BANTENCORNER.COM – Menjelang masa pengumuman kelulusan siswa SMP, baik negeri maupun swasta, Pemerintah Kota Serang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) menyampaikan arahan tegas terkait tata cara menyikapi keberhasilan tersebut.
Kepala Dindikbud Kota Serang, Ahmad Nuri, menyatakan bahwa pihaknya mengimbau seluruh warga sekolah untuk tidak membiarkan euforia kelulusan berujung pada perilaku yang bersifat hedonis maupun yang dapat menurunkan nilai-nilai moral dan budaya yang baik.
”Kita tidak melarang siswa mengapresiasikan kelulusan dengan rasa syukur tapi yang dilarang adalah yang di luar batas seperti konvoi-konvoi, corat-coret. Saya kira ada ekspresi lain yang tidak harus corat-coret, baju mubazir ini diserahkan ke yang lain di tengah efisiensi,” tegas Nuri kepada wartawan, Senin, 4 Mei 2026.
Ia menegaskan bahwa bentuk perayaan kelulusan yang dilarang secara tegas meliputi kegiatan konvoi kendaraan serta kebiasaan mencorat-coret seragam maupun pakaian.
”Sebagai gantinya, kami mengajak sekolah-sekolah untuk mengisi momen ini dengan kegiatan yang positif seperti munajat, istigosah, ngaji bersama, dan menciptakan rasa syukur tanpa harus hedon,” tambahnya.
Menurut Nuri, terdapat banyak cara lain yang lebih bermakna, elegan, dan tetap dapat menciptakan kesan kenangan indah tanpa harus merusak barang-barang yang masih layak pakai.
“Kebiasaan mencorat-coret pakaian itu pada hakikatnya merupakan bentuk pemborosan, karena barang yang seharusnya masih dapat dimanfaatkan kembali justru menjadi rusak dan tidak layak pakai. Padahal di tengah upaya efisiensi dan kepedulian sosial, barang-barang tersebut sebenarnya masih dapat disumbangkan kepada orang yang lebih membutuhkan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menguraikan berbagai alasan yang mendasari pelarangan aksi corat-coret seragam saat para pelajar merayakan kelulusan.
Selain unsur pemborosan, tindakan ini dinilai tidak memiliki nilai manfaat yang berarti, meskipun dianggap sebagian orang sebagai bentuk kenangan. Lebih dari itu, kebiasaan tersebut mengandung risiko yang membahayakan, baik secara fisik maupun sosial.
”Kegiatan konvoi itu akan berpotensi memicu terjadinya pada tindakan kekerasan antar siswa nantinya. Apalagi dicorat-coret nya di muka, terus terjadi pelecehan seksual. Hal-hal semacam ini jelas tidak dapat dibenarkan dan harus kita cegah sedini mungkin,” tegas Nuri.
Menanggapi pernyataan Walikota Serang yang menyebutkan bahwa program unggulan Serang Mengaji memiliki peran penting dalam menekan berbagai tindakan negatif di kalangan pelajar, Nuri membenarkan hal tersebut dan menyampaikan bukti nyata keberhasilan program tersebut.
”Itu sudah dibuktikan. Pak Kapolresta ketika pasca lebaran itu bicara bahwa ternyata Ramadhan kemarin tidak ada satu pun kejadian atau insiden perang sarung di masjid-masjid atau di kampung-kampung. Bahkan perang petasan gak ada,” ungkap dia.
Ia menyebut dampak positif program ini juga terasa di lingkungan pendidikan. Berkat pembiasaan nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan melalui kegiatan keagamaan, ruang untuk terjadinya tindakan negatif seperti perundungan dan kekerasan di sekolah nyaris tidak ada lagi.
”Implikasi positifnya adalah terhadap peningkatan moral dan pendekatan kemanusiaan yang lebih pada cinta kasih. Kalimat ‘Bismillahirrahmanirrahim’ yang senantiasa kita baca mengandung makna bahwa Allah adalah Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Nilai-nilai inilah yang mampu menghilangkan dari rasa kebencian dari orang-orang yang benci akhirnya menjadi bersih di sekolah. Kemudian corat-coret juga akan dihilangkan,” paparnya.
Pengaruh program Serang Mengaji dalam menekan angka tawuran dan kenakalan remaja di wilayah Kota Serang, terutama selama bulan Ramadhan kemarin, kasus yang dilaporkan menurun drastis bahkan hingga mencapai angka nol persen.
Dat tersebut berdasarkan catatan yang diterima Dindikbud dari berbagai instansi terkait, termasuk Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPPPAKB) serta jajaran kepolisian.
”Kalau ramadhan kan berarti 100 persen tidak ada. Yang terlapor ke kita, DPPPAKB, Kapolres, Kapolsek, nyaris tidak ada. Berarti kan semuanya kosong tidak ada. Artinya menekannya 100 persen full kegiatan Serang Mengaji memiliki dampak positif bagi proses peningkatan harmoni di sekolah dan menghilangkan kekerasan dari perang sarung,” pungkasnya.
