BANTENCORNER – Di pesisir barat Pulau Jawa, tepatnya di Desa Anyar Lor, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Banten, ditemukan sebuah situs arkeologis yang menyimpan jejak penting tentang sistem kepercayaan, budaya material, dan praktik sosial masyarakat masa prasejarah akhir. Situs ini dikenal sebagai Kuburan Tempayan Anyar Lor, dan menjadi salah satu referensi utama dalam studi arkeologi penguburan di wilayah pesisir Nusantara. Penemuan ini tidak hanya merekam cara manusia mengelola kematian dan relasi dengan leluhur, tetapi juga membuka pemahaman kita tentang hubungan antara ruang geografis, spiritualitas lokal, dan jejaring budaya Asia Tenggara pada masa lalu.
Penemuan situs ini pertama kali dilakukan pada tahun 1955 oleh dua arkeolog, H.R. Van Heekeren dan Basuki, dalam konteks survei awal wilayah pesisir barat Jawa. Mereka menemukan kerangka manusia dalam posisi jongkok yang ditempatkan di dalam tempayan besar dari tanah liat lokal, praktik yang disebut penguburan tempayan primer (primary jar burial). Situs ini kemudian diekskavasi kembali pada tahun 1979 oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang menemukan bentuk penguburan sekunder, yakni tulang-tulang yang dikuburkan di luar tempayan tanpa bekal kubur[1].
Sistem Penguburan dan Struktur Sosial
Praktik penguburan tempayan di Anyar Lor memiliki karakteristik khas yang menunjukkan keteraturan ritual dan simbolisme tinggi. Penguburan primer dilakukan dengan menempatkan tubuh manusia secara utuh dalam posisi jongkok—posisi yang dalam banyak kebudayaan tradisional dimaknai sebagai posisi janin, sebuah simbol kembali ke asal, atau reinkarnasi spiritual[2]. Tempayan bukan hanya berfungsi sebagai wadah fisik, tetapi juga sebagai wadah simbolik yang memfasilitasi peralihan roh dari dunia fana ke dunia leluhur.
Dalam beberapa penguburan, ditemukan pula bekal kubur seperti keramik lokal, periuk kecil, kendi, pedupaan, serta perhiasan logam seperti gelang perunggu berpola pilin. Perhiasan ini tidak hanya menunjukkan status sosial tertentu, tetapi juga mengisyaratkan hubungan antara individu yang dikubur dengan dunia spiritual atau leluhur. Motif pilin itu sendiri menyerupai motif spiral dalam budaya Dongson dari Vietnam, yang dikenal luas sebagai pusat teknologi perunggu Asia Tenggara pada milenium pertama SM[3].
Penguburan sekunder menandai bentuk praktik penyucian ulang terhadap jasad, mengindikasikan keberlanjutan ritual kematian setelah penguburan awal. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Anyar Lor memiliki kepercayaan akan proses transisi roh yang berlangsung bertahap, serupa dengan praktik Ma’nene di Toraja atau Ngaben di Bali[4].
Budaya Material dan Teknologi
Keramik-keramik pengiring dalam penguburan tempayan dibuat dengan teknik cetak tangan dan roda putar, menunjukkan adanya spesialisasi teknologi. Teknik roda putar mengindikasikan kemajuan keterampilan produksi yang tidak hanya terkait fungsi praktis, melainkan juga untuk keperluan ritus kematian[5].
Perhiasan logam yang ditemukan, terutama gelang dan manik-manik dari perunggu, mengisyaratkan kemampuan dalam metalurgi serta keterlibatan dalam jaringan pertukaran barang dan ide di Asia Tenggara. Hal ini mendukung asumsi bahwa masyarakat pesisir Anyar Lor telah masuk dalam fase perundagian, yakni masa keterampilan logam dan struktur sosial yang mulai kompleks[6].
Konteks Temporal dan Jejaring Maritim
Berdasarkan analisis tipologi dan konteks stratigrafi, situs Anyar Lor diperkirakan berasal dari periode 200–500 Masehi, masa peralihan dari prasejarah akhir menuju sejarah awal. Ini adalah periode yang ditandai dengan semakin intensifnya hubungan pelayaran dan perdagangan antara Nusantara dengan dunia luar, terutama India dan Tiongkok. Beberapa arkeolog melihat wilayah ini sebagai bagian dari Maritime Silk Road yang menghubungkan Asia Timur dengan Samudra Hindia[7].
