Kerumun manusia bersenjata mengepung rumah, tampak seorang bapak bernama Ahmad, sosok tua renta diboyong tentara.
Tampak sedu di wajah ibu, sosok sang istri lembut peringainya ialah Siti, dengan bayi yang di gendongnya, Siti mecium tangan sang suami yang kemudian dibawa tentara lalu di angkut ke mobil tahanan.
Dalam kejauhan sesekali Ahmad melihat istri dan bayinya. Badan yang kekar wajah yang begitu tegar kini kusam sambil meneteskan air mata. Wajah itupun semakin jauh Ahmad terus menatap sang istri dari kejauhan, jauh sampai wajah itu menghilang.
Siti yang tak tahu kenapa suami tercinta ditangkap dan di bawa tentara tak pernah mengeluh hanya tawakal kepada Allah SWT bahwa semua akan baik – baik saja.
Siang dan malam tak pernah berhenti berdzikir, berdoa untuk suami yang kini tak tahu dimana dan apa yang dilakukan tentara yang membawanya.
Di sisi lain Siti harus mengurus anaknya yang masih bayi, tak tahu harus bekerja apa untuk membesarkan anaknya, hanya sepetak sawah yang dimilikinya.
Dengan tegar, semangat yang membara Siti tak pernah mengeluh kepada Allah, meski kadang bertanya, kenapa keluarganya di timpa musibah yang berat ini☆☆☆
Setahun Berlalu.
Sang anak kini mulai besar mulai mengerti arti keluarga, kadang kadang menanyakan kemana bapaknya, sang ibu hanya tersenyum menyembunyikan kesedihan, hanya bisa menjawab bahwa bapaknya sedang bekerja diluar kota.
Kini, anak bernama Abdul ini berumur 7 tahun mulailah anak ini masuk Sekolah Dasar (SD).
“De de.. bangun..bangun,” sembari mengelus pundak anaknya, sang ibu membangunkan anaknya untuk berangkat sekolah karena hari ini adalah hari pertama masuk sekolah.
Kemudian sang anak bangun, mandi, memakai seragam, sarapan, dan siap untuk berngkat sekolah. Siti menggandeng anaknya untuk berangkat berjalan menuju sekolah yang lumyan jauh kurang lebi 3 kilo dari rumah.
Sesampainya di sekolah di kerumunan ibu – ibu yang sedang mengantar anak mereka juga. Siti di kucilkan karena suaminya di cap seorang teroris, sang anak di cap anak teroris, dalam kesedihan itu Siti hanya bisa sabar menahan dan yakin semua kepedihan ini akan segera usai.
“Ibu..ibu.. kenapa sedih ?,” suara sang anak menyaut melihat ibunya meneteskan air mata. “Tidak apa – apa nak, ibu hanya kelilipan,” ucap Siti berdalih sambil manyapu matanya dengan tangannya.
“Teng teng,” suara lonceng sekolah bersuara menandakan jam sekolah untuk hari ini sudah selesai.
Siti kembali pulang dengan menggandeng anaknya. Di setengah perjalanan menuju rumah kerumunan anak tiba -tiba menyoraki anak itu, “ anak teroris anak teroris” ledek anak – anak lain.
Setiba di Rumah.
“Tuk..tuk..,” suara pintu terdengar nyaring. Abdul membuka pintu rumahnya.
Tampak sorang bapak, lalu di tatapnya wajah yang segar, seorang bapak kemudian mengulurkan tangannya kemudian disambut Abdul mencium tangan bapak itu.
“Ibu..ibu,” teriak Abdul memanggil ibunya yang sedang memasak di dapur “Ada tamu bu” sambung Abdul. Siti menjawab dengan lembut “iyah ibu kesana”.
Seketika Siti mentap wajah yang gagah perkasa. Kedua wajah dengan mata yang tajam saling menatap, tak terasa air mata menetes di pipi keduanya. Suasana menjadi pilu seketika Siti memeluk badan kekar yang tak lain adalah suaminya Ahmad.
Mengadukan beban hidup ketika di tinggal suami dengan menghidupi seorang anak yang harus di besarkannya. Ahmad kemudian meraih tangan sang anak lalu memeluknya.
Dalam suasana yang hening, pilu yang menguasai keadaan, kemudian Siti mengajak duduk di kursi yang terbuat dari bambu yang ada di ruang tamu rumahnya.
Terjadinya percakapan bagaimana kabar anak istri ketika ditinggalkan sang bapak, keluh kesah semua di tumpahkan oleh Siti kepada suaminya, begitupun sebaliknya Ahmad menceritakan keluh kesah dan kekesalannya ketika di fitnah teroris, yang pada akhirnya tak terbukti bersalah.
Rasa kesal keduanya hanya menjadi catatan di dada dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi, pun keluarga tersebut tak bisa berbuat apa – apa, selain bersabar dan melupakan kejadian yang mereka alami.
“Sudahlah,” timpal Ahmad “Yang sudah terjadi kita ikhlaskan saja, kita ambil ibrohnya, kita mulai buka lembaran baru untuk kehidupan kita kedepannya supaya lebih baik,” ungkap Ahmad tersenyum.













