Close Menu
Bantencorner.comBantencorner.com

    Berita Terbaru

    Selengkapnya

    Lantik Pengurus Baru, LMND Banten Tegaskan Perjuangan Ekonomi Kerakyatan dan Lawan Serakhnomic

    8 Oktober 2026

    Hadir Langsung ke Bayah, Arif Rahman: Hutan Rakyat Aset Masa Depan yang Harus Dijaga dan Dihasilkan

    7 Oktober 2026

    Subhan Setiabudi Hadirkan E-SETWAN BANTEN untuk Integrasikan Layanan Sekretariat DPRD

    7 Oktober 2026

    Musim Hujan Mundur hingga Desember, Ancaman Kekeringan Terus Mengintai

    7 Oktober 2026
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • YouTube
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Bantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Bantencorner.comBantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Home»NEWS»GMPK: Ruang Akademik Harus Tetap Menjadi Tempat Berpikir, Bukan Melampiaskan Emosi

    GMPK: Ruang Akademik Harus Tetap Menjadi Tempat Berpikir, Bukan Melampiaskan Emosi

    Maslam Danur17 Juni 20263 Mins Read NEWS
    Copy Link Twitter WhatsApp Facebook
    Keterangan foto : Koordinator HAMI Asip Irama, Sabtu (24/1/2026)
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    Bantencorner.com Jakarta — Forum diskusi Kopdar Bareng Mas Dar yang menghadirkan sejumlah pejabat negara di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada, Senin malam (15/6/2026), berakhir ricuh setelah sekelompok mahasiswa menggeruduk panggung dan memaksa acara dihentikan. Seorang ajudan pejabat negara dilaporkan terluka akibat lemparan benda keras dari massa.

    Ketua DPD Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (GMPK) DKI Jakarta, Asip Irama, mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai kemunduran serius dalam budaya demokrasi di Indonesia.

    “Forum itu adalah ruang dialog yang sah, berizin, dan terbuka. Membubarkannya secara paksa bukan tindakan demokrasi. Itu tindakan yang justru membunuh demokrasi atas nama demokrasi. Ini kontradiksi yang berbahaya,” kata Asip.

    Asip menegaskan, demokrasi yang sehat mensyaratkan kemampuan berargumen secara rasional, bukan sekadar melampiaskan sentimen. Menurutnya, kekuatan sejati gerakan mahasiswa selalu terletak pada kualitas argumen, bukan pada skala kegaduhan yang diciptakan.

    “Jika mahasiswa yakin argumennya kuat, duduklah di depan pejabat itu, ajukan data, tanyakan yang tidak bisa mereka jawab. Itulah yang benar-benar membuat kekuasaan tunduk. Bukan botol yang dilempar, bukan panggung yang diduduki,” ujarnya.

    Asip juga menyoroti karakter aksi-aksi mahasiswa dalam beberapa hari terakhir yang ia nilai semakin jauh dari tradisi gerakan intelektual yang selama ini menjadi kekuatan moral mahasiswa Indonesia.

    “Yang kita saksikan belakangan ini adalah aksi-aksi yang hadir tanpa kajian akademis yang matang, lemah dalam argumentasi, dan tidak memiliki agenda prioritas yang jelas. Tuntutannya berserakan ke mana-mana, seolah yang terpenting bukan substansinya, melainkan kegaduhannya,” ujar Asip.

    Menurutnya, gerakan mahasiswa yang substansial selalu bisa dibedakan dari gerakannya yang dimobilisasi oleh kepentingan lain. Perbedaan itu, kata Asip, terletak pada satu hal fundamental yaitu nalar.

    “Gerakan mahasiswa yang berpihak pada rakyat lahir dari riset, dari keprihatinan yang terukur, dari tuntutan yang spesifik dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Yang kita lihat sekarang berbeda. Banyak aksi yang digerakkan oleh emosi, mudah terprovokasi, dan sangat rentan disusupi agenda yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepentingan rakyat,” tegasnya.

    Asip bahkan mempertanyakan apakah insiden GIK UGM merupakan tindakan spontan atau bagian dari pola yang lebih terorganisir.

