Pertukaran kata-kata antara kami terasa mengalir tanpa batas waktu, bukan sekadar karena lamanya pembicaraan, tetapi juga karena malam yang melambai menuju penghujungnya. Menikmati peran sebagai orang yang dipilih sebagai teman berbagi informasi pribadi, menjadi sosok yang dianggap penting dalam memberikan kesempatan untuk saling membuka diri.
Saya merasakan kegembiraan menjadi individu yang menjadi pembicara yang berdedikasi atau pendengar yang penuh perhatian, menciptakan ikatan yang mendalam melalui setiap kata yang terucap.
Semakin malam bergulir, diskusi mengenai beragam sudut pandang masing-masing terungkap secara mendalam. Sebuah tema sentral muncul tanpa disengaja, membahas profesi yang umumnya dianggap kontroversial atau kurang disukai.
Pria itu menceritakan pengalamannya …
“Kamu bayar mahal saya cuma buat ngobrol”, “Apa yang kamu harapkan dari wanita bekas seperti saya”
Saya sakit dengernya, sedih. Kenapa dia menganggap dirinya tidak berharga seperti itu. Terus teman saya juga berkomentar, “Sayang sekali, mengapa tidak dipakai (esek-esek)”. Apa sih yang ada dipikiranya emang hidup cuma melulu urusan seks, padahal saya ketemu dia cuma mau tau keadaan dia, saya tertarik sama dia, saya tidak peduli juga sama pekerjaan dia. -ujar pria tersebut.
Sebagian besar individu memang cenderung mengadopsi pola pikir yang sejalan dengan teman pria ini. Namun, terdapat minoritas yang langka, mereka yang memiliki kapasitas untuk mengembangkan pandangan yang terbuka terhadap dunia.
Mereka tidak terpaku pada sudut pandang yang sempit yang hanya memandang hidup dari segi seksualitas semata, melainkan mampu melihat keberagaman dan kompleksitas aspek-aspek lain yang membentuk kehidupan manusia dan pria ini adalah Salah satunya.
Menurut saya, sejatinya, seorang pria menjadi sungguh menawan ketika ia dapat menggambarkan sikap penghargaan yang mendalam terhadap perempuan, melampaui batas-batas stereotip dan ekspektasi yang mungkin ada. Kualitas ini tercermin dalam kemampuannya untuk tidak hanya menghindari perilaku merendahkan, tetapi juga untuk melihat perempuan sebagai mitra sejajar, memberikan penghormatan sepenuhnya pada hak, martabat, dan potensi mereka.
Terlebih lagi, ketika kita membahas ranah profesi, pria tersebut menunjukkan ketidakberpihakan pada pandangan umum yang mungkin menganggap beberapa pekerjaan sebagai kurang bergengsi. Dalam konteks ini, dia tidak hanya menolak penilaian masyarakat yang memandang rendah, tetapi justru menghargai keberagaman profesi dan mampu melihat melebihi label, termasuk pada situasi yang dapat dianggap tabu oleh banyak orang, seperti pekerja seks komersial (PSK).
Dengan demikian, pria tersebut tidak hanya memperlihatkan kematangan emosional dan intelektual, tetapi juga membuka jalan menuju hubungan yang sehat dan setara, tanpa terpengaruh oleh norma-norma sosial yang mungkin mencoba mempersempit pemahaman akan nilai perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.
Sebagai seorang wanita, saya memiliki wawasan mengenai pekerja-pekerja tersebut melalui bacaan, menelusuri kisah-kisah yang dituangkan penulis dari pengalaman nyata mereka. Selain itu, saya juga mendengarkan pengalaman dari orang-orang seperti teman luar biasa saya. Menyaksikan betapa rendahnya persepsi diri para wanita tersebut benar-benar menyentuh hati saya. Seharusnya, seperti karakter Firdaus dalam buku “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El-Saadawi, wanita seharusnya menganggap dirinya bernilai lebih tinggi daripada menjadi objek perlakuan semata yang pada akhirnya diabaikan dan dihina.
Meskipun tidak memahami secara mendalam konsep-konsep seperti emansipasi wanita, kesetaraan gender, dan feminisme, pria ini memperlihatkan kemampuannya untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terjadi berkat rasa empatinya yang kuat, yang memungkinkannya untuk memberikan dukungan dan perlakuan setara terhadap wanita, meskipun tidak secara eksplisit menyuarakan pandangan atau pemahaman teoritis terkait isu-isu tersebut.(*)













