BANTENCORNER.COM – Upaya mendorong penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali dilakukan melalui program kerja mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Bina Bangsa. Kali ini, pelatihan digitalisasi usaha emping digelar di tempat produksi emping milik Ibu Evi Liani, pada Sabtu 16 Agustus 2025, di Desa Kertasana, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Pelatihan tersebut dihadiri langsung oleh pemilik usaha, Ibu Evi Liani, bersama sejumlah mahasiswa, termasuk Alya Dwi Adinda, yang berperan sebagai fasilitator. Kegiatan ini difokuskan pada pengenalan strategi pemasaran digital, mulai dari cara menggunakan media sosial untuk promosi hingga memperluas pasar melalui platform e-commerce.
Menurut KKM 36, tujuan utama kegiatan ini adalah agar pelaku UMKM, khususnya pengusaha emping, mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Digitalisasi bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi kebutuhan agar produk lokal tetap bisa bersaing di pasar yang semakin luas,” ujar salah seorang mahasiswa peserta KKM.
Ibu Evi Liani, pemilik usaha emping, menyampaikan bahwa selama ini pemasaran produknya masih terbatas di lingkungan sekitar dan pasar tradisional. Ia mengaku pelatihan ini sangat membantu untuk memahami cara menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Saya biasanya hanya menjual emping kepada tetangga dan di pasar. Dengan pelatihan ini, saya jadi tahu bagaimana caranya menjual lewat internet supaya bisa dikenal lebih banyak orang,” ungkapnya.
Alya Dwi Adinda, selaku fasilitator, menambahkan bahwa pelaku UMKM perlu memahami pentingnya branding dan pengemasan produk agar lebih menarik. Ia menekankan bahwa konsumen saat ini tidak hanya mencari rasa, tetapi juga kualitas tampilan produk. Menurutnya, strategi sederhana seperti memotret produk dengan baik dan menuliskannya di media sosial dapat meningkatkan daya tarik pembeli.
Selain pemasaran, pelatihan ini juga memberikan edukasi mengenai pencatatan keuangan sederhana. Hal ini bertujuan agar pelaku usaha lebih tertib dalam mengelola modal, keuntungan, dan biaya produksi.
“Kalau pencatatan rapi, kita bisa tahu berapa keuntungan sebenarnya, dan itu sangat penting untuk mengembangkan usaha,” tutur mahasiswa KKM lain yang tidak ingin disebutkan namanya.
Dengan adanya pelatihan ini, masyarakat Desa Kertasana berharap produk emping lokal dapat lebih dikenal hingga menembus pasar di luar daerah. Dukungan dari mahasiswa melalui program kerja nyata menjadi langkah strategis untuk memberdayakan UMKM desa.
Harapannya, usaha emping milik Ibu Evi Liani bisa menjadi contoh sukses digitalisasi UMKM di Pandeglang.**




