Close Menu
Bantencorner.comBantencorner.com

    Berita Terbaru

    Selengkapnya

    ASDP Catat Peningkatan Arus Mudik, Heru Widodo: 6,8% Penumpang dan 18% Kendaraan

    19 Maret, 2026

    Arus Mudik Lebaran 2026 Lancar, Komisi III DPR RI Beri Apresiasi Dirut ASDP Heru Widodo

    19 Maret, 2026

    Polres Tangerang Kota Berhasil Tangkap 14 Terlapor, Ungkap Ragam Modus Curas Sepenjang Ramadan

    18 Maret, 2026

    Launching Bantuan Pangan Jelang Lebaran, Bulog Berikan Bantuan ke Lebak-Pandeglang

    18 Maret, 2026
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • YouTube
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Bantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Bantencorner.comBantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Home»NEWS»Kisah Konflik Internal Kesultanan Banten dan Campur Tangan Belanda
    NEWS

    Kisah Konflik Internal Kesultanan Banten dan Campur Tangan Belanda

    By Kang Fae20 April, 20253 Mins Read
    Copy Link Twitter WhatsApp Facebook
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    BANTENCORNER – Kesultanan Banten, yang pernah menjadi salah satu kerajaan Islam terkuat dan paling berpengaruh di Nusantara, menyimpan banyak kisah kejayaan, tapi juga luka akibat konflik internal yang berujung pada campur tangan kekuatan asing, khususnya Belanda. Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-18, Banten mengalami pergolakan politik yang hebat, yang sayangnya dimanfaatkan oleh Belanda untuk memperkuat cengkeramannya di wilayah barat Pulau Jawa.

    Awal mula dari keretakan internal di Kesultanan Banten sebenarnya berakar dari persaingan kekuasaan di dalam keluarga kerajaan sendiri. Setelah masa kejayaan di bawah Sultan Ageng Tirtayasa, muncul konflik tajam antara sang Sultan dengan putranya sendiri, Sultan Haji.

    Sultan Ageng dikenal sebagai pemimpin yang kuat dan tegas dalam mempertahankan kedaulatan Banten dari pengaruh asing, terutama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) atau Kompeni Belanda. Ia menolak segala bentuk monopoli perdagangan yang ditawarkan VOC dan lebih memilih menjalin hubungan dagang bebas dengan berbagai bangsa, termasuk Inggris, Portugis, dan pedagang Arab serta India.

    Namun berbeda dengan ayahnya, Sultan Haji memiliki pandangan politik yang lebih lunak terhadap Belanda. Ia lebih pragmatis dan percaya bahwa bersekutu dengan VOC bisa memberikan stabilitas dan keuntungan, terutama dalam situasi di mana konflik internal dan tekanan dari luar semakin meningkat. Ketegangan pun mencapai puncaknya ketika Sultan Haji, yang kala itu ditunjuk sebagai pemangku jabatan karena Sultan Ageng mundur dari urusan pemerintahan, justru mengambil alih kekuasaan dan melakukan kerja sama lebih intens dengan Belanda.

    Sultan Ageng, yang merasa dikhianati, berusaha merebut kembali kendali atas kerajaan. Terjadilah perang saudara yang dikenal sebagai Perang Banten (1680-an). Dalam situasi ini, VOC melihat celah besar untuk ikut campur. Mereka berpihak pada Sultan Haji, yang dianggap lebih mudah diajak kerja sama, dan memberikan bantuan militer untuk mengalahkan Sultan Ageng.

    Dengan bantuan VOC, Sultan Haji akhirnya berhasil menangkap ayahnya sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa, yang kemudian dipenjara hingga wafat. Peristiwa ini tidak hanya mencerminkan luka dalam hubungan ayah-anak, tapi juga menjadi titik awal dominasi VOC secara politik di Banten. Sejak saat itu, posisi Sultan dalam Kesultanan Banten tidak lagi sepenuhnya mandiri. Semua keputusan penting, terutama dalam bidang perdagangan dan pertahanan, harus mendapat persetujuan VOC.

