KH. Syam’un adalah sosok ulama dan pejuang yang lahir pada 5 April 1894 di Kampung Beji, Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten. Ia merupakan putra dari H. Alwiyan dan Hj. Siti Hajar, serta cucu dari KH. Wasid, tokoh kharismatik yang terlibat dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda dalam peristiwa Geger Cilegon 1888. Garis keturunan ini memberikan landasan spiritual dan perjuangan yang kuat dalam kehidupannya.
Sejak kecil, KH. Syam’un sudah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama. Ia belajar di berbagai pesantren di Banten, seperti Pesantren Dalingseng di bawah bimbingan KH. Sa’i, dan kemudian di Pesantren Kamasan bersama KH. Jasim. Perjalanan intelektualnya berlanjut ke Tanah Suci pada usia muda, di mana ia menimba ilmu di Mekkah sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir—sebuah pusat pendidikan Islam bergengsi di dunia. Ia menamatkan pendidikannya di Al-Azhar pada tahun 1915, dan kembali ke tanah air dengan semangat membawa perubahan.
Setibanya di Banten, KH. Syam’un mendirikan lembaga pendidikan Islam bernama Pondok Pesantren Al-Khairiyah pada tahun 1916 di Citangkil, Cilegon. Pesantren ini tak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga menjadi wadah pembentukan kader-kader pergerakan kebangsaan. Gagasan pendidikan yang ia bawa dari Timur Tengah menjadikan Al-Khairiyah sebagai pesantren modern di zamannya. Ia mendorong integrasi antara pendidikan agama dan pengetahuan umum, serta menanamkan semangat nasionalisme kepada para santri.
Selain sebagai pendidik, KH. Syam’un juga aktif dalam dunia politik dan perjuangan. Pada masa pendudukan Jepang, ia bergabung dalam organisasi militer Pembela Tanah Air (PETA) dan menjadi seorang Dai Dan Tyo (Komandan Batalion) di wilayah Serang. Keberadaannya dalam PETA menjadikannya tokoh yang disegani oleh Jepang, meskipun ia diam-diam tetap menanamkan semangat anti-kolonial kepada rakyat.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, KH. Syam’un diangkat sebagai Bupati Serang pertama oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun, tidak lama setelah menjabat, ia lebih memilih turun langsung ke medan pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam masa Agresi Militer Belanda II, ia ikut berjuang bersama laskar rakyat dan para santri melawan pasukan Belanda yang kembali ingin menjajah.
KH. Syam’un wafat pada 28 Februari 1949 di wilayah Kamasan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, setelah jatuh sakit dalam perjuangan. Jenazahnya dimakamkan di tempat kelahirannya, dan hingga kini, makamnya menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi.
Atas jasa-jasa dan dedikasi luar biasanya dalam bidang pendidikan, keagamaan, dan perjuangan kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH. Syam’un pada tanggal 8 November 2018 melalui Keputusan Presiden Nomor 123/TK/2018.
Warisan terbesar KH. Syam’un tidak hanya terletak pada lembaga pendidikan yang ia dirikan, tetapi juga pada semangat perlawanan terhadap penindasan dan perjuangan untuk keadilan yang ia tanamkan. Al-Khairiyah tetap berdiri tegak hingga kini sebagai simbol perjuangan dan pencerahan yang diwariskan oleh seorang ulama pejuang dari tanah Banten.







