BANTENCORNER.COM — Minimnya penerangan di sejumlah ruas jalan Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Bina Bangsa (UNIBA) Kelompok 79 memasang 12 unit lampu pada 11 titik prioritas. Pemasangan penerangan tersebut menjadi bagian dari program Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dilaksanakan mulai Rabu (19/8/2026) hingga Minggu 23 Agustus 2026.
Titik pemasangan dipilih berdasarkan hasil survei dan observasi lapangan dengan mempertimbangkan ruas jalan yang sering dilalui masyarakat, kondisi jalan yang minim penerangan, serta akses yang digunakan warga untuk menuju sejumlah fasilitas dan aktivitas masyarakat, termasuk jalur menuju pesantren.
Ketua KKM Kelompok 79, Arizal Almunawar, mengatakan kondisi penerangan menjadi salah satu persoalan yang ditemukan mahasiswa ketika melakukan pemetaan kebutuhan masyarakat sebelum pelaksanaan program.
“Sebelum pelaksanaan KKM di Desa Sukadaya, kami melakukan survei dan observasi terlebih dahulu. Dari hasil observasi, kami melihat masih ada beberapa ruas jalan yang minim pencahayaan. Karena itu, kami berinisiatif membuat penerangan jalan sebagai salah satu program utama Teknologi Tepat Guna,” kata Arizal.
Menurut Arizal, jalan yang minim penerangan menjadi perhatian karena masyarakat masih menggunakan sejumlah ruas tersebut pada malam hari.
“Ada beberapa titik yang ketika malam hari sangat minim penerangan sehingga kondisinya gelap dan cukup mengkhawatirkan. Kami melihat persoalan ini bukan hanya dari sisi kenyamanan, tetapi juga keamanan dan keselamatan warga yang harus melewati jalan tersebut pada malam hari,” ujarnya.
Ia mengatakan penentuan lokasi pemasangan dilakukan dengan melihat pola aktivitas masyarakat, bukan sekadar memilih titik yang paling dekat dengan permukiman.
“Kami menganalisis jalan yang sering dilalui warga, titik yang minim penerangan, serta daerah yang memiliki potensi risiko kecelakaan. Kami juga mempertimbangkan jalur menuju pesantren karena banyak anak-anak yang melewati jalan tersebut, termasuk ketika pulang mengaji pada malam hari,” tutur Arizal.
Salah satu wilayah yang sebelumnya minim penerangan berada di Kampung Cikondang, khususnya sekitar RT 11 dan RT 12. Sekretaris Desa Sukadaya, Cecep Sutisna, S.Pd.I, mengatakan kondisi lingkungan di wilayah tersebut membuat suasana pada malam hari semakin gelap.
“Kondisinya sangat gelap dan cukup mengkhawatirkan, terutama di Kampung Cikondang RT 11 sampai RT 12 karena masih banyak hutan dan pepohonan lebat. Di beberapa titik lainnya juga masih terdapat jalan yang minim penerangan,” kata Cecep.
Menurut Cecep, kebutuhan penerangan semakin terasa karena aktivitas warga tidak berhenti setelah malam tiba. Masyarakat masih berlalu-lalang, termasuk anak-anak yang pulang dari kegiatan mengaji.
“Penerangan ini sangat penting karena masyarakat sering beraktivitas dan berlalu-lalang pada malam hari. Banyak anak-anak yang pulang mengaji. Sekarang dengan adanya penerangan, mereka lebih mudah melewati jalan dan tidak terlalu khawatir dengan kondisi yang sebelumnya gelap,” ujarnya.
Sebanyak 12 unit lampu dipasang di 11 titik. Sistem penerangan yang digunakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi. Sebagian titik memanfaatkan teknologi tenaga surya, sementara titik lainnya menggunakan sistem penerangan pendukung sesuai kebutuhan di lapangan.
Teknisi pemasangan, Unus, mengatakan proses pemasangan dimulai dengan memastikan titik yang membutuhkan penerangan dan menyesuaikan posisi perangkat dengan kondisi lokasi.
“Pemasangan dilakukan dengan menentukan terlebih dahulu titik-titik yang membutuhkan penerangan. Setelah itu, posisi lampu disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi. Untuk sistem tenaga surya, posisi panel juga harus diperhatikan agar mendapatkan paparan sinar matahari yang optimal. Setelah pemasangan selesai, setiap titik diperiksa kembali untuk memastikan lampu dapat berfungsi dengan baik,” jelas Unus.
