Close Menu
Bantencorner.comBantencorner.com

    Berita Terbaru

    Selengkapnya

    Kuasa Hukum Tersangka Ajukan Praperadilan, Minta Kejari Ternate Tunda Pelimpahan Perkara PT ARA

    13 Agustus 2026

    Anak Buruh Serabutan, Nuriman Kini Jadi Advokat

    13 Agustus 2026

    Anton Sukartono Suratto Daftar Kembali Ketua DPD Demokrat Jabar

    13 Agustus 2026

    Tak Terima Kecelakaan Akibat Jalan Berbahaya, Mahasiswa Berencana Tuntut Pemerintah Lebak dan Dinas Terkait

    13 Agustus 2026
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • YouTube
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Bantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Bantencorner.comBantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Home»NEWS»Kisah Konflik Internal Kesultanan Banten dan Campur Tangan Belanda

    Kisah Konflik Internal Kesultanan Banten dan Campur Tangan Belanda

    Kang Fae20 April 20253 Mins Read NEWS
    Copy Link Twitter WhatsApp Facebook
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    BANTENCORNER – Kesultanan Banten, yang pernah menjadi salah satu kerajaan Islam terkuat dan paling berpengaruh di Nusantara, menyimpan banyak kisah kejayaan, tapi juga luka akibat konflik internal yang berujung pada campur tangan kekuatan asing, khususnya Belanda. Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-18, Banten mengalami pergolakan politik yang hebat, yang sayangnya dimanfaatkan oleh Belanda untuk memperkuat cengkeramannya di wilayah barat Pulau Jawa.

    Awal mula dari keretakan internal di Kesultanan Banten sebenarnya berakar dari persaingan kekuasaan di dalam keluarga kerajaan sendiri. Setelah masa kejayaan di bawah Sultan Ageng Tirtayasa, muncul konflik tajam antara sang Sultan dengan putranya sendiri, Sultan Haji.

    Sultan Ageng dikenal sebagai pemimpin yang kuat dan tegas dalam mempertahankan kedaulatan Banten dari pengaruh asing, terutama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) atau Kompeni Belanda. Ia menolak segala bentuk monopoli perdagangan yang ditawarkan VOC dan lebih memilih menjalin hubungan dagang bebas dengan berbagai bangsa, termasuk Inggris, Portugis, dan pedagang Arab serta India.

    Namun berbeda dengan ayahnya, Sultan Haji memiliki pandangan politik yang lebih lunak terhadap Belanda. Ia lebih pragmatis dan percaya bahwa bersekutu dengan VOC bisa memberikan stabilitas dan keuntungan, terutama dalam situasi di mana konflik internal dan tekanan dari luar semakin meningkat. Ketegangan pun mencapai puncaknya ketika Sultan Haji, yang kala itu ditunjuk sebagai pemangku jabatan karena Sultan Ageng mundur dari urusan pemerintahan, justru mengambil alih kekuasaan dan melakukan kerja sama lebih intens dengan Belanda.

    Sultan Ageng, yang merasa dikhianati, berusaha merebut kembali kendali atas kerajaan. Terjadilah perang saudara yang dikenal sebagai Perang Banten (1680-an). Dalam situasi ini, VOC melihat celah besar untuk ikut campur. Mereka berpihak pada Sultan Haji, yang dianggap lebih mudah diajak kerja sama, dan memberikan bantuan militer untuk mengalahkan Sultan Ageng.

    Dengan bantuan VOC, Sultan Haji akhirnya berhasil menangkap ayahnya sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa, yang kemudian dipenjara hingga wafat. Peristiwa ini tidak hanya mencerminkan luka dalam hubungan ayah-anak, tapi juga menjadi titik awal dominasi VOC secara politik di Banten. Sejak saat itu, posisi Sultan dalam Kesultanan Banten tidak lagi sepenuhnya mandiri. Semua keputusan penting, terutama dalam bidang perdagangan dan pertahanan, harus mendapat persetujuan VOC.

