BANTENCORNER.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 43 Universitas Bina Bangsa telah berhasil menjalankan program pelestarian dan pengembangan Batik Cikadu di Desa Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten pada Sabtu, 19 Juli 2025. Program ini merupakan kontribusi mahasiswa dalam melestarikan warisan budaya lokal dan memberdayakan masyarakat.

 

Di tengah arus globalisasi dan gaya hidup modern, masyarakat Desa Tanjungjaya tetap menjaga warisan budaya mereka melalui Batik Cikadu, sebuah kain bermotif yang kaya akan makna dan nilai-nilai lokal. Batik Cikadu sendiri telah dikenal sejak tahun 2015 berkat inisiatif Ibu Sumyati, yang menggagas pelatihan membatik bagi masyarakat sebagai upaya pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kreatif. Motif-motifnya, seperti badak bercula satu, lesung, daun nipah, dan ikan laut, merefleksikan kehidupan masyarakat pesisir yang lekat dengan alam dan Taman Nasional Ujung Kulon.

 

Bapak Amsari, seorang perajin dan tokoh penggerak Batik Cikadu, menjelaskan filosofi di balik setiap motif.

 

“Kami ingin anak-anak muda tahu bahwa desa ini kaya budaya. Lewat batik, kami menyampaikan pesan tentang alam dan identitas kami,” ujarnya.

 

Keunikan Batik Cikadu tidak hanya terletak pada motifnya, tetapi juga proses pembuatannya yang masih mempertahankan teknik cap dan tulis manual, menghasilkan warna-warna alami yang tenang dan khas. Hal ini menjadikan batik tersebut semakin diminati masyarakat, dari kalangan pelajar hingga pegawai negeri.

 

Meskipun demikian, para perajin masih menghadapi tantangan dalam pemasaran dan digitalisasi, banyak yang masih bergantung pada penjualan konvensional. Melihat hal ini, mahasiswa KKM Kelompok 43 Universitas Bina Bangsa, bersama pendamping lokal, turun tangan memberikan pelatihan branding dan pemasaran digital. Tujuannya adalah agar produk Batik Cikadu mampu menembus pasar yang lebih luas.

 

“Batik ini harus dikenal tidak hanya di Pandeglang, tapi juga secara nasional, bahkan internasional. Kami bantu mengenalkan melalui media digital,” ujar Leyla Ayu Azkiyah, salah satu mahasiswa KKM yang bertugas di Desa Cikadu.

 

Dengan dukungan dari berbagai pihak dan promosi yang berkelanjutan, Batik Cikadu diharapkan mampu menjadi ikon budaya dan produk unggulan Kabupaten Pandeglang. Batik Cikadu bukan sekadar kain, melainkan simbol jati diri dan semangat masyarakat Panimbang dalam menjaga warisan leluhur mereka. Keberhasilan program KKM ini membuktikan peran penting mahasiswa dalam pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.***

Leave A Reply

Exit mobile version