Di sepanjang tepian utara Pulau Jawa, tempat ombak mencium daratan dan angin membawa nyanyian dari masa silam, membentang sebuah lanskap yang menyimpan lebih dari sekadar peta geografi—ia menyimpan ingatan. Pesisir Teluk Banten adalah ruang simbolik tempat waktu melipat dirinya dalam lapisan tanah, air asin, dan desir angin yang tak pernah tidur. Dari Tanjung Pujut di Puloampel, Bojonegara, Kasemen, hingga Tanjung Pontang, masyarakat yang mendiami wilayah ini hidup bukan hanya sebagai bagian dari lanskap pantai, tetapi sebagai penjaga memori, pewaris semesta tanda dan makna yang tak seluruhnya dapat dijelaskan dalam bahasa modern.
Mereka hidup dalam ritus dan cerita, dalam laku yang merawat misteri bukan sebagai sesuatu yang asing atau menakutkan, melainkan sebagai bagian dari keseharian yang akrab. Dalam dunia ini, waktu tidak berjalan lurus, melainkan membentuk pusaran; dan ruang tidak hanya berisi benda, tetapi juga dihuni oleh rasa dan kehadiran yang tidak kasatmata.
Masyarakat pesisir Teluk Banten menyimpan tradisi yang tidak dicatat dalam aksara resmi, tetapi dalam gerak tubuh dan irama batin. Seperti gelombang yang datang dan pergi, tradisi mereka diwariskan bukan melalui kitab, tetapi melalui dapur, warung, mushola, dan kebiasaan diam yang sarat makna. Dalam konteks ini, misteri bukan berarti keasingan, tetapi kehadiran dunia yang tak seluruhnya dapat dijelaskan.
Dunia yang tidak tunggal: dunia yang kasat dan tak kasat, dunia yang bisa disentuh dan hanya bisa dirasakan dalam bisikan, dalam mimpi, dalam tanda-tanda yang hanya dipahami oleh mereka yang masih mendengarkan dengan batin. Dalam masyarakat ini, bumi bukan sekadar tanah yang dipijak, tetapi tubuh yang menyimpan sejarah, luka, kesetiaan, dan harapan. Tanah bukan benda mati; ia hidup dan berbicara melalui simbol, melalui peristiwa, melalui bentuk-bentuk kehadiran yang terkadang hanya muncul dalam perasaan atau mimpi.
Dalam keseharian masyarakat Teluk Banten, tempat bukan sekadar koordinat geografis, tetapi ruang hidup yang bersifat kosmologis. Sebuah tanjung, teluk, atau kampung kecil menyimpan nilai-nilai simbolik yang terhubung dengan sejarah spiritual, perjuangan, dan relasi gaib dengan dunia yang lebih besar dari apa yang tampak di mata.
Misalnya, nama-nama seperti Tanjung Pujut atau Bojonegara tidak hanya menunjuk lokasi, tetapi juga narasi yang tertanam dalam sejarah lokal dan sistem kepercayaan masyarakat. Ada cerita tentang para wali yang menyinggahi pantai-pantai ini, tentang pertapaan yang dilakukan di gua-gua kecil yang kini tersembunyi di balik semak dan rerimbunan bambu, tentang perjanjian-perjanjian spiritual yang pernah mengikat antara manusia dan penjaga alam. Nama-nama ini hidup dan terus menyuarakan gema sejarah, tidak dalam bentuk dokumen, melainkan dalam memori kolektif, dalam getar bahasa dan simbol yang diwariskan turun-temurun.
Hubungan antara masyarakat dan ruang pesisir ini dibentuk oleh pengalaman sejarah yang panjang, termasuk sejarah perniagaan maritim, kolonialisme, islamisasi, dan praktik keagamaan lokal. Seiring dengan datangnya pedagang dari berbagai bangsa—Arab, Gujarat, Cina, dan Eropa—pesisir Banten menjadi ruang perjumpaan dan percampuran. Namun di tengah mobilitas global itu, masyarakat tetap merawat inti dari identitas mereka: sebuah cara hidup yang mengakui adanya kekuatan lain dalam alam, kekuatan yang tidak seluruhnya rasional tetapi sangat nyata dalam keseharian mereka. Di banyak tempat, kita masih bisa menjumpai sesaji kecil di bawah pohon, nyanyian yang dinyanyikan sambil menjemur ikan, atau doa-doa yang dilafalkan dengan setengah bisikan saat angin laut mulai kencang. Semua ini adalah bentuk-bentuk pengetahuan yang tidak muncul dalam bentuk teori, tetapi dalam praksis, dalam tindakan yang mengandung makna kosmologis dan spiritual.
