BANTENCORNER.COM — Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP Ansor) Banten, Tb Adam Ma’rifat, menyerukan agar Hari Santri Nasional dijadikan momentum untuk memperkuat kembali nilai perjuangan, keikhlasan, dan nasionalisme kaum santri. Menurutnya, santri sejak dahulu hingga kini selalu memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan bangsa dan menjawab tantangan zaman.
Tb Adam Ma’rifat, sosok pemimpin muda asal Pandeglang yang lahir pada 27 September 1989 ini, dikenal sebagai figur santri intelektual yang memadukan nilai keagamaan dan semangat kebangsaan. Lulusan Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia tersebut menegaskan, santri tidak hanya berperan dalam bidang keagamaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
“Dulu santri diminta angkat senjata karena bangsa ini memanggil. Kini, santri diminta mengangkat pena, gagasan, dan karya nyata untuk kemajuan negeri,” ungkap Tb Adam di sela peringatan Hari Santri di Banten, Selasa (22/10/2025).
Ia mengingatkan bahwa perjuangan santri dalam sejarah tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh para kiai pada 22 Oktober 1945. Fatwa jihad itu menjadi pendorong utama bagi perlawanan rakyat Indonesia melawan penjajah di Surabaya. Namun, kata Tb Adam, selama bertahun-tahun, peran santri dan pesantren sengaja dihapus dari narasi besar sejarah bangsa.
“Selama ini kita hanya mengenal 10 November sebagai Hari Pahlawan, dengan narasi arek-arek Suroboyo dan Bung Tomo. Padahal, di balik semangat itu ada api jihad santri dan pesantren yang berkobar,” tegasnya.
Ia menilai, sikap santri yang sabar, penuh adab, dan berjiwa nasionalis merupakan warisan dari pendidikan para kiai yang tidak hanya mendidik akal, tetapi juga membentuk karakter. Di masa Orde Baru, meski kalangan pesantren dipinggirkan dari pusat kekuasaan, santri tidak pernah melawan dengan kekerasan. Sebaliknya, mereka terus beradaptasi dan berkontribusi positif bagi bangsa.
“Santri punya prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah, yaitu menjaga nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik. Itu bukti bahwa santri adalah golongan yang paling adaptif terhadap perubahan,” tambahnya.
Tb Adam juga menyinggung bahwa santri sering kali menjadi game changer dalam dinamika kebangsaan. Dalam sejarah, semangat santri terbukti mampu membawa perubahan besar, termasuk dalam perjuangan kemerdekaan dan dinamika politik nasional. Bahkan, menurutnya, dukungan moral dari kalangan pesantren turut memberi warna dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Kini, lanjutnya, pesantren telah bertransformasi menjadi pusat pendidikan modern yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum. Banyak pesantren yang telah membuka program keterampilan, teknologi, hingga kewirausahaan, agar para santri dapat berperan aktif dalam dunia kerja dan pembangunan.
“Pesantren bukan lagi hanya tempat mengaji, tapi juga melahirkan inovator, pengusaha, dan pemimpin bangsa. Ini bukti nyata bahwa pesantren terus berbenah untuk menjawab kebutuhan zaman,” ujarnya.
Namun, Tb Adam juga menyoroti tantangan baru yang dihadapi kalangan santri di era digital. Ia menilai, framing negatif terhadap santri masih terjadi, bahkan dari media arus utama.
“Ketika ada tayangan yang menyinggung citra santri, kita protes dengan cara yang santun. Itulah adab santri sejati, tetap kuat tanpa kehilangan hormat,” kata dia.
Sebagai Ketua PW GP Ansor Banten, Tb Adam Ma’rifat menegaskan komitmennya untuk menjadikan Ansor sebagai gerakan pemuda yang kuat, adaptif, dan berdaya. Ia ingin Ansor menjadi wadah bagi santri modern yang tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, serta mampu menghadapi tantangan global dengan gagasan progresif.
“Selamat Hari Santri 22 Oktober 2025. Mari terus jaga marwah pesantren, perkuat adab, dan kobarkan semangat jihad intelektual untuk agama, bangsa, dan kemanusiaan,” tutup Tb Adam Ma’rifat penuh semangat.







