BANTENCORNER – Dalam lanskap budaya pesisir Banten, makanan tidak sekadar santapan, tetapi jendela pengetahuan yang mencerminkan tatanan nilai, simbol sosial, dan tafsir spiritual. Salah satu sajian lokal yang sarat makna adalah Sambel Edan, sebuah olahan urap tradisional yang biasanya hadir dalam arak-arakan pengantin atau upacara khitanan. Meskipun tampak sederhana, hidangan ini mengandung filosofi hidup yang dalam: tentang keberanian, kerjasama, dan keterikatan antara manusia, alam, dan komunitas. Tradisi ini masih lestari di kampung-kampung Desa Manunreja dan Desa Kedungsoka, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang, sebagai bagian dari warisan budaya yang hidup dan terus berkembang.
Sambel Edan dimulai dari sebuah prosesi kolektif yang melibatkan peran-peran sosial yang khas dan berlapis. Tugas mencari daun-daun muda—bahan utama dari Sambel Edan—sepenuhnya diemban oleh para laki-laki lajang. Dalam masyarakat lokal, para bujang ini merepresentasikan semangat muda yang siap tumbuh dan menapaki tahapan hidup selanjutnya. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok pencarian: ke gunung, sawah, dan pesisir pantai. Dari gunung, mereka memetik daun singkong, pepaya, bayam hutan, dan tanaman liar yang bisa direbus. Dari sawah, mereka mengumpulkan daun genjer, melinjo, dan jambu. Dari pantai, mereka mengambil pucuk-pucuk beluntas, daun kecipir muda, dan semak khas pesisir yang bisa dimasak.
Pencarian daun muda ini bukan sekadar aktivitas logistik, melainkan sebuah ritus kolektif yang menguji kepekaan ekologis, daya tahan fisik, dan keterampilan membedakan mana yang layak konsumsi. Dalam konteks budaya, kegiatan ini menyimbolkan penjelajahan dan kesiapan laki-laki untuk “memetik” kehidupan yang lebih kompleks dan berani menerima tantangan, sebagaimana kehidupan pernikahan dan kedewasaan.
Setelah daun dikumpulkan, peran berikutnya berpindah ke para gadis desa. Merekalah yang menjadi penanggung jawab dalam proses pengolahan dan memasak. Dengan cekatan, mereka menyiapkan bumbu urap yang terdiri dari kelapa setengah tua yang dibakar terlebih dahulu, kemudian diparut dan dicampur dengan cabai rawit, garam, daun kencur, dan sedikit kencur muda. Kelapa yang dibakar memberikan aroma khas, sekaligus menandai bahwa dalam hidup, semua yang matang harus diuji kembali agar mengeluarkan esensinya yang terbaik. Campuran bumbu ini disatukan dengan sayuran rebus, kemudian disajikan dalam wadah besar dari daun pisang, siap disantap bersama.
Peran para gadis bukan hanya sebagai juru masak, tetapi juga penjaga rasa dan simbol kehidupan yang siap menerima dan mengolah apa yang diberikan alam dan lelaki. Proses masak ini menjadi ajang untuk menunjukkan kedewasaan, kerapian, dan kerjasama di antara sesama perempuan muda. Secara simbolik, inilah bagian dari proses “perkenalan sosial” antara dua sisi masyarakat—para bujang pencari dan para gadis pengolah—yang menjadi fondasi dari keberlanjutan komunitas.
Nama “Sambel Edan” sendiri mengandung makna yang unik. Dalam bahasa lokal, istilah ini menggambarkan rasa yang pedas dan menggugah, namun di baliknya tersembunyi falsafah hidup: “semua daun muda itu enak, maka jangan takut menikah.” Ini adalah ajakan bagi para pemuda untuk tidak ragu memasuki fase hidup baru. Daun muda melambangkan masa depan yang segar dan penuh kemungkinan. Dengan cara pengolahan yang tepat—kerjasama, keberanian, dan keterbukaan—semua bisa dinikmati dengan rasa syukur.
Dalam suasana perayaan, Sambel Edan disajikan secara kolektif. Ia menjadi sajian utama dalam momen arak-arakan pengantin atau khitan, dimakan beramai-ramai di tanah lapang atau halaman rumah, dalam satu wadah, tanpa sekat status sosial. Makanan ini menciptakan ruang kesetaraan. Semua menyantap dari satu tempat, dengan rasa yang sama, dan dalam irama kebersamaan yang hangat. Di sinilah filosofi makanan sebagai pemersatu komunitas menjadi sangat terasa.
Lebih jauh, Sambel Edan juga menyimpan fungsi pendidikan sosial. Anak-anak menyaksikan bagaimana para bujang bekerja keras mencari daun, bagaimana para gadis mempersiapkan hidangan dengan cermat, dan bagaimana seluruh komunitas bergembira dalam suasana kebersamaan. Proses ini adalah transfer nilai lintas generasi yang berlangsung secara halus dan menyenangkan, tanpa perlu ceramah atau perintah.
Namun sebagaimana banyak tradisi lokal lainnya, Sambel Edan menghadapi ancaman dari perubahan zaman. Budaya cepat saji, masakan instan, dan gaya hidup individualis membuat tradisi kuliner kolektif ini perlahan tergeser. Generasi muda banyak yang tak lagi mengenal jenis daun yang dulu dikumpulkan, atau tidak tahu cara membakar kelapa dan mengatur kadar garam dalam bumbu. Dalam situasi ini, tradisi bisa mati bukan karena ditolak, tetapi karena dilupakan.
Maka pelestarian Sambel Edan harus menjadi bagian dari gerakan kebudayaan lokal. Dokumentasi, pengajaran di sekolah, festival pangan tradisional, dan keterlibatan keluarga dalam menjaga resep dan ritus sosial ini harus diperkuat. Bukan hanya karena Sambel Edan adalah kuliner yang enak dan sehat, tetapi karena ia menyimpan cara hidup yang penuh nilai: gotong royong, kesetaraan gender, pendidikan karakter, dan penghormatan pada alam.
Sambel Edan adalah contoh nyata bahwa makanan adalah bahasa budaya. Ia bicara tentang keberanian menikah, tentang keragaman yang berpadu, tentang cinta yang diolah dalam kesederhanaan. Ia lahir dari gunung, sawah, dan laut, diolah oleh tangan-tangan muda, dan dinikmati dalam tawa bersama. Di dalamnya terkandung doa, rasa hormat, dan pengingat bahwa kehidupan, meskipun kadang pedas dan “edan”, selalu bisa dinikmati jika dijalani bersama-sama.













