BantenCorner – Perang antara Kesultanan Banten dan Batavia yang dipimpin oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) adalah salah satu episode penting dalam sejarah perlawanan lokal di Nusantara terhadap kolonialisme. Konflik ini bukan sekadar pertempuran militer, tetapi mencerminkan dinamika politik, ekonomi, dan sosial di wilayah Jawa pada abad ke-17. Pertempuran ini juga menandai upaya pertama Kesultanan Banten untuk mempertahankan kedaulatannya dari pengaruh VOC yang semakin kuat. Artikel ini akan membahas latar belakang, perkembangan, dan dampak Perang Banten-Batavia terhadap kekuasaan VOC dan Kesultanan Banten, serta bagaimana peristiwa ini relevan bagi kajian sejarah kolonialisme di Indonesia.
VOC pertama kali tiba di perairan Nusantara pada awal abad ke-17 dengan tujuan utama mengontrol perdagangan rempah-rempah. Batavia, yang didirikan oleh VOC pada tahun 1619, menjadi pusat administrasi dan perdagangan kolonial di wilayah tersebut. Posisi Batavia sangat strategis karena terletak di pesisir utara Jawa, memungkinkan VOC untuk mengontrol jalur perdagangan antara Barat dan Timur. Pada saat yang sama, Kesultanan Banten, yang sudah menjadi kekuatan maritim dominan di Jawa Barat sejak abad ke-16, melihat VOC sebagai ancaman terhadap hegemoni ekonominya di wilayah Selat Sunda.
Kesultanan Banten saat itu dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa (berkuasa pada 1651–1683), yang dikenal sebagai penguasa yang gigih mempertahankan kedaulatan politik dan ekonomi kerajaannya. Sultan Ageng sangat menyadari bahwa kehadiran VOC di Batavia akan merusak pengaruh Banten di Selat Sunda dan mengganggu perdagangan lokal serta internasional yang selama ini dikuasai oleh Kesultanan Banten. Pada saat yang sama, Banten berperan penting sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, seperti lada, yang menjadi komoditas utama perdagangan internasional pada masa itu.
Tensi antara Banten dan VOC terus meningkat seiring dengan upaya VOC untuk memperluas pengaruhnya. VOC seringkali menggunakan taktik politik pecah-belah (divide et impera) dengan menjalin hubungan baik dengan lawan politik Sultan Ageng, termasuk dengan putra Sultan sendiri, yaitu Sultan Haji. Keadaan ini menambah rumit hubungan internal di Kesultanan Banten.
Puncak konflik antara Banten dan VOC terjadi pada tahun 1680-an, ketika Sultan Ageng mulai melancarkan perlawanan langsung terhadap kekuatan kolonial. Perang ini terjadi dalam beberapa tahap dan mencerminkan upaya Sultan Ageng untuk membendung pengaruh VOC di wilayah Banten dan sekitarnya.
Pada tahun 1677, Sultan Ageng memutuskan untuk memperkuat posisi militer dan politik Banten dengan membangun aliansi regional dan memperkuat pertahanan lautnya. Sultan menyadari bahwa VOC telah memperkuat posisinya di Batavia dan berusaha memperluas pengaruhnya ke wilayah Banten melalui perdagangan yang tidak adil dan penguasaan wilayah-wilayah strategis. Sultan Ageng juga menolak untuk menandatangani perjanjian-perjanjian dagang yang merugikan kesultanan, yang diajukan oleh VOC dengan tujuan memonopoli perdagangan lada di wilayah tersebut.
Pada tahun 1680, pertempuran terbuka antara pasukan Banten dan VOC dimulai. VOC yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Cornelis Speelman pada waktu itu, memanfaatkan konflik internal di Kesultanan Banten, khususnya hubungan yang semakin memburuk antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji. Sultan Haji, yang tidak setuju dengan kebijakan anti-VOC ayahnya, memilih untuk menjalin hubungan diplomatik dengan VOC, yang menjanjikannya dukungan politik untuk menjadi sultan menggantikan Sultan Ageng.
Sultan Haji kemudian memberontak terhadap ayahnya dengan dukungan penuh dari VOC. Ini menjadi pukulan besar bagi Kesultanan Banten, karena VOC berhasil memanfaatkan perpecahan internal dalam keluarga kerajaan untuk memperlemah perlawanan Sultan Ageng. Pada 1682, Sultan Ageng dipaksa mundur setelah pasukan gabungan Sultan Haji dan VOC menyerang Banten. Sultan Ageng akhirnya ditangkap dan diasingkan oleh VOC.
