BANTENCORNER.COM – Peringatan hari santri merupakan momentum pengingat bahwa santri selalu mempunyai peran penting, untuk bangsa Indonesia ini dari dulu hingga sekarang sesuai kebutuhan zaman.
Dulu santri diminta angkat senjata karena bangsa ini memanggil. Dengan segala kemampuan sipil yang dimiliki, semangat heroik dan iman di dada yang kuat, santri ikut fatwa jihad membela tanah air oleh kiai untuk berperang membela bangsa dari serangan penjajah yang datang kembali melalui Surabaya.
Setelah itu, selama puluhan tahun peran santri itu “dihilangkan” sejarah. Di sekolah-sekolah dan masyarakat hanya diberi tahu dengan kata kunci “peristiwa 10 November hari pahlawan, arek-arek Suroboyo dan Bung Tomo”. Framing yang menegasikan peran santri, pesantren dan kiai.
Selama bangsa ini berdiri, santri tidak banyak menuntut. Era kepemimpinan orde baru berkuasa, selama itu pula kalangan pesantren dipinggirkan oleh kekuasaan. Tapi santri terus berlaku baik. Tidak pernah ada cerita pemberontakan bahkan dalam pikiran. Hal ini karena didikan para kiai yang mengajarkan kesabaran, rasa syukur, hikmah dan nasionalisme yang kuat. Alih-alih melakukan “demonstrasi” pesantren terus melakukan adaptasi dengan perkembangan zaman. Seperti kata kaidah yang diajarkan di pesantren “memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai barunyang lebih baik.
Santri juga seringkali menjadi game changer. Seperti dalam peristiwa 22 Oktober dan 10 November, terbukti santri mampu membawa angin perubahan sehingga kita bisa membasmi penjajah secara “kaffah”. Tidak hanya itu, Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto, akhirnya mendapatkan kemenangan setelah mendapat dukungan dari mayoritas kalangan pesantren baik secara kelompok atau dirasakan lebih dekat dengan pesantren.
Di tiap-tiap pesantren kini mengalami banyak perubahan ke arah yang beradaptasi dengan perubahan zaman. Jika dulu pesantren hanya mengaji, sekarang kita bisa melihat bahwa pesantren-pesantren cukup serius membaca perkembangan zaman dalam menyusun kurikulum pesantren. Tidak hanya mengkaji Alquran, hadits atau kitab kuning, banyak pesantren mengajarkan ilmu pengetahuan umum bahkan pengajaran lifeskill.
Jika dulu santri pernah “dihilangkan” sejarah , kini, santri tidak hanya mendapat tantangan dinegasikan perannya. Tapi bahkan di framing keji oleh media sekecil Trans 7. Protes dilakukan tapi tetap saja penuh dengan identitas khas santri yang selalu mengutamakan adab.
Selamat hari santri 22 Oktober 2025





















