BANTENCORNER.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Bina Bangsa (UNIBA) Kelompok 78 Desa Sumurbandung melaksanakan program kerja pada bidang Pemberdayaan Ekonomi, UMKM, Koperasi, dan Ekonomi Kreatif melalui pendampingan pembuatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kegiatan ini berlangsung pada 21–22 Juli 2026 di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, dan diwakili oleh Siti Habibah sebagai penanggung jawab bidang.

Program pendampingan tersebut menyasar dua pelaku UMKM, yakni Baso Mie Ayam Solo Mas Joko dan Kedai Tamara. Kehadiran mahasiswa bertujuan membantu para pelaku usaha beradaptasi dengan sistem pembayaran digital sehingga transaksi menjadi lebih mudah, cepat, dan aman. Melalui QRIS, konsumen dapat melakukan pembayaran menggunakan berbagai aplikasi dompet digital maupun layanan mobile banking hanya dengan memindai satu kode QR.

Pelaksanaan kegiatan diawali pada 21 Juli 2026 di Baso Mie Ayam Solo Mas Joko. Mahasiswa melakukan pendataan usaha sekaligus mendampingi proses pendaftaran QRIS. Keesokan harinya, kegiatan serupa dilanjutkan di Kedai Tamara. Seluruh tahapan, mulai dari pengumpulan dokumen, pengisian data, hingga proses pengajuan QRIS, dilakukan bersama pemilik usaha agar mereka memahami setiap prosedur yang diperlukan.

Pendampingan ini merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKM dalam mendukung transformasi digital di sektor UMKM. Pemanfaatan sistem pembayaran non-tunai diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan sekaligus memperkuat daya saing usaha di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Pemilik Baso Mie Ayam Solo Mas Joko memberikan apresiasi atas kegiatan tersebut. Ia juga merasa terbantu setelah adanya Qris.

“Dengan adanya QRIS, pelanggan memiliki lebih banyak pilihan dalam melakukan pembayaran. Semoga usaha kami semakin berkembang dan proses transaksi menjadi lebih praktis,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha mulai melihat manfaat penggunaan sistem pembayaran digital dalam menunjang aktivitas bisnis mereka.

Hal serupa juga disampaikan oleh pemilik Kedai Tamara. Ia mengaku proses pembuatan QRIS ternyata jauh lebih mudah setelah mendapatkan penjelasan dan pendampingan dari mahasiswa KKM. Menurutnya, bantuan yang diberikan membuat dirinya lebih memahami mekanisme penggunaan QRIS sehingga lebih siap menerapkannya dalam kegiatan usahanya sehari-hari.

Melalui program ini, Mahasiswa KKM UNIBA Kelompok 78 Desa Sumurbandung berharap semakin banyak UMKM yang memanfaatkan teknologi pembayaran digital untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan serta memperluas peluang pengembangan usaha. Pendampingan pembuatan QRIS menjadi salah satu wujud sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendorong kemajuan ekonomi lokal.

Dengan semakin luasnya penggunaan QRIS, pelaku UMKM di Desa Sumurbandung diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman, menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen, serta meningkatkan daya saing usaha di era digital yang terus berkembang. ***

Leave A Reply

Exit mobile version