BANTENCORNER.COM – Ursula von der Leyen bukan sekadar pemimpin birokrasi Uni Eropa. Sejak menjabat sebagai Presiden Komisi Eropa pada 2019, ia telah menjadi figur penting dalam menentukan arah politik dan ekonomi benua biru. Dengan latar belakang sebagai politisi Jerman dan mantan Menteri Pertahanan, Ursula membawa gaya kepemimpinan yang strategis, tegas, namun tetap berorientasi pada kolaborasi. Di tengah guncangan pandemi, krisis energi, dan konflik geopolitik, sosoknya kini berada di persimpangan sejarah: apakah ia mampu menjadi arsitek masa depan Eropa atau sekadar penonton di panggung besar global?
Visi Besar: Green Deal dan Transformasi Digital
Salah satu warisan terbesar Ursula adalah peluncuran European Green Deal, rencana ambisius untuk menjadikan Uni Eropa netral karbon pada 2050. Di saat banyak negara masih terjebak perdebatan iklim, Ursula justru menetapkan arah yang tegas. Ia mendorong kebijakan energi bersih, mendanai teknologi hijau, dan menegaskan posisi Eropa sebagai pelopor transisi hijau dunia. Langkah ini tidak hanya strategis secara lingkungan, tetapi juga geopolitik: Eropa berusaha melepaskan ketergantungan energinya dari Rusia dan mengukuhkan posisi sebagai pemain global dalam teknologi bersih.
Selain itu, Ursula juga menjadi motor penggerak transformasi digital Eropa. Ia menegaskan pentingnya kedaulatan digital, perlindungan data, dan pengembangan teknologi mandiri sebagai cara menghadapi dominasi perusahaan teknologi Amerika dan China. Dalam hal ini, gaya kepemimpinannya tampak visioner dan berorientasi jangka panjang.
Gaya Path–Goal dalam Kepemimpinan
Jika dilihat dari perspektif teori kepemimpinan, Ursula menunjukkan karakteristik Path–Goal Leadership. Ia menetapkan arah strategis (directive), membangun konsensus dengan negara anggota dan lembaga Uni Eropa (participative), serta mendorong pencapaian target besar seperti net-zero emission (achievement-oriented). Peran ini sangat penting dalam konteks Uni Eropa yang multinasional, di mana pemimpin tidak bisa memerintah secara langsung, melainkan harus menavigasi berbagai kepentingan politik, ekonomi, dan sosial yang beragam.
Dalam banyak kebijakan, Ursula bertindak seperti “penentu arah jalan”. Ia menunjukkan rute, menghapus hambatan birokrasi, dan memotivasi negara anggota untuk bergerak ke arah yang sama. Ini membuatnya berbeda dari pemimpin nasional biasa; ia bukan “bos” tunggal, melainkan koordinator ambisi bersama.
Tantangan: Eksekusi dan Kepercayaan Publik
Namun, ambisi besar seringkali berhadapan dengan realita lapangan. Ursula mendapat kritik karena lambatnya pelaksanaan beberapa kebijakan, terutama dalam tahap implementasi di negara anggota. Kasus transparansi dalam negosiasi vaksin dengan Pfizer juga sempat menggoyahkan kepercayaan publik. Di beberapa negara, warga masih merasa Uni Eropa terlalu “jauh” dari kehidupan mereka sehari-hari.
Selain itu, konflik politik internal antarnegara anggota membuat beberapa agenda Ursula terhambat. Ketika satu negara bergerak cepat, negara lain justru lambat atau bahkan menolak kebijakan tertentu. Di sinilah ujian kepemimpinannya benar-benar terlihat: bagaimana memimpin tanpa kekuasaan absolut?
Masa Depan di Tangan Gaya Kepemimpinan
Kini, Uni Eropa berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian: transisi energi belum tuntas, ketegangan geopolitik meningkat, dan tantangan ekonomi membayangi. Dalam situasi ini, gaya kepemimpinan Ursula akan sangat menentukan apakah Eropa mampu bersatu menghadapi masa depan, atau justru tercerai-berai oleh kepentingan nasional masing-masing.
Sebagai pemimpin di persimpangan sejarah, Ursula von der Leyen membawa visi yang besar, gaya kepemimpinan strategis, dan peran diplomatis yang kuat. Namun, keberhasilannya tidak hanya akan diukur dari ide-idenya, melainkan dari kemampuannya memastikan ide itu benar-benar terwujud.***




















