BANTENCORNER.COM – Setiap tahun, munculah ucapan manis untuk para guru lengkap dengan poster berwarna, bunga plastik, dan kata-kata puitis yang hanya muncul setahun sekali. Sehari setelahnya, banyak orang kembali lupa bahwa profesi ini kerap berjalan dengan tenaga ekstra dan penghargaan yang pas-pasan. Ironi yang terus berulang, namun para guru tetap melangkah dengan wajah penuh senyum.
Banyak orang memuja teknologi, gedung megah, serta jabatan bergengsi. Jarang ada yang mengingat bahwa semua itu awalnya lahir dari seseorang yang berdiri di depan kelas sambil membawa spidol yang tintanya sering habis pada waktu yang paling tidak tepat. Guru tetap hadir memberi arah, meski sering ditempatkan sebagai sosok “biasa saja” dalam hiruk pikuk kehidupan.
Ucapan terima kasih mengalir deras setiap Hari Guru, tetapi perhatian nyata terkadang datang setipis kertas fotokopi. Para murid tumbuh menjadi pemimpin, dokter, ilmuwan, atau tokoh penting, lalu mengenang gurunya sesekali saat membuat pidato. Sementara itu, seorang guru yang pernah membimbing tetap melanjutkan perjuangan tanpa mengharapkan balasan apa pun.
Peran guru begitu besar hingga sering tak terlihat. Mungkin karena terlalu terang sehingga banyak orang silau dan memilih berpaling. Namun pengabdian mereka tetap berjalan, menyalakan harapan pada generasi yang akan menghadapi masa depan jauh lebih rumit.
Semoga Hari Guru bukan hanya seremoni penuh janji manis. Harapan terbesar adalah kesadaran bahwa tanpa guru, tak ada kemajuan yang pantas dibanggakan.
Selamat Hari Guru. Terima kasih kepada mereka yang bekerja keras tanpa lampu sorot, namun tetap menerangi langkah semua orang





















