BANTENCORNER – Rampak Dayak, atau oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Dedayakan, merupakan sebuah seni pertunjukan tradisional yang berkembang di wilayah pesisir barat Banten, khususnya di kampung Kali Keranjang dan Kedung Soka, Desa Kedung Soka, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang. Lebih dari sekadar tontonan, Rampak Dayak adalah representasi dari kompleksitas budaya masyarakat Islam pesisir yang menyatu dalam seni, spiritualitas, dan struktur sosial lokal. Ia merupakan warisan budaya yang secara dinamis terus bertahan, sekaligus menjadi arena di mana narasi sejarah dan identitas kolektif masyarakat lokal dipelihara dan diteruskan dari generasi ke generasi.
Pertunjukan Rampak Dayak ditata dalam barisan yang menggambarkan struktur sosial masyarakat dan perjalanan spiritual. Barisan pertama diisi oleh anak-anak yang mencerminkan dinamika masa kanak-kanak dan awal pertumbuhan sosial. Barisan kedua menampilkan masyarakat biasa dalam gambaran sosial paling bawah, menunjukkan akar kehidupan rakyat dan kesederhanaannya dikawal oleh pepetan wewe. Barisan ketiga diisi oleh pasukan tangan kosong, pasukan (surung dayung) toya, jaran bilik, dan iringan patingtiung, yang menggambarkan kekuatan pertahanan dan ketangguhan. Barisan keempat berpusat pada pengantin sunat atau pasangan pengantin beserta keluarga, mengingatkan pada kebesaran raja, diiringi dengan tabuhan Terbang Gede. Terakhir, barisan santri, kiai, dan ulama menutup prosesi dengan iringan rudat, menyimbolkan puncak spiritual dan pesan dakwah.
Struktur pertunjukan ini tidak hadir secara acak. Ia adalah bentuk artikulasi sosial dan spiritual yang mengakar dalam sejarah panjang masyarakat pesisir yang pernah berada dalam orbit Kesultanan Banten. Sebagai warisan dari masa kesultanan, Rampak Dayak mencerminkan strategi kebudayaan Islam lokal yang berhasil menginternalisasi nilai-nilai agama dalam bentuk-bentuk ekspresi budaya yang diterima dan dijalani secara turun-temurun. Ia adalah manifestasi dari dakwah yang tidak melulu verbal atau institusional, melainkan dakwah yang hadir dalam bentuk performatif, emosional, dan komunikatif.
Pementasan yang berpindah dari kampung ke kampung menciptakan sirkulasi nilai yang berkelanjutan. Di setiap tempat, Rampak Dayak membuka ruang interaksi antara aktor dan penonton dalam hubungan yang egaliter. Tidak ada panggung tinggi yang memisahkan, sebab tanah lapang menjadi altar tempat ritual budaya dilangsungkan. Anak-anak, remaja, orang tua, semua mendapatkan ruang dalam narasi yang dibangun. Struktur ini menjadi refleksi dari konsep ummatan wahidah, yakni komunitas yang utuh dan menyatu dalam nilai keislaman.
Rampak Dayak juga menjadi ruang representasi bagi momen-momen penting dalam hidup seseorang. Dalam konteks khitanan, anak yang dikhitan tidak hanya mengalami transisi biologis dan spiritual, tetapi juga mendapatkan pengakuan sosial yang dirayakan secara kolektif. Sementara dalam pernikahan, pasangan pengantin ditempatkan dalam posisi sentral yang menunjukkan kehormatan dan kesakralan institusi keluarga. Di sekelilingnya, tarian perang dan barisan pengawal memperlihatkan bahwa keluarga adalah entitas yang harus dilindungi, dihormati, dan dijaga kesuciannya.
Unsur humor dalam Rampak Dayak, yang tampil melalui karakter-karakter rakyat biasa atau tokoh marginal, menambah kedalaman pesan sosial dalam pertunjukan ini. Humor digunakan sebagai alat kritik sosial yang halus, menyentuh ketimpangan, ketidakwajaran, bahkan penyimpangan sosial, namun tetap dalam nuansa yang menghibur dan tidak menghakimi. Humor menjadi strategi pedagogis yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai moral kepada masyarakat tanpa menimbulkan resistensi atau rasa malu.
Kehadiran ulama dan santri dalam barisan akhir menegaskan dimensi dakwah dalam Rampak Dayak. Di akhir pertunjukan, biasanya terdapat tausiyah, doa, dan nasihat moral yang memperkuat seluruh pesan yang telah disampaikan secara simbolik melalui barisan-barisan sebelumnya. Posisi mereka yang terakhir bukanlah pelengkap, melainkan penutup yang menyempurnakan. Pesan ini sangat kuat dalam menunjukkan bahwa segala bentuk hiburan dan ekspresi budaya yang dilakukan hendaknya berpuncak pada perenungan spiritual dan nilai keislaman.
