BANTENCORNER.COM – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di kalangan kader Ansor terus menunjukkan geliat positif. Salah satunya adalah Somad, kader Ansor asal Cikande, yang kini sukses membudidayakan dan memasarkan bebek hibrida. Usaha yang dirintisnya sejak beberapa tahun lalu ini tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga ikut memberdayakan masyarakat sekitar.

Somad menjelaskan, bebek hibrida yang ia kembangkan memiliki keunggulan tersendiri.

“Bebek hibrida itu mirip dengan bebek petelur, hanya saja lebih difokuskan pada kualitas dagingnya. Jenis yang paling banyak dipasarkan adalah bebek gungsi karena pertumbuhannya cepat, bobotnya bagus, dan lebih disukai masyarakat,” ujarnya.

Produk bebek hibrida yang dipelihara Somad sudah dikemas rapi sebelum disalurkan ke masyarakat, pasar, hingga restoran. Sebagian besar hasil panen justru disuplai ke UMKM kuliner di pinggir jalan yang menjadikan olahan bebek sebagai menu andalan.

Dalam proses pemeliharaan, Somad mengedepankan kebersihan kandang dan pemanfaatan limbah. Kotoran bebek yang biasanya menjadi masalah bau, justru ia jadikan peluang usaha tambahan. Setelah difermentasi, kotoran tersebut bisa dijadikan pupuk atau pakan ikan lele.

“Banyak petani yang mengambil kotoran itu, bahkan kami pun mendapat tambahan penghasilan dari pengelolaannya,” ungkapnya.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah penyakit menular pada bebek, terutama mata biru yang sulit disembuhkan. Jika satu terkena, biasanya cepat menular ke yang lain. Hal ini menjadi salah satu risiko besar dalam budidaya bebek hibrida yang ia jalani.

Dari sisi manajemen, pola pemberian pakan menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas bebek. Somad memanfaatkan pakan pabrikan seperti BR 11 di awal, lalu beralih ke pakan alternatif dari limbah pabrik sosis di kawasan industri Cikande.

“Alhamdulillah, dengan limbah sosis yang notabene berbahan daging, kualitas bebek justru semakin unggul,” jelasnya.

Tak hanya dari pabrik, Somad juga memanfaatkan pur reject atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai sipingan, serta rumput-rumputan. Semua itu menjadi strategi menekan biaya pakan yang mahal tanpa mengurangi kualitas daging bebek.

Modal awal usaha ini terbilang besar, mencapai sekitar Rp 35 juta di luar biaya kandang. Kini, kandang miliknya berukuran 14 x 8 meter dengan kapasitas 1.000 ekor. Dari hasil panen setiap 40 hari sekali, ia bisa mendapatkan omzet mendekati upah minimum regional (UMR).

Untuk pemasaran, Somad aktif memanfaatkan media sosial, terutama TikTok. Melalui siaran langsung, ia mampu menarik minat pembeli dari luar daerah, bahkan hingga ke Lampung dan Jawa.

“Banyak yang bertanya lokasi kandang saat live, bahkan ada yang memesan langsung untuk dikirim ke luar Banten,” tuturnya.

Namun, kendala tetap muncul saat momen hari besar Islam, ketika pasar dan pengepul banyak yang libur. Akibatnya, bebek sulit disalurkan dan harus ditimbun dalam freezer, yang berdampak pada penurunan kualitas daging. Ia berharap ke depan ada pengepul khusus yang siap menampung hasil panennya.

“Harapan besar saya, semoga ada dukungan dari pemerintah terutama dalam penyediaan obat-obatan untuk mencegah penyakit bebek. Dengan begitu, kerugian bisa ditekan dan usaha UMKM seperti kami bisa lebih berkembang,” tegas Somad.

Kisah Somad membuktikan bahwa kader Ansor tidak hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. Melalui UMKM bebek hibrida, ia ikut berkontribusi menciptakan kemandirian ekonomi sekaligus membuka peluang lapangan kerja di Cikande dan sekitarnya.

Leave A Reply

Exit mobile version