Pada suatu pagi di awal tahun—tanggal pastinya tidak tercatat—kapal kami melakukan bongkar muat akhir di pelabuhan Batavia. Setelah menurunkan kargo dan mengambil pemberat, tiba perintah resmi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda: kami harus berlayar ke Banten untuk memuat sebuah muatan lada yang akan dikirim kembali ke Batavia. Tanggal keberangkatan ditetapkan secara tegas, yaitu pada 10 Mei. Sebagai tindakan pencegahan agar kapal kami tidak tampak dari pelabuhan Batavia, lencana mastiff ditetapkan untuk dikibarkan—simbol eksklusifitas, karena kapal ini mengangkut dua orang pejabat pengadilan istana dan beberapa penumpang lain, termasuk laki-laki dan wanita yang diutus khusus untuk perjalanan ini sebagai bagian dari hiburan resmi. Mengenai hak istimewa semacam ini, hanya kapal tertentu berisi komisi dari Kompeni yang mendapat dispensasi—yang mana saat itu tidak jadi masalah untuk kami.
Pada pagi tanggal 10 Mei, kapal angkutan berlayar membawa sepuluh peti berisi 50.000 real yang telah disiapkan sebagai pembayaran resmi kepada Raja Banten untuk lada yang akan dikirim. Sekitar pukul 14.00, kapal berlabuh di bawah naungan Pulau Onrust karena angin laut yang sangat kencang. Keesokan paginya, saat fajar menyingsing, kami kembali melanjutkan pelayaran hingga tiba di malam hari di dekat pulau yang disebut Groote Combuis atau Grand–Fougon. Pagi harinya, tanggal 12 Mei, sekitar pukul 15.00, jangkar diturunkan kembali—kali ini di hadapan kota Banten, dengan pemandangan sebuah pulau kecil yang sejak itu dikenal dengan nama Hollands Kerkhof atau Kuburan Belanda.
Secara geografis, Teluk Banten merupakan pelabuhan dengan pertahanan alam yang baik, terbentuk antara Tanjung Banten dan Tanjung Pontang. Di sekitarnya tersebar pulau–pulau kecil, mayoritas tidak berpenghuni kecuali Pulau Poulo-Panjang, yang dihuni oleh komunitas nelayan lokal. Perairannya kaya akan biota—mulai dari aneka ikan laut—khasnya jenis kaalkop, ikan yang bagi kami dipandang setara dengan hake dari Eropa, dan dianggap berkualitas tinggi. Kota Banten sendiri terletak sekitar seperempat liga dari bibir laut, diapit oleh dua anak sungai yang berhulu di pegunungan belakang kota, dan jaraknya sekitar 13 mil dari Batavia.
Jalur darat antara Batavia dan Banten tidak praktis untuk ditempuh oleh orang Eropa, disebabkan hutan lebat, rawa-rawa, dan medan yang membahayakan. Karena alasan ini, pengangkutan barang lebih mengandalkan rute laut dengan mempergunakan perahu ringan nusantara yang disebut vliegers—yang kabarnya dapat menempuh jarak tersebut dalam waktu kurang dari empat jam.
Pada saat kami meninjaunya, sungai utama—yang disebut Sungai Banten—ternyata adalah salah satu dari tiga cabang sungai yang mengalir melewati kota. Muaranya sempit, hanya sekitar sepuluh hingga dua belas depa, menjadikannya tidak dapat dilewati oleh longboat Kompeni saat perairan surut. Tepiannya dipenuhi lumut tebal hingga benteng Speelwyk, dan meskipun berpotensi tertutup endapan pasir, tidak terasa ada upaya pembersihan. Saat pasang tinggi, meningkat antara lima hingga tujuh kaki, barulah perahu-perahu kecil bisa masuk dengan leluasa.