Memori batin masyarakat pesisir Teluk Banten juga tampak dalam cara mereka memahami waktu. Tidak semua masyarakat memahami waktu secara linier sebagaimana jam modern mengaturnya. Di sini, waktu seringkali dipahami sebagai siklus, sebagai perulangan musim, arus, dan ritus. Waktu hidup dalam bentuk haul (peringatan tahunan), dalam musim melaut, dalam peringatan hari-hari tertentu yang diyakini memiliki kekuatan gaib. Kehidupan tidak hanya bergerak ke depan, tetapi juga berputar kembali ke masa lalu yang dianggap sakral.
Dalam haul para leluhur, yang diadakan dengan pembacaan doa dan makan bersama, masa lalu hadir kembali bukan sebagai kenangan, tetapi sebagai kehadiran. Para leluhur tidak hanya diingat, mereka dihadirkan—duduk bersama dalam batin, dilibatkan dalam kehidupan, dan dihormati sebagai bagian dari sistem nilai yang hidup.
Dalam ritus-ritus tertentu, terutama yang berkaitan dengan laut, kita menyaksikan perpaduan antara ajaran Islam, kepercayaan lokal, dan sisa-sisa kosmologi animistik.
Di Teluk Banten, tidak aneh jika seseorang yang hendak melaut membawa air dari sumur tertentu yang dianggap bertuah, atau meletakkan bunga di laut sebagai bentuk komunikasi simbolik dengan “penjaga” laut. Ini bukan bentuk takhayul dalam arti peyoratif, tetapi cara hidup yang mengakui adanya relasi spiritual antara manusia dan alam.
Dalam dunia modern yang cenderung memisahkan rasio dan rasa, masyarakat pesisir ini justru mengajarkan bahwa hidup yang utuh adalah hidup yang tidak memutus hubungan dengan dimensi lain dari kenyataan—bahkan jika dimensi itu tidak bisa dijelaskan secara empiris. Mereka tidak menolak pengetahuan modern, tetapi memiliki cara sendiri untuk memahami kehidupan dan kematian, hadir dan tidak hadir, suara dan diam.
Di warung-warung kecil dan beranda rumah panggung, cerita-cerita turun-temurun mengalir tanpa skrip. Mereka hadir dalam bentuk dongeng, cerita lucu, nasihat, atau kisah gaib yang diceritakan dengan gaya lirih dan pelan. Cerita-cerita ini bukan hiburan, melainkan transmisi pengetahuan. Ia menyimpan nilai moral, petunjuk etis, dan panduan simbolik yang kadang hanya bisa dipahami melalui intuisi budaya. Dalam kisah-kisah ini, tokoh-tokoh tidak hanya manusia, tetapi juga makhluk lain—ikan, angin, batu, dan pohon—yang semuanya memiliki peran dalam semesta kehidupan. Di sinilah tampak bahwa masyarakat pesisir Teluk Banten memiliki kosmologi yang luas dan inklusif, yang memungkinkan mereka merangkul banyak bentuk kehadiran dalam satu sistem makna yang menyatu.
Di antara berbagai bentuk ekspresi kultural yang mereka miliki, musik, pantun, dan mantra juga menjadi bentuk pengikat antara dunia manusia dan dunia simbolik. Pantun yang disampaikan bukan sekadar permainan kata, melainkan bentuk pengingat terhadap tatanan moral dan keindahan hidup. Lagu-lagu nelayan yang dinyanyikan saat melaut bukan sekadar untuk mengusir sepi, melainkan bagian dari persekutuan spiritual dengan laut dan angin. Bahkan mantra yang dilafalkan oleh para tetua sebelum memulai suatu pekerjaan besar menjadi bagian dari cara merawat hubungan dengan kekuatan yang lebih besar dari manusia.
Dalam masyarakat ini, kata-kata tidak hanya memiliki makna linguistik, tetapi juga daya performatif—kata dapat mengubah kenyataan, menenangkan badai, atau menyembuhkan luka. Kata adalah kekuatan, dan kekuatan itu dijaga dalam tubuh masyarakat, dalam memori yang tidak tertulis.