Menurut Unus, perbedaan kondisi di setiap lokasi menjadi salah satu tantangan selama pemasangan. Tim harus menyesuaikan posisi lampu, kekuatan dudukan, arah penerangan, serta kondisi instalasi pada masing-masing titik.
“Kendalanya lebih kepada kondisi setiap titik yang berbeda. Jadi pemasangan tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama semuanya. Kami harus menyesuaikan posisi, dudukan, arah lampu, dan kondisi di lokasi. Setelah itu dilakukan pengecekan kembali,” katanya.
Rata-rata pemasangan satu titik membutuhkan waktu sekitar 32 menit. Dalam prosesnya, mahasiswa KKM Kelompok 79 bekerja bersama teknisi dan masyarakat setempat. Aminudin, salah satu tokoh pemuda RW 04, turut membantu proses pemasangan di lapangan.
Program tersebut juga mendapat dukungan dana dari PT Karomah Marga Sakti untuk membantu realisasi penyediaan fasilitas penerangan jalan di Desa Sukadaya.
Bagi warga, perubahan paling terasa adalah ketika harus melintasi jalan pada malam hari. Sebelum pemasangan, sejumlah ruas jalan berada dalam kondisi gelap sehingga warga harus lebih berhati-hati saat bepergian.
Septiana Baehaki, warga RT 10, mengatakan salah satu ruas menuju jembatan sebelumnya hampir tidak memiliki penerangan.
“Sebelumnya memang gelap sekali, terutama di jalan menuju daerah jembatan yang hampir tidak ada penerangan. Kalau malam hari, kami harus lebih berhati-hati ketika melewati jalan tersebut,” ujar Septiana.
Setelah lampu dipasang, ia mengaku merasa lebih terbantu ketika pulang pada malam hari.
“Sangat membantu. Saya sendiri kalau pulang malam merasa lebih terbantu dan tidak terlalu takut karena sekarang sudah ada penerangan. Jalan menjadi lebih nyaman untuk dilewati,” katanya.
Hal serupa disampaikan Lilis, warga setempat. Ia berharap fasilitas penerangan yang telah dipasang dapat terus berfungsi dan dirawat.
“Semoga lampunya tetap menyala dan dirawat dengan baik. Mudah-mudahan warga lebih nyaman, terutama anak-anak yang pulang mengaji. Jalan yang sebelumnya gelap sekarang sudah lebih terang,” ujar Lilis.
Pemerintah Desa Sukadaya menyambut baik pemasangan penerangan tersebut. Cecep mengatakan fasilitas yang telah tersedia perlu dijaga agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Kami sangat mengucapkan terima kasih kepada teman-teman KKM UNIBA Kelompok 79 yang telah menyediakan penerangan dan membantu mendukung pengadaan fasilitas desa, khususnya infrastruktur jalan. Kami akan merawat dan melakukan pemeliharaan penerangan tersebut dengan berkolaborasi bersama masyarakat setempat,” kata Cecep.
Ia menambahkan, Pemerintah Desa turut memberikan dukungan selama pelaksanaan program melalui koordinasi dan keterlibatan di lapangan.
Bagi Arizal, pemasangan lampu bukan menjadi akhir dari program. Tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas tersebut tetap berfungsi dan dirawat setelah mahasiswa menyelesaikan KKM.
“Harapan kami, penerangan ini tidak hanya menjadi program yang selesai ketika KKM berakhir. Kami ingin fasilitas ini benar-benar dimanfaatkan dan dijaga bersama oleh masyarakat dan pemerintah desa. Keberhasilan program bagi kami bukan hanya berapa banyak lampu yang terpasang, tetapi apakah setelah kami meninggalkan desa, penerangan tersebut masih memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Arizal.
Pemasangan 12 unit lampu di 11 titik menjadi upaya KKM Kelompok 79 menjawab persoalan penerangan pada sejumlah ruas jalan Desa Sukadaya. Keberlanjutan program kini bergantung pada pemanfaatan dan pemeliharaan fasilitas tersebut oleh masyarakat bersama Pemerintah Desa. ***