Secara geografis, kota Banten dibangun di dataran rendah di kaki bukit pegunungan yang meluas ke selatan. Beberapa pengunjung menyebutnya dikelilingi tembok pertahanan dari arah laut, namun pada keberadaan saya, hanya benteng “Du Diamant”—yang menyokong istana raja—yang nampak nyata. Permukiman di sekitarnya tidak terlihat seperti kota formal, melainkan berupa gubuk beralas alang-alang dan tanah liat, tersebar tanpa pola jalan jelas, di antara pohon kelapa dan lahan berpagar bambu. Sekitar seperempat liga dari keraton, di arah pegunungan, terdapat hamparan lapang yang disebut Pascébaan, tempat aktifitas kuda kepresidenan berlangsung.
Di tengah hamparan tersebut terdapat sebuah pohon besar dengan sebuah makam di bawahnya, yang dipercayai sebagai tempat peristirahatan salah satu raja terdahulu dan dijadikan pusat kegiatan adat serta prosesi sunatan. Di dekat makam, terdapat bangunan panggung terbuka di atas tiang—tempat pelaksanaan acara adat keluarga kerajaan.
Struktur ibadah utama adalah sebuah masjid bergaya bertingkat—mirip pagoda Melayu—dengan lima atap bertingkat, dibatasi tembok termasuk menara azan, mencerminkan dominasi agama di ranah publik dan pembatasan akses terhadap non-Muslim. Istana raja berada di dalam benteng Intan (“Fort du Diamant”), berbentuk persegi besar dengan panjang 840 kaki dan tebal undakan latar belakang setara. Terdapat bastion sudut dan bulan sabit, serta enam puluh enam meriam berkaliber beragam, beberapa diberi lambang Inggris dan bahkan ada yang dipasang peluru kayu persembahan lokal. Garnisun Belanda ditempatkan di situ sebagai pengawas yang secara nyata mengamankan akses Kompeni, dengan sedikit intervensi dalam internal pemerintahan lokal.
Istana menyimpan sejumlah bangunan—dalem (ruang dalam), paviliun terbuka, gudang kuda, dan bangunan pendamping lain—semuanya dilindungi oleh prajurit aktif siang malam. Pada 27 Mei, delegasi Kompeni diundang untuk audiensi oleh raja. Kedatangan diiringi prosesi protokoler yang mencakup kereta tunggang, musik tradisional, dua garis pagar militer, dan instrumen gamelan khas istana. Raja menyambut kami di sebuah aula yang dihiasi kursi papan imitasi Eropa dan berlatar ruang etiket yang kental. Para permaisuri duduk di deretan kursi berbalut satin, sementara para tamu duduk berhadap-hadapan, menandakan keberpihakan diplomatik dan setting transkulturan nyata antara struktur adat lokal dan estetika barat awal modern.
Jamuan makan menggunakan sajian lokal India yang dipadukan dengan gaya persembahan Eropa—piring perak, kursi, dan meja tinggi—menghidangkan ikan bertabur gula, ayam berbumbu, dan piranti makan porselen yang mencerminkan interaksi kuliner global. Dalam adat makan kerajaan, meniup makanan menunjukkan rasa puas—praktik seremonial yang kemudian ditiru oleh tamu sebagai bentuk penghormatan budaya lokal. Setelah jamuan, kue manis disajikan tetapi diabaikan oleh kaum bangsawan.
Dalam diskusi internal sekitar pukul 10 malam, delegasi diplomatik dan menteri menyampaikan pandangan langsung kepada raja di hadapan para pembesar istana—primer kaum perempuan rajawali dan budak istana yang bertugas tetap menjaga ruang privat raja. Pangeran mahkota duduk di dekat bagian bawah istana, memisah saat jamuan, digadang lebih bijak dibanding sang pewaris tahta.
Pada pukul 14.00 keesokan harinya, kami berpamitan dan diantarkan ke pintu gerbang benteng, diiringi musik istana dan perhormatan resmi—drum, meriam, dan barisan prajurit pengawal.
