BANTENCORNER.COM – Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) mendorong pengakuan terhadap KH Abbas Abdul Jamil, ulama sekaligus pejuang kemerdekaan dari Buntet Pesantren, Cirebon, sebagai Pahlawan Nasional. Dorongan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional bertajuk “KH Abbas Abdul Jamil dan Perjuangannya dalam Mencapai dan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia” di Kantor PP GP Ansor, Jalan Kramat Raya No. 65 A, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026 dengan tema Jiwa Raga untuk Indonesia. Seminar menghadirkan peneliti BRIN sekaligus penulis biografi KH Abbas Abdul Jamil, Dr. Mohammad Fathi Royyani, serta KH Mustahdi Abdullah Abbas yang merupakan cucu KH Abbas Abdul Jamil. Diskusi dipandu oleh Direktur Eksekutif Asta Cita Center, H. M. Abdullah Syukri, S.IP., M.A., dan diawali arahan Ketua Umum PP GP Ansor, Addin Jauharudin.
Dalam sambutannya, Addin menekankan bahwa kontribusi ulama dan santri dalam perjuangan merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia harus memperoleh tempat yang layak dalam sejarah nasional. Menurutnya, kiprah para tokoh pesantren merupakan bagian penting dari perjalanan bangsa yang perlu terus ditelusuri dan diperkenalkan kepada masyarakat.
“Perjuangan KH Abbas Abdul Jamil merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa yang perlu terus digali, diteliti, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Kita tidak boleh membiarkan jasa para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan hanya tersimpan dalam ingatan komunitas, tetapi harus menjadi bagian dari narasi sejarah nasional,” ujar Addin.
Ia menjelaskan, dorongan agar KH Abbas Abdul Jamil memperoleh gelar Pahlawan Nasional tidak sebatas pemberian penghargaan kepada seorang tokoh. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi upaya untuk melengkapi pemahaman masyarakat terhadap sejarah kemerdekaan Indonesia, termasuk peran pesantren dan ulama dalam perjuangan kebangsaan.
Addin menegaskan, GP Ansor berkomitmen mendorong pengakuan terhadap jasa KH Abbas Abdul Jamil melalui penggalian sejarah dan penguatan dokumentasi perjuangannya. Upaya ini juga diharapkan dapat memperkenalkan sosok ulama pejuang kepada generasi muda agar nilai pengabdiannya tetap hidup lintas generasi.
“Kami ingin semangat perjuangan KH Abbas Abdul Jamil menjadi inspirasi bagi kader Ansor dan generasi muda Indonesia untuk melanjutkan pengabdian kepada bangsa. Merawat sejarah adalah bagian dari merawat Indonesia,” lanjutnya.
Mengungkap Jejak Perjuangan melalui Pesantren dan Jaringan Ulama
Dalam pemaparannya, Dr. Mohammad Fathi Royyani menguraikan perjalanan KH Abbas Abdul Jamil melalui tiga aspek utama, yakni pesantren, tarekat, dan perjuangan kemerdekaan. Ketiganya menjadi sudut pandang untuk memahami bagaimana Buntet Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi tempat pembentukan kader dan penguatan gerakan perjuangan.
Fathi turut menjelaskan luasnya jaringan keilmuan dan pergerakan KH Abbas Abdul Jamil yang terhubung dengan sejumlah wilayah, mulai dari Cirebon dan Jawa Barat, Tegal dan Jawa Tengah, Tebuireng dan Jawa Timur, hingga Makkah. Jaringan tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam menelusuri pengaruh dan kiprah KH Abbas dalam lingkungan ulama serta perjuangan bangsa.
Selain itu, pembahasan mencakup peran Tarekat Tijaniyah dan nilai spiritualitas dalam membentuk semangat perjuangan. Sejumlah catatan kolonial yang menyoroti aktivitas keagamaan dan gerakan KH Abbas juga menjadi bahan kajian untuk memahami bagaimana pemerintah kolonial memandang aktivitas para ulama pada masa tersebut.