Rampak Dayak telah ada sejak lama dan merupakan warisan turun-temurun dari masa lalu. Pertunjukan ini mampu menghimpun banyak massa secara aman dan penuh kegembiraan. Bahkan, anak-anak merasa terhormat saat mereka menjadi bagian dari arak-arakan khitanan. Dalam konteks ini, seni tidak hanya menjadi instrumen hiburan, tetapi juga menjadi instrumen transformasi sosial dan spiritual.
Fungsi Rampak Dayak tidak terbatas pada perayaan khitanan dan pernikahan. Dalam situasi krisis, seperti kekeringan, masyarakat menggelar pertunjukan ini sebagai bagian dari ritual permohonan hujan. Ini menunjukkan bahwa Rampak Dayak mengandung dimensi spiritual yang dalam, di mana seni diposisikan sebagai jembatan antara manusia dan kekuatan ilahiah. Doa, tarian, musik, dan simbol-simbol yang digunakan menjadi sarana permohonan kolektif yang penuh kekhidmatan namun tetap dalam balutan budaya lokal yang meriah.
Dalam perspektif antropologi budaya, Rampak Dayak dapat dibaca sebagai ruang artikulasi identitas kolektif masyarakat pesisir Banten. Ia mencerminkan dinamika sosial, stratifikasi, solidaritas, serta aspirasi spiritual masyarakat lokal. Dengan membingkai narasi Islam ke dalam struktur pertunjukan yang kaya makna, masyarakat pesisir menunjukkan kemampuan untuk mengolah dan meneruskan ajaran Islam dengan cara yang kontekstual dan berakar kuat pada tradisi.
Tantangan besar yang kini dihadapi Rampak Dayak adalah perubahan sosial dan budaya akibat modernisasi. Urbanisasi, penetrasi budaya populer, dan digitalisasi menggeser posisi kesenian tradisional dalam kehidupan masyarakat. Generasi muda lebih tertarik pada konten digital yang cepat dan instan, dibandingkan kesenian rakyat yang membutuhkan keterlibatan dan kesabaran. Hal ini mengancam keberlangsungan Rampak Dayak sebagai tradisi hidup.
Namun demikian, semangat pelestarian masih ada. Para tokoh sepuh, komunitas lokal, dan pegiat seni terus berupaya menjaga agar Rampak Dayak tidak punah. Dokumentasi, pelatihan, pementasan rutin, serta integrasi kesenian ini dalam kegiatan sekolah menjadi strategi penting. Pemerintah daerah diharapkan lebih aktif mendukung upaya-upaya ini melalui kebijakan budaya yang responsif dan inklusif.
Rampak Dayak juga menyimpan potensi besar sebagai media pendidikan karakter. Melalui pertunjukan ini, nilai-nilai seperti keberanian, penghormatan kepada orang tua, kerjasama, gotong royong, dan spiritualitas Islam dapat ditanamkan secara menyenangkan. Alih-alih menasihati dengan cara kaku, pertunjukan ini menyampaikan pesan moral dalam bentuk cerita yang hidup dan mengesankan. Ini adalah bentuk pendidikan kontekstual yang sangat dibutuhkan dalam sistem pendidikan kita hari ini.
Rampak Dayak, dalam keseluruhan bentuk dan maknanya, adalah simbol dari keberanian masyarakat lokal untuk mendefinisikan dan mengekspresikan Islam sesuai dengan konteks sosial-budaya mereka. Ia bukan bentuk kompromi terhadap nilai-nilai agama, melainkan bentuk konkret dari Islam yang ramah budaya. Dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip dasar Islam, masyarakat pesisir berhasil meramu ajaran agama dalam format budaya yang tidak hanya diterima, tetapi juga dicintai oleh masyarakat luas.
Maka, melestarikan Rampak Dayak bukan hanya soal menyelamatkan warisan budaya, tetapi juga menjaga ekosistem nilai yang telah bekerja secara sosial, spiritual, dan edukatif selama berabad-abad. Rampak Dayak adalah jendela untuk melihat bagaimana Islam dapat hidup dan berkembang secara harmonis dalam ruang-ruang budaya lokal. Ia adalah bukti bahwa dakwah bisa berjalan beriringan dengan seni, bahwa nilai-nilai luhur bisa disampaikan melalui irama, tarian, dan tawa.
Dalam sejarah kebudayaan Nusantara, bentuk-bentuk seperti Rampak Dayak adalah manifestasi dari kecanggihan masyarakat lokal dalam menyerap, mengolah, dan mengekspresikan identitas mereka secara kreatif dan spiritual. Ia menjadi saksi hidup dari sinergi antara keislaman dan kearifan lokal. Oleh karena itu, mempertahankan Rampak Dayak adalah menjaga narasi tentang keberanian menjadi diri sendiri dalam wajah Islam yang ramah, dinamis, dan penuh cinta.