Tidak lama kemudian, raja pergi ke masjid besar mengenakan jubah serupa pakaian paus, lengkap dengan sorban biru dan sepatu bersulam emas, diarak meriah lengkap pengawalan dengan payung ritual, drum, dan bunyi meriam dari Benteng Speelwyk sebagai tanda penghormatan.
Dalam kegiatan non-diplomatik, delegasi saya dipandu mengunjungi reruntuhan Grobbezak—bangunan peninggalan Portugis, diwarnai mitos lokal soal buaya dan roh penjaga—serta makam wali suci di bukit Gounong Santri, tempat warga setempat menaruh penghormatan tinggi dengan struktur berundak dan pagar putih yang menandakan sektarianis religius.
Pada tanggal 15 Mei, muatan lada resmi dimuat dari gudang istana sebanyak 70.000 pon bawah pengawasan ketat dari staf Kompeni dan pengawas istana—sistem pengukuran menggunakan satuan bharens dan picol dari sistem lokal, di mana setiap bharens setara dengan tiga picol atau 125 pon.
Pada 28 Mei, kargo lintas laut dikompilasi: lada hitam sejumlah 3.010 bharens, lada putih sebesar delapan bharens, totalsetara 1.128.840 pon. Pemuatan selesai dan kapal dipersiapkan untuk keberangkatan, diberi penghormatan 13 tembakan meriam Balas oleh Speelwyk, menandai akhir misi dagang.
Saat kembali, kami menjumpai armada Kompeni terdiri dari kapal kapal bernama Ouderamstel, Ganzehoef, Cornelia-Jacoba, dan Ritthem—mewakili pangkalan dagang Amsterdam, Hoorn, dan Delft—masing-masing melontarkan 13 tembakan meriam sebagai penghormatan bersama, kami membalas dengan 11.
Setelah proses pemuatan selesai dan pelaporan akhir dikirim ke pusat pemerintahan di Batavia, suasana dalam kapal berubah. Bukan hanya karena tekanan tugas resmi yang telah tuntas, melainkan karena nuansa spiritual dan historis dari tanah Banten masih melekat dalam benak setiap awak. Pengalaman menyaksikan prosesi keagamaan, interaksi dengan struktur istana, hingga percakapan simbolik di makam para wali telah membuka mata banyak dari kami akan kedalaman makna kebudayaan lokal yang jauh melampaui pandangan dunia kolonial yang cenderung simplistik.
Dalam hari-hari menjelang keberangkatan, saya pribadi menyempatkan diri untuk kembali mengunjungi kawasan perbukitan yang oleh penduduk disebut Gunung Santri. Lokasi ini bukan hanya menjadi tempat ziarah, melainkan simbol dari kedalaman spiritual Islam lokal yang bercampur dengan tradisi Nusantara kuno. Di sana, saya menemukan kompleks pemakaman tua dengan batu nisan bersurat Arab dan simbol-simbol yang tidak sepenuhnya dapat saya mengerti. Saya sempat bercakap-cakap dengan seorang penjaga tua yang menyebut bahwa para wali yang dimakamkan di sana bukan sekadar penyebar agama, tetapi juga pengatur cuaca, penjinak binatang, dan penentu hasil panen.
Tentu saja, bagi nalar barat ini adalah tahayul, namun dalam hati kecil saya, ada rasa hormat dan ketundukan pada dimensi iman yang tidak bisa dijelaskan dengan logika imperial.
Hari-hari di Banten seolah menjelma menjadi lembar-lembar buku antropologi hidup. Ketika saya berkunjung ke pasar kota yang dikenal dengan sebutan Pasar Lama, saya menyaksikan tumpukan komoditas lokal—lada, pala, kayu gaharu, kemenyan, bahkan kain tenun dari pedalaman. Para pedagang bercampur antara Tionghoa, Arab, Jawa, dan lokal Banten, saling tawar-menawar dengan bahasa yang penuh isyarat, sandi budaya, dan lapisan makna. Di tempat itu pula saya mengamati para dukun, tabib, dan pengembara Sufi menjajakan jimat, doa, dan mantra dengan harga yang tidak pernah pasti, karena ‘kesaktian’ tidak bisa diukur dengan timbangan atau mata uang logam.