Fathi juga menyoroti upaya KH Abbas dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga semangat perjuangan. Kaderisasi melalui Asybal serta pemanfaatan lingkungan pesantren sebagai ruang pendidikan dan pengorganisasian memperlihatkan keterkaitan antara pendidikan Islam, pembinaan kader, dan pengabdian kepada bangsa.
Dalam kajian yang dipresentasikan, Fathi mencatat penggunaan 74 dokumen sumber primer dan 23 dokumen sumber sekunder. Penggunaan berbagai sumber tersebut memperlihatkan pentingnya penelitian berbasis arsip dan dokumen untuk menyusun kembali perjalanan hidup serta kontribusi tokoh sejarah secara objektif.
Menurut Fathi, sejarah perjuangan para kiai harus disusun melalui penelitian yang mengedepankan fakta, data, dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Kesaksian keluarga, santri, serta pelaku sejarah dapat memperkaya informasi, tetapi perlu dipadukan dengan sumber tertulis dan kajian akademik agar menghasilkan gambaran sejarah yang lebih utuh.
Penguatan dokumentasi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya pengusulan gelar Pahlawan Nasional. Rekonstruksi sejarah yang didukung bukti terverifikasi diperlukan untuk memperjelas kontribusi tokoh dan memperkuat landasan pengakuan atas jasa-jasanya.
Keluarga dan Pesantren Menjadi Bagian dari Penggalian Sejarah
Kehadiran KH Mustahdi Abdullah Abbas dalam seminar memberikan perspektif keluarga mengenai sosok dan warisan perjuangan KH Abbas Abdul Jamil. Kesaksian keluarga menjadi salah satu sumber yang dapat membantu mengungkap perjalanan hidup, nilai keteladanan, serta pengabdian tokoh yang tumbuh dalam lingkungan pesantren.
Penggalian informasi dari keluarga dan lingkungan pesantren dinilai perlu berjalan beriringan dengan penelitian akademik serta penelusuran dokumen sejarah. Perpaduan berbagai sumber tersebut diharapkan mampu memperkaya pemahaman masyarakat sekaligus memperkuat dokumentasi mengenai peran KH Abbas dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia.
Melalui forum ini, sejarah perjuangan KH Abbas Abdul Jamil kembali diangkat sebagai bagian dari upaya mengenalkan kontribusi ulama pesantren kepada masyarakat luas. Pembahasan tersebut sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan antara warisan perjuangan masa lalu dan tanggung jawab generasi masa kini.
Hari Santri sebagai Momentum Memperkuat Pengabdian
Seminar nasional tersebut menegaskan bahwa perjuangan ulama dan santri memiliki peran penting dalam membangun serta mempertahankan Indonesia. Kiprah KH Abbas Abdul Jamil menjadi salah satu bagian dari sejarah yang memperlihatkan bagaimana pesantren, jaringan ulama, spiritualitas, dan kaderisasi dapat berkontribusi dalam perjuangan kebangsaan.
Bagi GP Ansor, peringatan Hari Santri tidak hanya menjadi momentum mengenang jasa para pendahulu, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat komitmen generasi muda dalam menjaga persatuan dan melanjutkan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Melalui rangkaian kegiatan bertema Jiwa Raga untuk Indonesia, GP Ansor berupaya menghidupkan nilai perjuangan para ulama melalui penguatan literasi sejarah, kaderisasi, dan keterlibatan nyata dalam kehidupan kebangsaan. Dorongan agar KH Abbas Abdul Jamil memperoleh pengakuan sebagai Pahlawan Nasional menjadi bagian dari ikhtiar untuk memberikan ruang yang semestinya bagi kontribusi ulama pesantren dalam sejarah Indonesia.
Tentang Gerakan Pemuda Ansor
Gerakan Pemuda Ansor merupakan organisasi kepemudaan di lingkungan Nahdlatul Ulama yang berfokus pada kaderisasi, pengabdian sosial, dan penguatan komitmen kebangsaan. Melalui berbagai program pengembangan sumber daya manusia dan kegiatan kemasyarakatan, GP Ansor mendorong generasi muda untuk berperan aktif dalam menjaga persatuan serta memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.