    Campur tangan Belanda pun semakin dalam. Mereka membatasi aktivitas pelabuhan Banten, menghancurkan benteng-benteng pertahanan, dan memaksa kerajaan untuk menghentikan hubungan dagang dengan bangsa selain Belanda. Banten yang dulunya pelabuhan internasional yang ramai dan makmur, perlahan-lahan kehilangan pengaruh dan kemakmurannya.

    Konflik internal yang seharusnya bisa diselesaikan secara bijak justru membuka jalan bagi penjajahan yang lebih dalam. Kesultanan Banten tak lagi menjadi kerajaan yang berdaulat penuh, melainkan hanya bayang-bayang kejayaannya di masa lalu. Kejatuhan Banten menjadi pelajaran penting bahwa persatuan internal sangatlah vital dalam mempertahankan kedaulatan suatu bangsa atau kerajaan.

    Sejarah mencatat bahwa pada akhirnya, Kesultanan Banten resmi dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1813. Itu pun setelah sisa-sisa kekuasaan tradisionalnya digerogoti secara perlahan selama lebih dari satu abad. Kini, kisah konflik antara Sultan Ageng dan Sultan Haji menjadi simbol bagaimana perebutan kekuasaan dan ambisi pribadi bisa mengundang campur tangan asing yang berujung pada hilangnya kedaulatan.

    Dari kisah ini, kita bisa belajar pentingnya kesatuan dan kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan pandangan. Sebab saat pemimpin sebuah negeri saling bertikai tanpa arah, musuh dari luar dengan mudah masuk dan mengambil alih segalanya.

    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Terpopuler

    MAN 2 Pandeglang Gelar Penerimaan Tamu Ambalan, Siap Cetak Generasi Pimpinan Masa Depan yang Berintegritas

    NEWS 12 Agustus 2026

    Bagikan 1.000 Bendera Merah Putih, FPK Lebak Berkomitmen Merawat Persatuan dan Kesatuan Bangsa

    9 Fraksi DPRD Kota Serang Sepakat Bahas Raperda Pariwisata, Operasional THM Bakal Diperketat

    Ketua DPRD Kota Serang: Siswa Tak Lolos SPMB Tetap Bisa Sekolah Lewat Program Gratis di Sekolah Swasta

    Tak Terima Kecelakaan Akibat Jalan Berbahaya, Mahasiswa Berencana Tuntut Pemerintah Lebak dan Dinas Terkait

    Recent Post

    Bagikan 1.000 Bendera Merah Putih, FPK Lebak Berkomitmen Merawat Persatuan dan Kesatuan Bangsa

    13 Agustus 2026

    Tanamkan Budaya Hidup Sehat Sejak Dini, Mahasiswa KKM 63 Pulo Panjang 2 Ajak Siswa Senam Bersama

    13 Agustus 2026

    Karang Taruna Banten Salurkan Air Bersih ke Kasemen, Warga: Sudah 5 Bulan Susah Air

    13 Agustus 2026

    Papan Identitas RT/RW, KKM 78 Bantu Perjelas Wilayah Desa Sumurbandung

    12 Agustus 2026

    Dorong Desa Jadi Lebih Hijau, KKM 78 UNIBA Tanam 50 Bibit Albasiah

    12 Agustus 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Kontak

    Jl. Akses Gedung/Perumahan Pondok Angsana Indah 1 Kasemen

    • red.bantencorner@gmail.com
    • +62 857-1947-9969
    • News
    • Politik
    • Parlemen
    • Hukrim
    • Regional
    • Feature
    • News
    • Perspektif
    • Figure
    • Info Loker
    • Kolom
    • Jadi Kolumnis
    • Kirim Opini
    • S&K
    • FAQ
    • Kolaborasi
    • Media Partner
    • Sponsorship
    • Iklan & Adv
    • Iklan Baris
    • © 2024 Bantencorner.com
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Peta Situs
    • Kebijakan Privasi
    • Disclaimer
    • Pedoman Media Siber

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.