    Campur tangan Belanda pun semakin dalam. Mereka membatasi aktivitas pelabuhan Banten, menghancurkan benteng-benteng pertahanan, dan memaksa kerajaan untuk menghentikan hubungan dagang dengan bangsa selain Belanda. Banten yang dulunya pelabuhan internasional yang ramai dan makmur, perlahan-lahan kehilangan pengaruh dan kemakmurannya.

    Konflik internal yang seharusnya bisa diselesaikan secara bijak justru membuka jalan bagi penjajahan yang lebih dalam. Kesultanan Banten tak lagi menjadi kerajaan yang berdaulat penuh, melainkan hanya bayang-bayang kejayaannya di masa lalu. Kejatuhan Banten menjadi pelajaran penting bahwa persatuan internal sangatlah vital dalam mempertahankan kedaulatan suatu bangsa atau kerajaan.

    Sejarah mencatat bahwa pada akhirnya, Kesultanan Banten resmi dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1813. Itu pun setelah sisa-sisa kekuasaan tradisionalnya digerogoti secara perlahan selama lebih dari satu abad. Kini, kisah konflik antara Sultan Ageng dan Sultan Haji menjadi simbol bagaimana perebutan kekuasaan dan ambisi pribadi bisa mengundang campur tangan asing yang berujung pada hilangnya kedaulatan.

    Dari kisah ini, kita bisa belajar pentingnya kesatuan dan kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan pandangan. Sebab saat pemimpin sebuah negeri saling bertikai tanpa arah, musuh dari luar dengan mudah masuk dan mengambil alih segalanya.

    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Terpopuler

    Asal-usul Nama Banten: Dari Mitologi hingga Fakta Sejarah

    ARTIKEL 21 Januari, 2025

    Tradisi dan Budaya Banten Zaman Kesultanan yang Masih Hidup Hingga Kini

    Heru Widodo Cek Posko Lebaran, ASDP Bantu Pemudik Dapatkan Tiket Kapal

    Silaturahmi Ramadan, Eks Napiter Ajak Warga Banten Jaga Stabilitas hingga Idul Fitri

    IWO-I Se-Banten Gelar Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama di Pandeglang

    Recent Post

    Serangan Andrie Yunus: IMM Sumenep Minta Usut Hingga Otak Intelektualnya

    18 Maret, 2026
    Heru Widodo Saat Menyapa Pengguna Jasa Penyebrangan ASDP

    Heru Widodo: Puncak Arus Mudik 18 Maret, 18.000 Kendaraan Sudah Check-in di Pelabuhan Merak

    18 Maret, 2026

    Heru Widodo: Arus Mudik 2026 Terbilang Lancar Berkat Kebijakan Strategis

    17 Maret, 2026

    Video Yusuf Manubulu Hina Islam Viral, Pengurus Harian Abdi Rakyar Laporkan ke Polisi

    16 Maret, 2026

    Video TikTok Yusuf Manubulu Sebut ‘Allah Seperti Mucikari’, Ormas KITA Laporkan ke Polisi Sebagai Dugaan Penistaan Agama

    16 Maret, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Kontak

    Jl. Akses Gedung/Perumahan Pondok Angsana Indah 1 Kasemen

    • red.bantencorner@gmail.com
    • +62 857-1947-9969
    • News
    • Politik
    • Parlemen
    • Hukrim
    • Regional
    • Feature
    • News
    • Perspektif
    • Figure
    • Info Loker
    • Kolom
    • Jadi Kolumnis
    • Kirim Opini
    • S&K
    • FAQ
    • Kolaborasi
    • Media Partner
    • Sponsorship
    • Iklan & Adv
    • Iklan Baris
    • © 2024 Bantencorner.com
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Peta Situs
    • Kebijakan Privasi
    • Disclaimer
    • Pedoman Media Siber

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.