BANTENCORNER.COM – Semangat kolaborasi dan kemandirian pangan membara di Kampung Bunar, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten pada Kamis, 10 Juli 2025 lalu. Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 43 Universitas Bina Bangsa bersama warga setempat bergotong royong dalam kegiatan panen kangkung.
Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam mewujudkan ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi lokal, sekaligus menunjukkan bagaimana masyarakat secara mandiri berupaya memenuhi kebutuhan pangan mereka di tingkat desa.
Inisiatif ini berfokus pada pemanfaatan lahan-lahan tidur yang kini telah disulap menjadi kebun kangkung yang subur. Hasil panen yang melimpah menjadi bukti nyata keberhasilan program ini.
Ibu Pytha, salah satu narasumber kunci dalam kegiatan ini, mengungkapkan optimisme tinggi terhadap budidaya kangkung.
“Kangkung itu tumbuhan yang relatif cepat panen, dan yang paling penting, menanam kangkung itu sudah pasti untung,” ujarnya dengan antusias.
Lebih lanjut, Ibu Pytha menjelaskan bahwa kangkung hasil panen ini memiliki kualitas yang setara dengan kangkung yang dijual di supermarket. Produk ini secara khusus ditargetkan untuk ibu-ibu rumah tangga dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp1.000 per ikat.
“Harapannya, ibu-ibu bisa memenuhi kebutuhan pangan sayuran dengan biaya murah untuk makan sehari-harinya,” tambahnya.
Kolaborasi antara mahasiswa KKM Universitas Bina Bangsa dan warga Kampung Bunar ini menjadi teladan bagaimana sinergi antara akademisi dan masyarakat dapat menciptakan solusi konkret dan berkelanjutan untuk isu ketahanan pangan.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 43, Dr. Andi Hasryningsih Asfar, S.Pt., S.Pd., M.Si, memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa dan sambutan positif dari masyarakat. Beliau menilai bahwa kegiatan ini menjadi contoh nyata dari penerapan prinsip community empowerment berbasis potensi lokal.
“Apa yang dilakukan oleh mahasiswa KKM bersama masyarakat Kampung Bunar adalah bentuk nyata dari pengabdian berbasis kearifan lokal. Dengan memberdayakan lahan tidur menjadi kebun produktif, mereka tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian pangan desa,” ujar Dr. Andi.
Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan seperti ini memiliki dampak ganda: bagi masyarakat dan bagi mahasiswa sendiri.
“Mahasiswa belajar langsung bagaimana menggali potensi, membangun relasi sosial, dan menyusun strategi keberlanjutan. Di sisi lain, masyarakat mendapatkan manfaat riil berupa pasokan pangan segar dan murah. Ini adalah sinergi ideal antara dunia kampus dan masyarakat,” tambahnya.
Dr. Andi berharap bahwa program seperti ini dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lainnya, serta menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam mengembangkan sensitivitas sosial dan kepemimpinan berbasis pengabdian.
“Saya optimis, jika kegiatan semacam ini diperluas dan didukung secara sistematis, akan muncul lebih banyak desa mandiri dan mahasiswa yang siap menjadi agen perubahan di tengah masyarakat,” tangkasnya.***







