BANTENCORNER.COM – Peran Banten dalam sejarah perjuangan melawan penjajah sangat signifikan, terutama karena wilayah ini merupakan salah satu pusat kekuatan ekonomi dan politik pada masa Kesultanan Banten. Banten memainkan peran besar dalam perlawanan terhadap penjajah sejak abad ke-16 hingga awal abad ke-20. Dalam sejarah, Banten bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, tetapi juga sebagai daerah yang kerap kali menjadi simbol perlawanan terhadap kekuatan kolonial, terutama Belanda.
Awal Perlawanan Banten terhadap VOC
Sejak didirikannya Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati pada abad ke-16, Banten sudah dikenal sebagai pusat perdagangan internasional, terutama perdagangan lada. Pelabuhan Banten menarik perhatian berbagai bangsa, termasuk Eropa dan Asia. Pada masa Sultan Maulana Hasanuddin dan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten berkembang pesat dan menjadi salah satu kesultanan yang paling berpengaruh di Nusantara. Namun, kejayaan ini juga membuat Banten menjadi incaran kekuatan asing, terutama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), perusahaan dagang Belanda yang berusaha menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di Indonesia.
Pada tahun 1600-an, VOC mulai mencoba menanamkan pengaruhnya di Banten, dengan tujuan menguasai perdagangan dan mengurangi peran pelabuhan Banten yang strategis. Upaya VOC untuk menguasai Banten tidak berlangsung mudah. Sultan Ageng Tirtayasa, salah satu pemimpin yang terkenal dalam sejarah Banten, adalah tokoh utama yang menentang VOC. Ia melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan kedaulatan Banten, termasuk membangun aliansi dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.
Konflik antara Banten dan VOC mencapai puncaknya pada tahun 1670-an. Sultan Ageng Tirtayasa memimpin serangkaian pertempuran melawan VOC, dengan dukungan rakyat dan para ulama. Namun, VOC tidak tinggal diam. Melalui taktik diplomasi dan infiltrasi, mereka berhasil memecah belah Kesultanan Banten dengan mendukung putra Sultan Ageng, yaitu Sultan Haji, yang berkhianat dan bersekutu dengan VOC. Pengkhianatan ini menyebabkan jatuhnya Sultan Ageng Tirtayasa dan melemahnya perlawanan Banten. Walaupun demikian, semangat perlawanan rakyat Banten tidak padam.
Geger Cilegon 1888: Perlawanan Banten yang Menginspirasi
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah perlawanan Banten adalah Geger Cilegon pada tahun 1888. Peristiwa ini dipimpin oleh K.H. Wasyid, seorang ulama dan pemimpin lokal yang berani. Latar belakang perlawanan ini berakar pada penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda, termasuk pemberlakuan pajak yang berat dan diskriminasi terhadap umat Islam.
K.H. Wasyid, bersama dengan ulama-ulama dan para jawara lainnya, merencanakan pemberontakan besar-besaran untuk menggulingkan kekuasaan kolonial di Banten. Perlawanan ini tidak hanya didorong oleh alasan ekonomi, tetapi juga oleh semangat keagamaan. Bagi K.H. Wasyid dan para pengikutnya, penjajahan adalah bentuk penindasan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka menganggap perjuangan melawan Belanda sebagai jihad, suatu kewajiban agama untuk membela hak-hak rakyat dan menegakkan keadilan ( Mimbar Sejarah,Sastra,Budaya, dan Agama – Vol. XXIII No.1, Januari 2017).
Perlawanan ini mencapai puncaknya pada tanggal 9 Juli 1888, ketika K.H. Wasyid dan pasukannya menyerang pos-pos militer Belanda di Cilegon. Meskipun perlawanan ini berhasil mengguncang pemerintahan kolonial, namun akhirnya berhasil dipadamkan oleh pasukan Belanda yang lebih kuat dan lebih terorganisir. K.H. Wasyid ditangkap dan dieksekusi, namun perjuangannya menginspirasi perlawanan rakyat Banten di masa-masa berikutnya.
Peran Ulama dan Jawara dalam Perlawanan
Salah satu karakteristik unik dari perlawanan di Banten adalah keterlibatan ulama dan jawara dalam perjuangan melawan penjajah. Ulama di Banten tidak hanya berperan sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai pemimpin gerakan perlawanan. Mereka menggunakan pengaruhnya di masyarakat untuk memobilisasi rakyat melawan penjajah. Misalnya, K.H. Wasyid merupakan seorang ulama yang dihormati di Banten, dan ia berhasil mengajak banyak pengikutnya untuk berjuang bersama melawan Belanda.
Selain itu, peran jawara—tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki keahlian bela diri dan kekuatan fisik—juga sangat penting dalam perlawanan di Banten. Jawara sering kali menjadi garda depan dalam pertempuran melawan penjajah, dan keberanian serta ketangguhan mereka menjadi simbol perlawanan yang tak kenal menyerah.
Pengaruh Perlawanan Banten di Kancah Nasional
Perlawanan rakyat Banten terhadap penjajah memiliki pengaruh yang signifikan dalam sejarah perjuangan nasional Indonesia. Semangat perjuangan yang ditunjukkan oleh para sultan, ulama, dan jawara Banten menjadi inspirasi bagi wilayah-wilayah lain di Nusantara. Perlawanan ini menunjukkan bahwa meskipun kekuatan militer dan teknologi penjajah jauh lebih unggul, semangat kebersamaan, persatuan, dan keyakinan religius dapat menjadi kekuatan yang luar biasa.
Selain itu, perjuangan rakyat Banten juga memberikan pelajaran penting tentang pentingnya persatuan dalam menghadapi penjajah. Ketika Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mempersatukan kekuatan lokal melawan VOC, perlawanan Banten mampu memberikan perlawanan yang berarti. Namun, ketika persatuan itu runtuh akibat pengkhianatan dari dalam, kekuatan perlawanan melemah. Ini menjadi salah satu pelajaran penting bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia di kemudian hari.***







