BantenCorner.Com – Aroma kopi pahit menyapa lagi pagi ini, kali ini terbesit pikiran alami yang tumbuh dari hasil kompleksitas berbagai kehidupan manusia. Di seberang jalan, duduklah dia, sosok yang selalu terbungkus dalam aura amarah. Seolah-olah dunia ini telah berutang padanya, dan setiap orang yang berpapasan dengannya adalah calon debitur yang siap diburu.
Dia adalah manusia kertas, terlipat oleh amarah, tergores oleh kekecewaan. Setiap kata yang terlontar dari bibirnya bagaikan pisau tajam yang siap melukai. Setiap tatapan matanya seperti panah beracun yang siap menembus jantung.
Kehidupannya dipenuhi dengan perhitungan yang tidak sederhana. Setiap kebaikan yang diberikan harus dibayar lunas, setiap bantuan yang diterima harus dibalas dengan setimpal. Seolah-olah hidup ini adalah transaksi jual beli, di mana setiap orang memiliki harga dan nilai yang harus dibayar.
Dia mudah tersinggung, seolah-olah kulitnya terbuat dari kaca yang rapuh. Setiap kritik, setiap lelucon, setiap perbedaan pendapat, bisa dengan mudah memicu amarahnya. Dia menganggap dirinya selalu benar, dan siapa pun yang berani menentang pendapatnya adalah musuh yang harus ditaklukkan.
Dia hidup di dunia yang penuh dengan ketakutan, kemalasan dan kecurigaan. Dia takut kehilangan, takut dikhianati, takut direndahkan dan takut disakiti. Ketakutan itu membuatnya menjadi pribadi tertutup, yang sulit untuk dipercaya, dan yang sulit untuk dicintai.
Manusia kertas, terlipat oleh amarah, tergores oleh kekecewaan. Dia adalah cerminan dari hati yang kering, yang kehilangan sentuhan kasih sayang. Dia adalah bukti bahwa amarah dan perhitungan bisa menghancurkan jiwa dan meracuni kehidupan.
Namun, di balik semua itu, mungkin tersembunyi sebuah luka lama yang belum sembuh. Mungkin dia pernah merasakan kekecewaan yang amat dalam, perihnya pengkhianatan, dan pahitnya kehilangan. Luka itu, yang tak terobati, menghantuinya, menjadikan dirinya seperti manusia kertas yang rapuh dan mudah terluka.
Sambil menyeruput kopi pahit yang terasa sedikit manis di lidah, saya berharap agar dia bisa menemukan jalan untuk menyembuhkan luka batinnya. Semoga dia bisa melepaskan diri dari cengkeraman amarah dan perhitungan yang menghancurkan jiwanya. Semoga dia bisa menemukan kembali kasih sayang dan kehangatan yang telah lama hilang.
Perlu saya sampaikan, opini ini merupakan refleksi pribadi saya yang ditulis dengan bahasa metaforis dan imaji yang vivid. Walaupun bersifat subjektif, saya berusaha memberi nilai universal yang bisa dihubungkan dengan pengalaman secara umum. Saya berharap ini akan menjadi pelajaran bagi setiap pembaca dan saya yakin bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berubah dan untuk menemukan kembali kebaikan dalam dirinya.***