    “Membubarkan forum secara paksa seperti ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Ada pola, ada koordinasi. Kita perlu bertanya dengan jujur: siapa yang menggerakkan, dan untuk kepentingan siapa?” katanya.

    Ia mengingatkan, dalam sejarah panjang gerakan mahasiswa Indonesia, perubahan nyata tidak pernah lahir dari kekerasan, tapi dari kejernihan berpikir dan keberanian moral.

    “Gerakan 1998 berhasil bukan karena mahasiswa melempar botol. Mereka berhasil karena mereka punya argumen yang tidak bisa dibantah, moral yang tidak bisa dibeli, dan kepercayaan rakyat yang tidak bisa digoyahkan. Standar itulah yang harus dijaga,” ujar Asip.

    Asip pun mendesak aparat penegak hukum untuk memproses pelaku kekerasan dalam insiden GIK UGM tanpa kompromi.

    “Tidak ada alasan ideologis yang bisa membenarkan kekerasan di ruang akademik. Kampus bukan tempat premanisme. Hukum harus ditegakkan, siapapun pelakunya, tanpa pengecualian,” katanya.

    Di sisi lain, Asip mengapresiasi sikap Wakil Menteri Pertanian Sudaryono yang tetap memilih duduk bersila di aspal demi melanjutkan dialog meski telah dievakuasi dari panggung. Menurutnya, gestur itu justru menunjukkan siapa yang sesungguhnya lebih demokratis malam itu.

    “Ironi terbesarnya adalah ini: pejabat yang diusir itu tetap mau duduk di aspal untuk berdialog, sementara mahasiswa yang mengusirnya memilih kekerasan. Siapa yang lebih mencerminkan semangat demokrasi? Publik bisa menilai sendiri,” pungkas Asip.

    GMPK
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Terpopuler

    Lantik Pengurus Baru, LMND Banten Tegaskan Perjuangan Ekonomi Kerakyatan dan Lawan Serakhnomic

    NEWS 8 Oktober 2026

    26 Tahun Banten, Yeremia Mendrofa Harap Banten Maju, Mandiri Sejahtera Berlandaskan Iman dan Takwa

    Peninggalan Sejarah Kesultanan Banten: Masjid Agung Banten dan Keindahan Arsitektur Islam

    26 Tahun Banten, Legislator PDIP: Kita Harap Tidak Ada Lagi Orang Tua Bingung Anaknya Lulus Harus Kerja Di mana

    Konfercab XV PCNU Kabupaten Serang Segera Digelar, Gus Robi Bicara Estafet Kepemimpinan

    Recent Post

    APBD Banten 2027 Berisiko “Boncos”, Target Penerimaan Lesu, Ini kata Sekda Deden

    7 Oktober 2026

    Perusahaan hingga Mobil Mewah “Ngemplang” Pajak di Banten, Potensi Capai Ratusan Miliar

    7 Oktober 2026

    Dana Bantuan Kementan Dialihkan ke Perusahaan Keluarga, KOSMAK: Usut Tuntas Skema Porang Sidrap

    6 Oktober 2026

    Cek Kesehatan Gratis di Tanah Jawara Capai 7 Juta Jiwa

    6 Oktober 2026

    Kata Kemendagri Soal Pertumbuhan Ekonomi Banten

    5 Oktober 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Kontak

    Jl. Akses Gedung/Perumahan Pondok Angsana Indah 1 Kasemen

    • red.bantencorner@gmail.com
    • +62 857-1947-9969
    • News
    • Politik
    • Parlemen
    • Hukrim
    • Regional
    • Feature
    • News
    • Perspektif
    • Figure
    • Info Loker
    • Kolom
    • Jadi Kolumnis
    • Kirim Opini
    • S&K
    • FAQ
    • Kolaborasi
    • Media Partner
    • Sponsorship
    • Iklan & Adv
    • Iklan Baris
    • © 2024 Bantencorner.com
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Peta Situs
    • Kebijakan Privasi
    • Disclaimer
    • Pedoman Media Siber

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.