BantenCorner – Zaman digital membanjiri kita dengan informasi yang tak henti-hentinya mengalir, arusnya saling berebut perhatian kita. Pada dinamika ini, banyak yang menganggap menulis dengan prosesnya merangkai kata-kata menjadi narasi yang koheren terkesan tampak kuno karena perkembangan zaman yang semakin didominasi oleh tontonan video di berbagai media sosial.
Bahkan alih-alih membaca, lebih memilih untuk menonton, baik video edukasi atau hiburan, karena memiliki visual yang lebih mudah difahami. Banyak yang menganggap menulis hanyalah peninggalan budaya masa lalu yang kini sudah tidak terlalu diperlukan. Karena itulah banyak dari kita memilih untuk tidak menulis, dan tidak melakukannya sama sekali.
Tak hanya itu, banyak juga berpendapat menulis itu sia-sia, kata-kata hanya akan menjadi angin lalu. Tak ada gunanya menulis opini kita tentang ide, gagasan atau teori jika tak ada yang membaca. Pendapat ini walau terkesan masuk akal sebenarnya mengekspos pemahaman cangkat mengenai esensi menulis. Kemungkinan besar mereka tidak pernah menulis ide mereka atau rangkuman 8 paragraf dari satu bab buku yang mereka baca, atau bahkan tidak pernah menulis satu paragraf sama sekali.
Persepsi ini justru keliru, menulis jauh dari kata usang, justru semakin relevan. Di tengah lautan informasi ini, menulis menjadi proses penyaringan, upaya menyuling informasi mentah menjadi pengetahuan matang. Misalnya saat kita membaca sebuah buku, kita mungkin menemukan banyak ide, gagasan, dan informasi baru. Nah, dengan menulis resensi, kita menyaring informasi yang paling penting dan menarik menurut kita, menganalisisnya, menarik kesimpulan, dan akhirnya menyajikan pemikiran kita tentang buku tersebut. Proses ini mengubah informasi dari buku menjadi pengetahuan kita yang lebih personal dan sekaligus reflektif.
Dalam prosesnya, menulis itu seperti Kita sedang memahat batu menjadi patung. Pikiran kita seperti bongkahan batu, awalnya kasar dan belum terdefinisi. Melalui proses menulislah kita secara bertahap memahat dan membentuknya, mengikis bagian yang tidak perlu, dan akhirnya memeragakan sebuah keindahan.
Bagi saya menulis itu hal paling penting yang harus dilakukan. Meski tidak menulis buku, misalnya menulis pandangan kita pada suatu hal, atau setidaknya menulis perjalanan hidup meski tak harus dipublikasi. Tentu ada beberapa alasan. Pertama, proses pembelajaran. Kita dipaksa berpikir sistematis, mengorganisir ide, dan mengeksplor berbagai sudut pandang. Proses inilah yang dapat mengasah kemampuan berpikir kritis dan analitis.
Kedua, menulis sebagai alat untuk penemuan diri. Cara ini efektif untuk merefleksikan pengalaman sehari-hari dan memahami perasaan dan pikiran kita. Misalnya dengan menulis jurnal, kita bisa menemukan pola-pola dalam perilaku kita, menganalisis motivasi di balik tindakan kita, dan menemukan cara untuk mengatasi masalah emosional.
Kita dapat menemukan tujuan hidup kita yang terus berkembang dan menguak motivasi di balik perilaku kita sehari-hari. Dengan membaca kembali tulisan lama, kita bisa melihat bagaimana tujuan dan nilai-nilai kita berubah seiring waktu, menemukan kesalahan dan kelemahan yang mungkin tidak kita sadari sebelumnya, dan bahkan menemukan ide-ide baru yang muncul dari refleksi diri. Inilah yang membantu kita untuk lebih memahami diri sendiri, menyesuaikan tindakan kita dengan nilai-nilai yang kita anut, dan melangkah maju dengan lebih pasti menuju tujuan hidup.
Alasan lainnya kenapa harus menulis bagi saya bisa menjadi jembatan antara realitas dan imajinasi. Dalam buku filsafat berpikir yang mengatakan otak kita sebagai respon dari realitas, memungkinkan kita untuk terus berpikir menciptakan dunia-dunia baru di kepala kita, misalnya menciptakan karakter-karakter khusus dan alur cerita tanpa batas sesuai yang kita ingin. Imajinasi adalah bahan baku tulisan, dimana ide-ide abstrak diwujudkan dalam bentuk kata-kata, membentuk realitas alternatif yang bahkan mampu memicu adrenalin kita, memicu refleksi, dan menginspirasi kita untuk berubah.
Namun, dalam upaya merepresentasikan isi kepala kita dalam penulisan, tidak bisa dibilang mudah. Menulis butuh setidaknya sedikit keberanian mengungkapkan pikiran dan perasaan untuk menghadapi banyak kritik.
Lalu masuk pada pertanyaan selanjutnya yang belum lengkap yang saya paparkan di atas. Mengapa menulis dianggap sia-sia? Jawabannya karena kita terjebak dalam metrik yang menganggap keberhasilan itu hanya dari satu sisi saja seperti jumlah pembaca atau pengakuan publik. Kita lupa bahwa menulis adalah proses intrinsik yang punya nilai tersendiri, terlepas dari hasilnya.
Menulis itu latihan disiplin yang tentunya sangat menuntut ketekunan, keuletan, dan keberanian kita menghadapi berbagai kritik dan penolakan. Latihan inilah yang membentuk karakter kita, memperkuat mentalitas, mengasah kemampuan berpikir, dan memperluas wawasan.
Menulis adalah perang terbesar yang harus kita ciptakan untuk melawan ketidaktahuan dan ketidakadilan, perang melawan diri sendiri yang harus kita menangkan. Terus menulis artinya memberi peluang kita untuk terus belajar, tumbuh, dan berubah, membentuk opini publik, mempengaruhi kebijakan, dan mendorong perubahan sosial yang lebih baik.
Selain itu menulis adalah alat advokasi, menggunakan hak kita untuk bebas berekspresi tanpa batas. Kita bisa mempublikasikannya dengan jangkauan penyampaian pesan kepada audiens di seluruh penjuru dunia, melampaui batasan geografis dan politik yang membatasi bentuk-bentuk advokasi konvensional.
Melalui tulisan, suara-suara yang kecil yang terpinggirkan dapat didengar, isu-isu yang terabaikan dapat disorot, dan perubahan sosial dapat dipicu, dan terakhir yang paling penting bagi saya sebagai mahasiswa biasa, yakni menciptakan ruang dialog dan aksi, menemukan ide-ide baru dan memecahkan masalah dengan cara yang sebelumnya bahkan tak ada di dalam kepala kita.**













