BantenCorner – Sastra, baik melalui bacaan atau tontonan, tidak hanya berperan dalam menghibur, tetapi juga memiliki impact yang luar biasa untuk melatih emosi dan mengasah empati. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi sangat diperlukan, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Contoh paling nyata dari ini bisa kita lihat dalam perdebatan publik, seperti yang terjadi baru-baru ini antara Rocky Gerung dan Silfester Matutina, yang viral di berbagai media. Melalui analisis, kita bisa melihat bagaimana membaca dan menonton sastra membantu kita mengendalikan emosi di situasi nyata, baik di ruang publik maupun pribadi.
Aristoteles dalam Poetika menekankan pentingnya tragedi sastra untuk menghasilkan catharsis, proses pemurnian emosional melalui rasa takut dan kasihan. Pemurnian ini memberikan kita kemampuan untuk mengelola dan memahami emosi, bukan hanya sebagai respons instan, tetapi sebagai sesuatu yang perlu ditelaah dan direnungkan. Membaca sastra tragedi seperti Oedipus Rex atau Hamlet membantu seseorang menyelami dilema moral dan emosi karakter, sehingga memperdalam kemampuan kita untuk berempati dan meresapi berbagai situasi.
Ketika menonton film adaptasi sastra, kita dihadapkan pada emosi secara langsung melalui visual dan audio. Saat menonton, kita merasakan respons emosional yang lebih cepat, tetapi mungkin kurang reflektif. Seperti dalam perdebatan Rocky Gerung dan Silfester, film atau visual dapat memicu reaksi cepat, namun tanpa ruang untuk berpikir lebih objektif. Rocky, sebagai akademisi yang sering berargumen secara rasional tetap tenang dalam menghadapi seluruh lawan debatnya, ini menunjukkan bagaimana pengendalian emosi yang baik sangat penting dalam sebuah debat. Dia bisa tetap berpikir jernih meskipun lawan debatnya menggunakan nada yang lebih emosional atau bahkan menyerang secara personal.
Dalam situasi tersebut, kita dapat melihat kontradiksi antara logika dan emosi. Di satu sisi, Rocky Gerung mengandalkan logika untuk menyusun argumen, tetapi sejelas apapun logika itu menerangkan jalannya, seseorang selalu terjebak oleh perasaannya. Silfester, yang terbawa oleh emosinya, memberikan contoh bagaimana emosi yang tak terkendali bisa merusak esensi dari sebuah perdebatan yang sehat dan berdampak jangka panjang. Di sinilah pentingnya mengasah emosi melalui sastra baik membaca maupun menonton untuk menyeimbangkan antara respons emosional dan logika dalam menghadapi situasi nyata.
Lalu bagaimana dan apa yang terjadi jika kita tidak pernah membaca atau menonton karya sastra? Kehidupan mungkin akan terasa lebih kaku, karena kita tidak pernah dihadapkan pada emosi kompleks dan dilema moral yang sering kita temui dalam karya sastra. Kita bisa saja menjadi pribadi yang lebih mudah terpengaruh oleh emosi tanpa mampu menelaah makna di balik setiap perasaan yang kita alami dan terkesan mengesampingkan dampak buruknya. Kita tidak terbiasa dengan situasi-situasi penuh tekanan, di mana kemampuan untuk mengendalikan emosi dan berpikir secara rasional sangat dipentingkan.
Sebaliknya, bagaimana jika kita terus menerus menonton atau membaca? Dalam konteks ini, kita berisiko mengalami kelelahan empati, di mana emosi kita terlalu banyak diolah tanpa adanya kesempatan untuk memprosesnya secara sehat. Kelelahan ini bisa membuat kita menjadi lebih apatis atau tidak peka terhadap emosi orang lain, seperti dalam kasus debat publik di media sosial, di mana emosi sering kali menjadi faktor utama dalam respons kita, sementara kemampuan untuk mendengarkan dan memahami secara kritis semakin menurun.
Pengendalian emosi yang baik, seperti yang ditunjukkan oleh Rocky Gerung, adalah kemampuan untuk menahan diri di tengah tekanan, sesuatu yang sering kali diasah melalui bacaan atau tontonan reflektif. Membaca tragedi, misalnya, membuat kita memahami penderitaan dan konflik tanpa terbawa emosi secara langsung. Kita dilatih untuk membangun empati terhadap karakter, namun tetap berpikir jernih dan mengambil jarak. Hal ini membantu kita, ketika berada dalam situasi nyata, untuk tidak terjebak dalam reaksi emosional instan yang bisa merusak kemampuan kita dalam merespons secara rasional.
Selain itu, film dapat memberikan latihan emosional yang lebih cepat. Misalnya, dalam situasi seperti debat atau perdebatan politik, kemampuan untuk menyerap informasi dengan cepat dan merespons secara emosional tanpa kehilangan kendali menjadi sangat penting. Dalam debat viral antara Rocky Gerung dan Silfester, kita bisa melihat perbedaan yang tajam antara seseorang yang mampu mengendalikan emosi dan seseorang yang terbawa oleh emosi. Keduanya memberikan pelajaran tentang pentingnya menyeimbangkan logika dengan perasaan.
Manfaat lain dari latihan emosi ini bisa dilihat dalam berbagai aspek kehidupan di tempat kerja, pergaulan, dalam hubungan pribadi, atau dalam debat publik. Orang yang mampu mengendalikan emosinya cenderung lebih sukses dalam memimpin, lebih mampu mendengarkan dengan empati, dan lebih tangguh dalam menghadapi tekanan. Sebaliknya, mereka yang tidak terbiasa melatih emosi melalui refleksi, baik dengan membaca atau menonton, mungkin lebih mudah terguncang oleh situasi yang penuh tekanan, menjadi reaktif dan sulit berpikir jernih.
Kemudian yang menjadi kunci dari semua ini adalah keseimbangan. Membaca sastra memberikan kita refleksi, sementara menonton film memberikan kita respon emosional yang cepat. Keduanya mengajarkan kita cara untuk berempati dan mengendalikan emosi dalam situasi kehidupan nyata. Saat kita dihadapkan pada perdebatan atau konflik, seperti yang terjadi antara Rocky dan Silfester, kita bisa melihat dengan jelas betapa pentingnya pengendalian emosi dan kemampuan untuk menelaah secara logis.
Pada akhirnya, baik membaca maupun menonton sastra memberikan pelatihan emosi dan membantu kita mengasah empati yang akan sangat berguna di dunia nyata. Dengan berlatih untuk mengontrol emosi dan memahami perasaan orang lain, kita bukan hanya akan menjadi pembaca atau penonton semata, tetapi juga akan menjadi seseorang yang lebih tangguh, empatik, dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.**













