BANTENCORNER.COM – Festival Teater Banten 2025 yang berlangsung pada 18–20 September di Plaza Aspirasi, KP3B Provinsi Banten, menampilkan kejutan visual yang menggugah: sebuah karya video mapping bertajuk “Jalan Masuk Tanpa Pintu Keluar”, persembahan dari kolektif seni visual Ramu Layar.
Diproyeksikan secara langsung ke bangunan publik selama tiga malam berturut-turut, karya ini bukan sekadar permainan cahaya. Ia hadir sebagai narasi visual yang sunyi namun menohok, membawa penonton masuk ke lorong-lorong memori, ruang batin, dan realitas sosial yang sering terabaikan. Karya ini juga memuat kutipan kuat dari sastrawan Milan Kundera.
“Pertarungan manusia melawan kekuasaan adalah pertarungan ingatan melawan lupa.”
Kutipan tersebut tampil menyatu dalam video mapping sebagai bagian dari narasi yang mengangkat pentingnya kesadaran historis dan ingatan kolektif.

Dalam konteks bulan September, bulan yang dalam sejarah Indonesia diwarnai oleh tragedi, represi, dan penghilangan, karya ini sekaligus menjadi bentuk peringatan diam terhadap #SeptemberHitam.
Perwakilan seni Ramu Layar menyampaikan bahwa karya terbaru mereka tidak hanya sekadar tontonan, tetapi juga upaya menghadirkan ruang refleksi bagi publik. Melalui pendekatan artistik, mereka ingin menegaskan bahwa seni dapat menjadi medium penyampai pesan yang kuat.
“Kami percaya seni adalah salah satu medium paling tajam untuk menyuarakan hal-hal yang tak bisa dikatakan dengan lantang. Ingatan adalah bagian dari perlawanan. Dan melalui karya ini, kami ingin menciptakan ruang sunyi yang berbicara,” ujar perwakilan Ramu Layar.
Dengan tema besar festival tahun ini, “Silang Ruang”, Festival Teater Banten membuka panggung bagi eksperimen lintas medium—memadukan seni pertunjukan, visual, dan teknologi. Karya Ramu Layar menjadi contoh nyata bagaimana ruang bisa disilangkan secara makna, bukan hanya secara fisik.
Festival Teater Banten 2025 sendiri merupakan agenda tahunan yang menghimpun berbagai komunitas teater, seniman, dan pelaku seni pertunjukan dari seluruh wilayah Banten. Tahun ini, festival tak hanya mempertunjukkan panggung, tapi juga menghadirkan ruang refleksi, dialog, dan perlawanan simbolik lewat karya-karya eksperimental.**







