PENDAHULUAN
Banten, yang dikenal dalam ejaan kolonial sebagai “Bantam,” merupakan salah satu wilayah paling signifikan secara historis, geografis, dan sosial dalam sejarah Jawa dan Hindia Belanda. Kajian mendalam yang dilakukan oleh A.J.C. Krafft pada tahun 1928 dalam Tijdschrift voor Economische Geographie menyajikan potret kompleks wilayah ini, mulai dari kondisi geologis hingga dinamika sosial politik yang membentuk karakter masyarakatnya. Artikel tersebut tidak hanya menjadi catatan geografis, tetapi juga kritik kolonial terhadap keterbatasan pembangunan dan kegigihan perlawanan lokal terhadap kekuasaan asing.
Asal-usul Nama dan Posisi Geografis
Krafft membuka telaahnya dengan membahas asal-usul nama “Banten” yang masih menjadi bahan spekulasi linguistik dan etimologis. Beberapa hipotesis menyebutkan bahwa nama ini berasal dari kata “emban-inten,” atau merupakan bentuk perubahan fonetik dari “Batang.” Dalam hal geografis, Banten terletak strategis di antara Laut Jawa, Selat Sunda, dan pegunungan di bagian timur, menjadikannya jalur penting sejak masa perdagangan kuno. Kondisi geografis ini kelak menjadikan Banten sebagai lokasi persaingan kekuatan maritim dari lokal maupun asing, termasuk VOC, Inggris, dan Kesultanan Islam.
Struktur Geologi dan Potensi Sumber Daya
Krafft mencatat secara rinci struktur geologi Banten, yang terdiri dari batuan vulkanik, lapisan eosen, hingga formasi batu bara dan logam. Kawasan Gunung Karang, Gunung Pulosari, dan Danau Kawah termasuk dalam wilayah eksplorasi. Usaha kolonial untuk menambang batu bara dan logam di daerah Bajah, Tjimandiri, dan Bodjongmanik mencerminkan potensi sumber daya yang sebenarnya besar, namun terkendala akses dan resistensi lokal.
Kondisi Ekonomi: Pertanian dan Ketimpangan
Ekonomi Banten dalam era kolonial digambarkan dalam kondisi stagnan. Meski pertanian padi menjadi tulang punggung, kualitas tanah dan teknik budidaya yang tradisional membuat hasil pertanian tidak maksimal. Tanah di Banten diketahui miskin unsur hara seperti fosfor dan kalium. Program irigasi besar seperti proyek Pamarajan dan kanal Tirtayasa (Sultankanaal) dibangun oleh kolonial, namun manfaatnya tidak merata. Selain padi, tanaman lain seperti karet, kelapa, ubi, dan jagung juga dibudidayakan, tetapi kurang mampu mengangkat kesejahteraan petani secara signifikan.
Demografi dan Mobilitas Penduduk
Banten dikenal sebagai salah satu wilayah yang berpenduduk jarang dibandingkan Jawa bagian tengah dan timur. Rata-rata kepadatan penduduk hanya sekitar 113 jiwa per km². Banyak masyarakat Banten bermigrasi sebagai buruh ke Batavia, Priangan, dan bahkan Lampung. Ketimpangan antar wilayah sangat nyata: Serang sebagai pusat pemerintahan dan lalu lintas padat, sementara Lebak tertinggal dan sulit diakses.
Infrastruktur dan Konektivitas
Pada masa Krafft menulis, jaringan kereta api dan jalan telah menghubungkan Batavia dengan Serang, Tjilegon, dan Labuan. Jalur ini penting untuk mobilisasi hasil bumi dan pergerakan militer. Irigasi besar juga dibangun untuk mendukung pertanian, namun Krafft mencatat bahwa sebagian besar proyek infrastruktur kolonial tidak mampu mengatasi kendala geografis dan resistensi sosial.
Sejarah Politik dan Perlawanan Lokal
Bagian paling menarik dari artikel Krafft adalah kajian sejarah politik Banten, yang kaya akan dinamika perlawanan terhadap kekuasaan luar. Dari Islamisasi oleh Sunan Gunung Jati (1526), konflik dinasti antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji (1682), hingga pemberontakan rakyat tahun 1850, 1888, dan 1926, Banten selalu tampil sebagai wilayah yang “sulit dikendalikan.”
Pemberontakan Cilegon 1888 yang melibatkan ulama tarekat menjadi sorotan penting karena menunjukkan keterkaitan antara kesadaran agama dan politik lokal. Demikian pula, pemberontakan komunis tahun 1926 di wilayah Petir dan Labuan dipandang Krafft sebagai ekspresi radikalisasi akibat kemiskinan dan ketidakadilan kolonial.
Struktur Sosial, Agama, dan Budaya Lokal
Krafft memberikan perhatian besar terhadap struktur sosial masyarakat Banten yang didominasi oleh Islam ortodoks. Para ulama, guru ngaji, dan haji memainkan peran penting sebagai otoritas sosial. Tarekat Sufi seperti Qadiriyah dan Naqsyabandiyah menyebar luas dan menjadi basis resistensi ideologis terhadap kontrol kolonial.
Kelompok Badu’i (Baduy) disebut sebagai komunitas unik yang mempertahankan sistem kepercayaan pra-Islam, hidup dalam isolasi geografis dan sosial. Bagi Krafft, keberadaan Baduy menjadi simbol keberagaman budaya Banten yang tidak sepenuhnya terserap dalam narasi Islamisasi atau kolonialisasi.
Bahasa dan Karakter Sosial
Banten memiliki peta linguistik yang kompleks: wilayah barat dan tengah berbahasa Jawa Banten, sementara selatan (Lebak dan sekitarnya) berbahasa Sunda. Dialek lokal mencerminkan perpaduan antara pengaruh pesisir dan pedalaman. Karakter sosial masyarakat Banten digambarkan sebagai keras, merdeka, hemat, religius, tetapi juga konservatif dan kurang responsif terhadap program modernisasi kolonial.
Penutup
Artikel A.J.C. Krafft memberikan potret Banten yang sangat komprehensif pada era akhir kolonial. Ia tidak hanya mencatat kondisi geologi dan ekonomi, tetapi juga menggarisbawahi kompleksitas sosial-politik yang membentuk watak Banten sebagai wilayah yang tidak pernah sepenuhnya tunduk. Melalui kombinasi antara observasi geografis dan kritik sosial, Krafft menyuguhkan dokumen penting untuk memahami bagaimana Banten dipandang dari lensa kolonial, dan bagaimana masyarakatnya terus menunjukkan semangat perlawanan yang hidup dalam sejarah panjangnya.
Daftar Referensi
• Krafft, A.J.C. (1928). “Bantam.” Tijdschrift voor Economische Geographie, Desember 1928.
• Ricklefs, M.C. (2001). A History of Modern Indonesia since c.1200. Stanford University Press.
• Kartodirdjo, Sartono. (1966). The Peasants’ Revolt in Banten in 1888. Martinus Nijhoff.
• Guillot, Claude. (1990). Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X–XVII. Penerbit EFEO-KPG.













