BantenCorner.Com – Aroma kopi pekat menyapa pagi ini, bercampur dengan bau amis kekecewaan yang menusuk hidung. Indonesia, negeri khatulistiwa yang seharusnya memancarkan kehangatan, kini terbungkus dalam selimut keputusasaan. Ekonomi kita terkapar, terkulai lemas, seperti mayat yang terbuang di pinggir jalan. Inflasi merangkak naik, rupiah merosot tak berdaya, dan rakyat merintih kesakitan, tercekik oleh beban hidup yang semakin berat setiap harinya.
Sebagai seorang Mahasiswa Biasa yang gemar menyeruput kopi pahit sambil merenung, saya melihat Indonesia sedang berada di ambang kehancuran. Kita terjebak dalam lingkaran setan. Ketergantungan kita pada impor yang seolah menjadi candu yang tak tertahankan lagi dan lagi, semakin menguras kekuatan ekonomi kita. Bayangkan saja, bahkan beras, makanan pokok kita, sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri, Ini seperti kita bergantung pada orang lain untuk memberi makan keluarga kita sendiri.
Dan yang lebih memalukan, transaksi impor yang dilakukan dengan dolar AS semakin memperparah keadaan. Rupiah kita, mata uang kita sendiri, diperlakukan seperti anak tiri yang tak pernah dianggap. Siapa yang mau menerima rupiah? Seolah-olah kita terjebak dalam jebakan yang dirancang oleh kekuatan asing, yang dengan lihai menjerat kita dalam cengkeraman utang dan ketergantungan, mungkin kita beranggapan sama.
Pemerintah, dengan kabinetnya yang gemuk dan tidak efisien, tampaknya tak mampu berbuat banyak. Mereka sibuk bertengkar, berebut kekuasaan, dan melupakan penderitaan rakyat. Masihkah kita ingat masa Orde Lama? Ratusan menteri yang berseliweran, membuat negara ini seperti kapal yang kehilangan nahkoda.
Saya khawatir, jika kita terus berlama-lama dalam kondisi ini, Indonesia bisa terjerumus ke dalam krisis yang lebih besar. Bayangan lagi tahun 1998 menghantui, mengingatkan kita tentang betapa rapuhnya fondasi ekonomi kita. Ketika itu, kita terpuruk dalam jurang kehancuran. Apakah kita ingin mengulang sejarah kelam itu?
Tapi, di tengah kegelapan, selalu terdapat secercah harapan. Kita memiliki generasi muda (Gen Z) yang kreatif, dapat bekerja sama dengan kekuatan suaranya di sosial media dan mampu beradaptasi dengan cepat dalam era digital. Mereka adalah para konten kreator, pengusaha rintisan, dan inovator yang siap membangun Indonesia yang lebih baik.
Namun, mereka membutuhkan ruang untuk berkembang. Regulasi yang kaku dan sensor yang berlebihan bisa menghambat kreativitas mereka. Kita perlu menciptakan ekosistem yang kondusif bagi mereka untuk berinovasi dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Sebagai seorang Mahasiswa Biasa yang gemar menyeruput kopi yang sedikit pahit sambil merenung, saya percaya bahwa perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Mari kita tingkatkan kesadaran akan kondisi ekonomi dan sosial kita. Mari kita dukung para pelaku ekonomi kreatif dan inovator. Mari kita bersatu untuk membangun Indonesia yang lebih kuat dan sejahtera.
Sambil menyeruput kopi yang terasa sedikit pahit di lidah, saya berharap agar aroma kopi ini bisa menjadi pengingat bagi kita untuk terus berjuang, untuk terus berinovasi, dan untuk terus membangun Indonesia yang lebih baik.***