Kondisi geografis pesisir Teluk Banten yang berada di antara laut dan daratan, antara pelabuhan dan pedalaman, turut membentuk watak masyarakatnya. Mereka menjadi terbuka terhadap perjumpaan, namun tetap kokoh dalam identitasnya. Laut memberi mereka mata pencaharian, tetapi juga tantangan dan resiko. Dalam hubungan dengan laut ini, kita bisa melihat semacam “etos pasrah aktif”—mereka menyerahkan diri pada takdir alam, tetapi tidak pasif.
Mereka tetap berusaha, tetap menghitung arus dan musim, tetap berdoa dan bekerja, tetapi juga menerima bahwa hidup selalu mengandung unsur tak terduga. Dalam dunia seperti ini, kehadiran yang tidak bisa dirumuskan secara eksak—seperti firasat, mimpi, atau tanda-tanda alam—memiliki tempat yang sah dalam pengambilan keputusan. Mereka membaca langit, merasakan angin, dan mendengar gemuruh tanah sebagaimana mereka membaca kitab suci dan mendengar khotbah.
Di tengah modernisasi dan tekanan ekonomi global, sebagian besar ekspresi kultural masyarakat ini mulai tergeser. Namun demikian, memori tidak hilang begitu saja. Ia bertahan dalam bentuk-bentuk yang tak terduga: dalam cara seorang ibu menidurkan anaknya, dalam bentuk anyaman keranjang ikan, dalam pola langkah saat menghindari batu karang, atau dalam keputusan untuk tidak memancing di hari-hari tertentu. Bahkan dalam diam, memori itu bekerja. Ia tidak membutuhkan pengakuan formal untuk hidup. Ia terus hadir, berbisik melalui angin yang lewat di sela atap rumah atau suara gemuruh ombak yang menghantam karang.
Kesadaran akan kehadiran dua dunia—kasat dan tak kasat—menjadi fondasi penting bagi cara masyarakat pesisir Teluk Banten memaknai realitas. Mereka tidak hidup dalam dikotomi antara sakral dan profan, tetapi dalam jejaring yang cair dan saling menyerap. Dalam dunia mereka, sebuah batu bisa menjadi penanda sejarah, pohon bisa menjadi tempat keramat, dan teluk bisa menjadi ruang sakral. Semua ini menunjukkan bahwa hidup tidak hanya soal fungsi, tetapi juga soal makna. Tidak semua hal harus berguna secara ekonomi untuk dianggap penting.
Banyak hal yang penting karena ia mengandung sejarah, batin, dan hubungan spiritual yang dalam. Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang pembangunan atau modernisasi wilayah pesisir, kita tidak boleh mengabaikan dimensi-dimensi simbolik dan kultural ini. Tanpa itu, pembangunan hanya akan menciptakan ruang kosong yang hampa makna—ruang yang kehilangan batin, kehilangan cerita, dan kehilangan roh.
Esai ini bukan untuk memuja masa lalu secara romantis, melainkan sebagai pengingat bahwa ada bentuk-bentuk kehidupan yang tidak tercakup dalam statistik, tetapi sangat penting dalam menjaga keseimbangan batin manusia dan alam. Pesisir Teluk Banten adalah contoh dari ruang hidup yang menyimpan kebijaksanaan lokal dalam bentuk yang halus, tetapi kuat. Ia tidak memaksakan diri untuk dipahami, tetapi membuka dirinya bagi siapa saja yang mau mendengarkan dengan hati. Di sinilah tanah bukan hanya tempat berpijak, tetapi juga tubuh sejarah dan batin kolektif; dan masyarakat bukan hanya penghuni, tetapi penjaga dunia yang lebih luas dari apa yang tampak.
Melalui pengamatan ini, kita belajar bahwa yang tersimpan di pesisir Teluk Banten bukan sekadar cerita, tetapi cara melihat dunia—sebuah kosmologi, sebuah spiritualitas, dan sebuah memori. Dan selama angin masih menyapu pantai, selama cerita masih dibisikkan di beranda, selama doa masih terucap di bawah langit malam, maka memori itu akan terus hidup—mengalir seperti ombak, menyentuh tubuh tanah, dan meresap ke dalam batin manusia.***













