang dihasilkan petani pada panen raya.
Ketua komunitas penggilingan padi H Sunardi mengatakan, pihaknya sangat terdampak bahkan merugi karena harga turun drastis di masa panen raya ini.
“Kendala kita disini untuk pemasaran beras hasil produksi penggilingan padi kecil ini sangat tersendat. Karena harga di pasar-pasar tradisional cenderung menurun drastis, tidak seimbang dengan harga padi,” ujar Sunardi kepada awak media di Serang, Jumat (29/3/2024).
Sunardi memaparkan, kesulitan para komunitas pengusaha penggilingan padi kecil saat ini terjadi karena harga padi dan beras tidak stabil.
Dia berujar, harga pembelian untuk gabah kering di tingkah petani saat ini berkisar antara Rp6.000. Sementara, harga beras dipasaran turun jadi berkisar Rp11.000, sehingga penguasaha penggilingan merugi lantaran harga tidak sesuai.
“Kita ingin dikisaran harga padi sekarang ini Rp6.000 sampai Rp6200 bisa ditampung atau diterima beras sekitar dari Rp12.000 sampai Rp12.500 itu baru bisa jalan usaha kita. Karena kalkulasi penggilingan padi kita kalau misalkan padi Rp6.000 otomatis berasnya harus 12.000,” katanya.
Oleh karena itu, dia meminta pemerintah untuk mengintervensi Bulog agar menyerap padi dari petani di Banten.
“Kami mohon agar pemerintah dalam hal ini bulog ikut hadir untuk bisa menyerap hasil produk penggilingan padi kecil kita supaya kita bisa tetap beroperasi,” ungkap dia.
Tak cuma Bulog, para pengusaha penggilingan padi juga meminta pemerintah untuk mengintervensi PT Wilmar agar menyerap beras petani.
“Disini kan ada PT Wilmar, kami mohon dari pihak Wilmar bisa membantu dalam penerapan beras sehingga hasil beras kita bisa diterima dengan baik agar kita tetap bisa berproduksi setiap hari,” tandasnya.







