Bantencorner.com – Kebijakan biaya TOEFL-EPT yang diberlakukan di lingkungan Universitas Bina Bangsa (UNIBA) menjadi perhatian Solidaritas Mahasiswa UNIBA (SMU). Organisasi mahasiswa tersebut menilai besaran biaya yang ditetapkan perlu ditinjau kembali agar tidak menjadi beban tambahan bagi mahasiswa, khususnya mereka yang berada di tahap akhir studi.
Koordinator Umum Solidaritas Mahasiswa UNIBA, Esa Fajriansyah, mengatakan bahwa mahasiswa pada prinsipnya mendukung setiap upaya kampus dalam meningkatkan kualitas akademik, termasuk melalui penguatan kemampuan bahasa Inggris. Namun menurutnya, kebijakan yang berkaitan dengan pembiayaan tetap perlu mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi mahasiswa.
“Kami mendukung upaya kampus dalam meningkatkan kualitas akademik mahasiswa, termasuk melalui penguatan kemampuan bahasa Inggris. Namun kebijakan pembiayaan juga perlu mempertimbangkan kondisi riil mahasiswa agar tidak menambah beban yang cukup berat bagi mereka,” ujar Esa Fajriansyah.
TOEFL atau Test of English as a Foreign Language merupakan tes kemampuan bahasa Inggris yang digunakan secara luas untuk mengukur kemampuan seseorang dalam memahami dan menggunakan bahasa Inggris dalam konteks akademik.
Secara umum, tes TOEFL memiliki beberapa jenis yang digunakan untuk kebutuhan yang berbeda.
Jenis yang paling dikenal adalah TOEFL iBT (Internet Based Test) yang diselenggarakan oleh lembaga internasional ETS dan biasanya digunakan untuk keperluan studi di luar negeri. Tes ini mencakup empat komponen utama, yaitu reading, listening, speaking, dan writing, dengan rentang skor 0 hingga 120.
Selain itu terdapat TOEFL ITP (Institutional Testing Program) yang juga berada di bawah ETS dan umumnya digunakan untuk kebutuhan akademik di berbagai lembaga pendidikan. Tes ini biasanya terdiri dari tiga bagian utama, yaitu listening comprehension, structure and written expression, serta reading comprehension, dengan rentang skor antara 310 hingga 677.
Di banyak perguruan tinggi di Indonesia, tes kemampuan bahasa Inggris yang digunakan sebagai syarat akademik biasanya adalah EPT atau English Proficiency Test, yang secara struktur mirip dengan TOEFL ITP.
TOEFL-EPT merupakan tes kemampuan bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh lembaga bahasa di lingkungan kampus atau lembaga pendidikan tertentu. Tes ini biasanya digunakan untuk kepentingan internal akademik, seperti syarat mengikuti sidang skripsi, syarat kelulusan, atau persyaratan wisuda mahasiswa.
Struktur tes TOEFL-EPT umumnya terdiri dari tiga bagian utama, yaitu listening, structure and written expression, serta reading comprehension, yang bertujuan mengukur kemampuan dasar mahasiswa dalam memahami bahasa Inggris akademik.
Di lingkungan Universitas Bina Bangsa, pelaksanaan TOEFL-EPT disertai dengan program pelatihan atau preparation sebelum mahasiswa mengikuti tes tersebut.
Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan mahasiswa, biaya program TOEFL-EPT Preparation di UNIBA ditetapkan sebesar sekitar Rp700.000, yang mencakup modul pembelajaran, kegiatan pelatihan, serta pre-test dan post-test.
Sementara itu, untuk tes TOEFL-EPT sendiri dikenakan biaya sekitar Rp250.000 yang mencakup pelaksanaan tes serta sertifikat hasil tes.
Dengan demikian, mahasiswa yang mengikuti keseluruhan program tersebut perlu mengeluarkan biaya sekitar Rp950.000.
Besaran biaya inilah yang kemudian menjadi perhatian sebagian mahasiswa, khususnya mereka yang sedang berada pada semester akhir.
Sebagai bagian dari proses advokasi, Solidaritas Mahasiswa UNIBA juga melakukan penelusuran aspirasi mahasiswa melalui survei yang disebarkan menggunakan Google Form kepada mahasiswa, khususnya yang berada di semester akhir.
Menurut Esa Fajriansyah, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa semester delapan menyampaikan keberatan terhadap besaran biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti program TOEFL-EPT.
“Dalam proses advokasi yang kami lakukan, kami juga menyebarkan survei kepada mahasiswa melalui Google Form. Dari tanggapan yang masuk, rata-rata mahasiswa semester delapan menyampaikan bahwa biaya tersebut dirasa cukup memberatkan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pada tahap akhir studi, mahasiswa umumnya juga dihadapkan dengan berbagai kebutuhan akademik lain, seperti penyusunan skripsi, administrasi kelulusan, hingga berbagai biaya akademik tambahan lainnya.
Karena itu, SMU mendorong agar pihak kampus dapat meninjau kembali besaran biaya yang berlaku saat ini agar tidak menjadi hambatan bagi mahasiswa dalam menyelesaikan studinya.
“Kami mendorong pihak kampus untuk meninjau kembali besaran biaya TOEFL-EPT yang berlaku saat ini. Penyesuaian biaya menjadi penting agar kebijakan akademik tetap berjalan tanpa mengabaikan kondisi mahasiswa,” katanya.
Esa menegaskan bahwa kebijakan pendidikan tinggi idealnya tidak hanya berorientasi pada aspek administratif, tetapi juga mempertimbangkan nilai kemanusiaan dalam penyelenggaraan pendidikan.
“Pada akhirnya, pendidikan harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan. Kebijakan yang diambil hendaknya mampu memanusiakan manusia dan memastikan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk menyelesaikan pendidikannya,” tutupnya.





