Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam rutinitas sebagai mahasiswa dan melupakan pentingnya memiliki keterampilan sosialisasi yang baik. Hal ini dapat menjadi akar masalah dalam hilangnya budaya diskusi yang konstruktif.
Dalam berdiskusi, terdapat beberapa aturan kunci yang perlu diperhatikan agar diskusi dapat berjalan dan berkelanjutan. Namun sebagian besar mahasiswa saat ini memang tidak peduli dengan aturan aturan dan menganggap bahwa itu semua tidak penting atau tidak diperlukan.
Tak hanya itu, lebih buruknya adalah saat mereka berfikir bahwa aturan ini sangat sepele dan tidak perlu dipelajari dan dipahami. Hingga pada akhirnya, walaupun mereka berdiskusi, itu tidak akan berjalan lama dan tidak berkelanjutan, serta menjadi diskusi yang tidak matang.
Tapi siapa sangka, aturan ini tentu menjadi faktor utama hilangnya budaya berdiskusi di kalangan mahasiswa. Lalu kenapa hal yang dianggap sepele ini dapat merusak bahkan membunuh budaya berdiskusi?
Diskusi berarti pertukaran atau saling tukar fikiran, gagasan dan pendapat. Lalu bagaimana dua orang atau lebih bisa berdiskusi tanpa mengetahui aturan aturannya.
Sampai sini kita telah sedikit mendapat pencerahan bahwa agar berjalannya diskusi tidak hanya memerlukan ide atau gagasan yang akan disampaikan, melainkan sebelum itu, pertama yang harus kita pahami adalah cara atau aturan-aturan dalam berdiskusi agar tetap berjalan dan bahkan tidak hanya satu kali, tapi pemahaman ini akan membuat kita terus melakukannya di mana pun dan dengan siapa pun. Ini menyangkut pemahaman kedudukan, etika berkomunikasi, dan dinamika sosial.
Untuk mengembalikan budaya berdiskusi, sangat diperlukan pembelajaran pemahaman dan penerapan ilmu logika, filsafat dan pengetahuan diri. Kenapa ini diperlukan? Bagaimana mempelajarinya? dan jika seseorang tidak memahami dirinya sendiri, lalu bagaiman ia memahami situasi sosial? Lebih jauh lagi, bagaimana ia akan turun ke jalan dan menyuarakan aspirasi rakyat?
Aksioma dalam Filsafat sering kali membuat kita berfokus pada pemahaman diri ‘cogito, ergo sum’ (aku berpikir, maka aku ada). Namun, dalam ruang sosial, pemahaman diri bukan hanya tentang introspeksi. Aliran seperti Hermeneutika, Pragmatisme dan Fenomenologi, berbicara dan mendengar merupakan dua elemen kunci dalam komunikasi, juga diperlukan pemahaman diri yang sangat mendalam.
Lebih lanjut, inilah yang harus kita terapkan:
Memahami Kedudukan Kita sebagai Pembicara dan Pendengar
Sebagai pembicara, kita biasanya fokus pada pesan yang ingin kita sampaikan. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan mempertimbangkan apa yang diharapkan oleh pendengar? Sebaliknya, ketika kita mendengarkan, apakah kita juga mempertimbangkan apa yang mungkin diharapkan oleh pembicara? Dalam berinteraksi, itulah pertama-tama yang perlu kita lakukan, yaitu memahami harapan masing-masing peran.
Dengan menyadari itu, sampailah kita pada titik di mana diskusi berjalan dari awal hingga ahir secara lebih profesional. Lebih dari itu, menanamkan kesadaran ini juga akan membawa kita pada diskusi yang berkelanjutan.
Logika dalam Komunikasi: Waktu dan Topik
Dalam dunia logika, argumen harus relevan dan tepat waktu. Ini juga berlaku dalam komunikasi. Seorang pembicara yang baik selalu menjaga relevansi topik dan menghormati batas waktu, sementara seorang pendengar aktif selalu memberikan umpan balik yang relevan dan tepat waktu.
Dengan demikian muncullah dalam diri setiap peran bahwa keduanya memang berperan penting dalam diskusi.
Mengenali Peran dalam Konteks Komunikasi
Saat komunikasi mulai berlangsung, sejumlah pertanyaan mendasar muncul: sebagai apa kita berbicara? sebagai siapa kita mendengar? Konteks yang sangat penting ada di sini. Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini memungkinkan kita untuk mengalihkan fokus pembicaraan dari diri kita ke dinamika interaksi sosial.
Etika dalam Komunikasi: Kesetaraan
Dalam semua interaksi, kita seharusnya selalu menghargai prinsip kesetaraan—baik itu dalam konteks sosial, budaya, keuangan atau pengetahuan. Jika semua pihak berada pada posisi yang setara, berkomunikasi seolah-olah kita lebih unggul atau cenderung menggurui akan merusak keseimbangan komunikasi dan menciptakan kesan negatif.
Pengaruhnya, diskusi tidak akan berjalan dengan semestinya, dan dengan itu, tentu akan menjadi hal buruk yang menjadi penyebab orang tertentu tidak ingin lagi ikut berdiskusi karena alasan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh perlakuan yang kurang baik dari seseorang yang setara dengan dirinya.
Keterlibatan Hukum dalam Komunikasi
Dalam konteks formal, hukum dan regulasi kadang-kadang juga berperan dalam menentukan bagaimana kita berkomunikasi. Hal ini mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi, menghargai privasi orang lain, dan membiasakan diri dengan etika komunikasi profesional.
Dinamika Sosial dan Inti Filsafat: Pengetahuan Diri
Pengetahuan diri adalah aspek utama yang mempengaruhi komunikasi kita, terlepas dari apakah kita berbicara atau mendengar. Filsafat, ilmu, dan hukum, ketiganya mengajarkan kita pentingnya pengetahuan diri—bukan hanya untuk introspeksi, tetapi juga untuk berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai konteks.
Interaksi sosial tidak hanya melibatkan pembicaraan dan mendengarkan—melainkan menuntut pemahaman diri yang mendalam, penghormatan terhadap etika dan hukum, serta keterlibatan dalam konteks sosial yang lebih luas. Sejak zaman Sokrates, ‘Kenali dirimu sendiri’ telah menjadi fondasi utama Filsafat. Untuk kita, sebagai aktor dalam ruang sosial, kata-kata Sokrates tersebut bukan hanya menjadi dasar pengetahuan diri, tetapi juga mendasari semua komunikasi dan interaksi.*