Kunjungan terakhir saya adalah ke sebuah rumah tua yang dipercaya sebagai tempat tinggal dari juru tulis kerajaan. Di sana saya melihat dokumen yang ditulis dalam huruf Arab-Jawi, campuran Melayu dan bahasa lokal, serta simbol-simbol yang oleh penerjemah saya disebut “rajah” atau “mantra pengikat.” Teks-teks itu tidak hanya berbicara tentang hukum atau perintah dagang, tetapi juga berisi petunjuk spiritual, sistem pengobatan, hingga ramalan waktu tanam. Saya menyadari, dalam kebudayaan Banten, pemisahan antara agama, sains, dan seni hampir tidak ada—semuanya menyatu dalam naskah, dalam tradisi tutur, dan dalam kesadaran kolektif rakyat.
Hari keberangkatan akhirnya tiba. Ketika layar kapal dibentangkan dan jangkar diangkat, saya berdiri di geladak menghadap daratan. Kabut tipis menyelimuti pesisir, dan suara azan subuh dari menara masjid terdengar seperti salam perpisahan. Perjalanan kembali ke Batavia memakan waktu lebih cepat karena arah angin bersahabat, namun hati kami membawa beban yang lebih berat—bukan karena lada, tetapi karena kesadaran bahwa kami telah memasuki dunia yang berbeda, dunia yang tidak bisa sekadar dipetakan dengan kartografi barat, tetapi harus dimengerti melalui kacamata manusia dan jiwa.
Sesampainya di Batavia, saya menghadap Gubernur Jenderal untuk melaporkan seluruh kegiatan. Saya menyampaikan rincian tentang muatan, tentang resepsi kerajaan, tentang kondisi sosial-politik, serta tentang interaksi yang terjadi. Namun saya menyimpan sebagian dari kesan saya yang terdalam—karena saya tahu, dalam birokrasi kolonial, tidak semua pengalaman bisa dijelaskan dalam angka dan protokol.
Banten bukanlah sekadar pelabuhan lada; ia adalah simpul dari masa lalu dan masa depan. Di sana, laut tidak hanya memisahkan pulau-pulau, tetapi juga menyatukan kebudayaan. Di sana, setiap batu bata istana, setiap meriam di benteng, dan setiap garis di naskah kuno menjadi saksi bisu dari pertarungan antara kekuasaan dan makna, antara dominasi dan pengertian. Sejarah, ternyata, tidak hanya ditulis oleh mereka yang menang, tetapi juga oleh mereka yang mengingat—dan saya, dalam keberuntungan yang sederhana sebagai pengamat, akan terus mengingat Banten bukan hanya sebagai koloni dagang, tetapi sebagai dunia yang penuh pesan dari masa lalu.
Setelah peristiwa itu, saya tetap berkirim surat dengan seorang guru sufi yang saya temui di Gunung Santri. Kami tidak berbicara tentang lada, politik, atau kekuasaan, tetapi tentang makna waktu, tentang bahasa doa, dan tentang harapan. Surat-surat itu menjadi arsip kecil pribadi saya yang menyimpan apa yang tidak bisa diucapkan dalam laporan resmi: bahwa Banten, dengan segala kerumitannya, adalah tempat di mana roh dan sejarah berjumpa.
Demikianlah catatan perjalanan saya yang mungkin akan menjadi bagian kecil dari sejarah besar yang suatu hari nanti akan dikenang bukan hanya karena lada dan diplomasi, tetapi karena ia adalah tempat di mana kekuatan dan kelembutan, mitos dan realitas, dunia lama dan dunia baru bertemu dalam satu garis pantai.***