Dalam konteks ini, Anyar Lor kemungkinan besar berperan sebagai titik simpul dalam jaringan maritim Austronesia, bersama situs-situs lain di Filipina, Vietnam, dan Kalimantan. Kemiripan artefak dan sistem penguburan memperkuat hipotesis tentang adanya shared cultural grammar dalam jaringan budaya maritim Asia Tenggara[8].
Kosmologi Kematian dan Simbolisme
Dalam kosmologi masyarakat Austronesia, kematian bukanlah akhir, melainkan transisi menuju dunia para leluhur. Penguburan dalam tempayan mencerminkan simbolisme rahim kosmik: jasad yang dikembalikan ke posisi janin menandakan kelahiran kembali dalam siklus spiritual[9]. Tempayan berfungsi sebagai media transisi yang sakral, tempat terjadinya perubahan dari manusia duniawi menjadi entitas spiritual.
Sikap ini juga tercermin dari keberadaan bekal kubur yang menyertai jasad: keramik, perhiasan, bahkan pedupaan, menjadi simbol penyertaan dalam perjalanan roh. Ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pandangan holistik mengenai keberlanjutan hidup setelah kematian, di mana dunia arwah tetap berinteraksi dengan yang hidup melalui ritus dan penghormatan leluhur[10].
Transformasi Ruang dan Pengabaian Memori Kolektif
Sayangnya, sejak dekade 1980-an, kawasan situs berubah menjadi pemukiman. Tanpa perlindungan hukum dan kebijakan pelestarian, jejak arkeologis situs Anyar Lor semakin terhapus dari lanskap dan kesadaran masyarakat. Padahal, jika dikelola dengan pendekatan berbasis komunitas, situs ini dapat menjadi pusat pembelajaran sejarah dan spiritualitas lokal[11].
Artefak-artefak yang dahulu ditemukan—kerangka, tempayan, dan bekal kubur—kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia, namun tidak selalu dipamerkan dalam konteks yang menjelaskan lanskap dan budaya asalnya. Ketidakhadiran narasi kontekstual ini menciptakan keterputusan antara masyarakat lokal dan warisan budayanya[12].
Anyar Lor sebagai Portal Memori Maritim Nusantara
Kuburan Tempayan Anyar Lor adalah cermin dari dinamika spiritual, sosial, dan ekonomi masyarakat pesisir Banten masa lalu. Situs ini merepresentasikan kompleksitas simbolik tentang hidup, mati, dan kelahiran kembali, yang ditransformasikan ke dalam praktik penguburan dan ritus pemakaman. Ia juga menunjukkan betapa masyarakat prasejarah tidak terisolasi, tetapi terhubung dalam jaringan budaya luas yang melintasi lautan.
Sudah saatnya situs seperti Anyar Lor mendapatkan perhatian yang setara dengan nilai sejarah dan kosmologisnya. Pelestarian, edukasi publik, dan pemaknaan ulang terhadap situs ini akan memperkuat identitas kolektif masyarakat Banten serta memperluas pemahaman kita tentang spiritualitas maritim dan jejak-jejak peradaban Austronesia di Nusantara.
Catatan Kaki:
[1] Van Heekeren, H.R. (1958). The Bronze-Iron Age of Indonesia. The Hague: Martinus Nijhoff.
[2] Spriggs, Matthew. (1996). The Island Southeast Asia Neolithic. Dalam Bellwood, Fox & Tryon (Eds.), The Austronesians: Historical and Comparative Perspectives.
[3] Bellwood, Peter. (2007). Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. Canberra: ANU Press.
[4] Simanjuntak, Truman. (2008). Arkeologi Indonesia: Dari Masa Prasejarah hingga Islamisasi. Jakarta: KPG.
[5] Basuki, H. (1979). “Laporan Ekskavasi Situs Anyar Lor.” Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
[6] Miksic, John. (2004). Old Javanese Gold. Jakarta: Editions Didier Millet.
[7] Manguin, Pierre-Yves. (2009). “Southeast Asian Shipping and Ports.” Dalam The Encyclopedia of Maritime History.
[8] Solheim, Wilhelm G. II. (2006). The Nusantao Maritime Trading and Communication Network. University of the Philippines.
[9] Fox, James J. (1980). The Flow of Life: Essays on Eastern Indonesia. Cambridge: Harvard University Press.
[10] Geertz, Clifford. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
[11] Megatrust News. (2023). “Makam Manusia Pra-Sejarah Ditemukan di Anyer.” Diakses dari https://www.megatrust.co.id/…/makam-manusia-pra-sejarah…
[12] Budaya-Indonesia.org. (n.d.). “Kubur Tempayan Anyar Lor.” Diakses dari https://budaya-indonesia.org/Kubur-Tempayan-Anyer-Lor













