Pepetan Wewe adalah salah satu ekspresi budaya ritual yang khas dalam masyarakat agraris di wilayah Banten bagian utara, khususnya di Kecamatan Walantaka, Kota Serang, yang hingga kini masih memegang erat tradisi warisan leluhur. Sebagai bentuk pertunjukan sakral sekaligus hiburan rakyat, Pepetan Wewe memiliki dimensi simbolik yang dalam. Ia tidak sekadar menampilkan deretan boneka raksasa statis berwajah merah dan putih, tetapi mencerminkan kosmologi lokal tentang keberadaan roh jahat (wewe, dalam pengertian rakyat) yang senantiasa mengancam keseimbangan hidup manusia. Dalam konteks ini, Pepetan Wewe menjadi media ekspresif masyarakat dalam melawan kekuatan tak kasat mata melalui ritus kolektif dan visualisasi dramatis yang sarat makna.
Secara etimologis, “pepetan” berasal dari kata dasar pepet, yang dalam bahasa Jawa atau Sunda-Banten dapat merujuk pada tindakan mengepung, mendekati, atau membentuk barisan. Sementara itu, kata “wewe” mengacu pada makhluk halus perempuan dalam cerita rakyat, yang sering kali digambarkan sebagai entitas pengganggu atau pelindung tergantung pada konteksnya. Dalam struktur mitos lokal, wewe adalah manifestasi dari kekuatan negatif, kekacauan, dan energi yang dapat merusak tatanan sosial dan spiritual masyarakat jika tidak dikelola atau disapa secara tepat. Oleh karena itu, “Pepetan Wewe” dimaknai sebagai barisan boneka makhluk halus yang diarak atau ditata sebagai simbolisasi musuh tak kasat mata, yang akan ditolak, dijinakkan, atau ditundukkan melalui kekuatan kolektif warga.
Dalam praktiknya, Pepetan Wewe biasanya ditampilkan dalam rangkaian ritual tolak bala yang dilakukan menjelang pergantian musim, masa paceklik, merebaknya wabah penyakit, atau datangnya malapetaka yang diyakini berkaitan dengan murkanya leluhur atau gangguan makhluk halus. Ritual ini sering dikaitkan pula dengan kegiatan sedekah bumi, ruwatan kampung, atau doa massal dalam kerangka keagamaan setempat. Barisan boneka-boneka raksasa ini ditata rapi di sepanjang jalan kampung, mengelilingi pemukiman atau situs-situs keramat, disertai iringan doa-doa, tabuhan lesung dan alat musik tradisional, sesajen sederhana, dan pembacaan mantra oleh tokoh adat atau pemuka spiritual kampung.
Yang menjadi pusat perhatian dalam pertunjukan ini adalah wajah-wajah boneka raksasa tersebut yang terbagi menjadi dua kategori utama: merah dan putih. Dalam sistem simbolik tradisi Pepetan Wewe, wajah merah melambangkan laki-laki. Warna merah merupakan representasi dari sifat panas, amarah, keberanian, kekuasaan, tetapi juga kekacauan dan ancaman. Ia merupakan lambang kekuatan destruktif yang tidak terkendali. Sebaliknya, wajah putih melambangkan perempuan. Warna ini menyimbolkan kesejukan, kesucian, ketenangan, dan penjagaan. Ia melambangkan kekuatan reseptif dan perlindungan yang bersifat melingkupi. Dalam kosmologi lokal, kedua warna ini tidak dilihat sebagai oposisi biner yang saling meniadakan, melainkan sebagai pasangan harmonis yang menjaga keseimbangan dunia.
Konsep dualitas tersebut sangat penting untuk dipahami dalam konteks budaya Banten. Dalam pemahaman spiritual masyarakat tradisional, dunia terbagi dalam kekuatan kiri dan kanan, panas dan dingin, laki-laki dan perempuan, dan seterusnya. Harmoni hanya dapat tercapai jika kedua unsur hadir dan diatur dalam posisi yang tepat. Maka, Pepetan Wewe tidak hanya menyimbolkan roh jahat untuk ditolak, tetapi juga menghadirkan “figur pelindung”, yakni representasi perempuan dalam topeng putih, sebagai penjaga harmoni kosmos.
Pertunjukan ini tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari rangkaian ritus desa yang lebih luas. Kegiatan bersih desa, penggantian jimat kampung, atau penanaman pohon keramat sering kali mendahului prosesi Pepetan Wewe. Prosesinya melibatkan seluruh warga, mulai dari anak-anak, pemuda, ibu rumah tangga, hingga para tetua adat dan ulama. Para pemuda membuat rangka boneka dari bambu, para perempuan menjahit kain dan pakaian boneka, seniman lokal melukis wajah topeng, sementara para sesepuh memimpin doa dan mengarahkan jalannya ritual.
Menariknya, dalam beberapa dekade terakhir, makna sakral dalam pertunjukan ini mengalami transformasi. Anak-anak tidak lagi takut terhadap “wewe”, tetapi justru menjadikannya sebagai bagian dari permainan dan tontonan. Mereka berfoto dengan boneka, menyentuhnya, bahkan memberi nama. Ini menandai pergeseran dari yang semula bersifat mistis menjadi bagian dari folklore visual yang bisa diakses siapa saja. Namun demikian, substansi nilai perlindungan, solidaritas, dan penyatuan masyarakat tetap bertahan di balik bentuk luarnya yang semakin profan.
Dalam kerangka antropologi simbolik, Pepetan Wewe bisa dianggap sebagai totem komunitas—yakni representasi visual dari apa yang diyakini, ditakuti, dan dihormati oleh masyarakat. Boneka-boneka ini adalah simbol dari kekuatan adikodrati yang dihadirkan secara artistik dalam ruang publik, sekaligus sebagai medium spiritual untuk menjembatani dunia manusia dan dunia roh. Dengan demikian, pertunjukan ini tidak hanya menampilkan boneka, tetapi memperlihatkan dunia batin masyarakat agraris yang masih hidup dalam kesadaran kosmologis.
Ritual Pepetan Wewe juga menjadi sarana masyarakat lokal dalam mengelola ketakutan terhadap ancaman yang tak terdefinisikan secara rasional. Penyakit, bencana, konflik sosial, atau bahkan kegagalan panen sering kali dimaknai sebagai akibat dari ketidakseimbangan hubungan antara manusia dan alam, antara masyarakat dan leluhur. Alih-alih menyerah, masyarakat menampilkan perlawanan kolektif dalam bentuk seni visual, irama, dan doa yang penuh daya magis. Di sinilah letak kekuatan budaya: dalam kemampuan menyulap kecemasan menjadi perayaan.
Namun, sebagaimana tradisi lokal lainnya, Pepetan Wewe kini menghadapi tantangan keberlanjutan yang serius. Perubahan gaya hidup, tekanan modernisasi, dan menguatnya budaya individualistis membuat banyak anak muda menjauh dari tradisi. Regenerasi pelaku budaya tersendat, pendanaan terbatas, dan minimnya dokumentasi akademik membuat praktik ini rentan dilupakan. Banyak masyarakat tidak lagi memahami makna di balik simbol, hanya melihatnya sebagai tontonan tahunan yang berulang tanpa makna.
Meski demikian, potensi Pepetan Wewe sebagai identitas budaya lokal sangat besar. Jika dikelola secara kreatif dan partisipatif, ia bisa menjadi wahana pendidikan karakter, ruang ekspresi budaya, sekaligus destinasi wisata budaya berbasis komunitas. Sekolah-sekolah dapat mengintegrasikan sejarah dan praktik Pepetan Wewe dalam kurikulum muatan lokal. Komunitas kreatif dapat menghidupkannya kembali dalam bentuk seni pertunjukan kontemporer, multimedia, bahkan dokumenter digital.
Dukungan dari pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan sangat dibutuhkan, terutama dalam pendataan, dokumentasi, dan perlindungan hukum terhadap tradisi ini. Penetapan Pepetan Wewe sebagai Warisan Budaya Takbenda dapat menjadi langkah penting dalam memastikan pelestariannya. Selain itu, pelibatan akademisi dan peneliti dalam mengkaji aspek semiotik, sosiologis, dan kosmologis dari tradisi ini sangat krusial untuk memperkuat posisi Pepetan Wewe dalam diskursus budaya nasional.
Dengan demikian, Pepetan Wewe bukan hanya artefak budaya atau ritus musiman, tetapi merupakan bentuk artikulasi nilai-nilai terdalam masyarakat Banten: tentang relasi antara manusia dan alam, antara laki-laki dan perempuan, antara kekacauan dan keseimbangan. Dalam wajah merah dan putih para boneka itu, kita membaca perlawanan terhadap keterpisahan, dan usaha kolektif untuk terus menyatu dengan alam semesta.
Di tengah era yang serba digital dan instan, tradisi seperti Pepetan Wewe mengajarkan kepada kita bahwa makna hidup tidak selalu berasal dari kecepatan atau efisiensi, tetapi dari kebersamaan, keterhubungan, dan penghormatan terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri kita. Maka, selama Pepetan Wewe masih bisa digelar, selama topeng-topeng itu masih berdiri gagah di sepanjang jalan kampung, selama doa-doa masih bergema, selama itu pula masyarakat menjaga harapan, menjaga keseimbangan, dan menjaga warisan yang tidak ternilai ini.