Dampak Perang Banten-Batavia
Perang Banten-Batavia memiliki dampak yang sangat signifikan, baik bagi Kesultanan Banten maupun bagi kekuasaan VOC di Jawa.
Dampak Bagi Kesultanan Banten
- Kemunduran Kesultanan Banten- Perang ini menyebabkan kemunduran besar bagi Kesultanan Banten. Dengan jatuhnya Sultan Ageng Tirtayasa, Banten kehilangan pemimpin yang kuat yang mampu menentang dominasi VOC. Sultan Haji, yang kemudian naik takhta dengan dukungan VOC, pada dasarnya menjadi penguasa boneka yang tunduk pada kepentingan kolonial. Peran Banten sebagai kekuatan maritim dan pusat perdagangan lada secara bertahap menurun, karena VOC semakin memperkuat kendali atas perdagangan di wilayah tersebut.
- Perpecahan Internal – Konflik antara Sultan Ageng dan Sultan Haji menunjukkan kelemahan internal dalam Kesultanan Banten yang dimanfaatkan oleh kekuatan asing. Perpecahan di dalam keluarga kerajaan menciptakan ketidakstabilan politik yang pada akhirnya melemahkan kemampuan Banten untuk mempertahankan kedaulatannya. Kesultanan Banten secara bertahap kehilangan kekuatan militer dan politiknya, sehingga berakhir sebagai kerajaan kecil di bawah kendali VOC.
Dampak Bagi VOC
- Penguatan Dominasi VOC di Jawa – Perang Banten-Batavia menandai penguatan dominasi VOC di Jawa Barat. Dengan menempatkan Sultan Haji sebagai penguasa yang loyal kepada VOC, perusahaan dagang Belanda ini berhasil memastikan monopoli perdagangan di wilayah tersebut, terutama dalam komoditas lada yang sangat menguntungkan. Banten, yang sebelumnya menjadi pesaing dagang utama di wilayah Jawa bagian barat, kini sepenuhnya berada di bawah kendali VOC.
- Ekspansi Kekuasaan di Nusantara – Kemenangan VOC dalam perang ini memperluas pengaruhnya tidak hanya di Jawa, tetapi juga di wilayah-wilayah lain di Nusantara. Kemenangan ini memberikan VOC kesempatan untuk memperkuat kedudukan mereka dalam perdagangan internasional dan meningkatkan kemampuan mereka untuk mengendalikan jalur perdagangan strategis di Selat Sunda.
Analisis Perang Banten-Batavia dalam Konteks Kolonialisme
Perang Banten-Batavia bukan hanya merupakan konflik militer, tetapi juga bagian dari dinamika besar kolonialisme di Nusantara. VOC, sebagai perusahaan dagang yang beroperasi dengan kekuatan militer, sering kali menggunakan taktik diplomasi dan perang untuk menguasai wilayah-wilayah strategis. Dalam kasus Banten, VOC memanfaatkan perpecahan internal dalam keluarga kerajaan untuk mencapai tujuannya, sebuah taktik yang dikenal sebagai divide et impera.
Dalam konteks kolonialisme, perang ini mencerminkan bagaimana kekuatan kolonial seringkali memanfaatkan kelemahan internal di wilayah-wilayah yang dijajah untuk menguasai sumber daya dan perdagangan. Pada saat yang sama, perlawanan yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa menunjukkan adanya upaya kuat dari penguasa lokal untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan mereka.
Dari perspektif pasca-kolonial, Perang Banten-Batavia juga menunjukkan pentingnya memahami kolonialisme tidak hanya sebagai kekuasaan asing yang dipaksakan dari luar, tetapi juga sebagai proses interaksi kompleks antara kekuatan kolonial dan elit lokal. Dalam hal ini, kerjasama antara Sultan Haji dan VOC dapat dilihat sebagai contoh bagaimana kekuasaan kolonial dapat bertahan dengan dukungan dari aktor-aktor lokal yang diuntungkan oleh keberadaan kolonial tersebut.
Sumber Bacaan:
Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005.
Van Niel, Robert. The Emergence of the Modern Indonesian Elite. The Hague: W. van Hoeve, 1960.
Anderson, Benedict R. Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. Cornell University Press, 1990.







