‎BANTENCORNER.COM – Pertemuan Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan (AMPAL) Banten dengan Ketua DPRD Kota Serang, Muji Rohman, pada Rabu (14/1/2026) kemarin, dinilai telah menyimpang dari koridor organisasi dan tidak mewakili kepentingan masyarakat yang tengah dihadapkan dengan persoalan lingkungan hidup.

Organisasi tersebut justru lebih memilih membahas terkait dugaan temuan senjata api atau senjata tajam milik oknum Anggota DPRD Kota Serang, Edi Santoso, saat sidak temuan galian C di Kelurahan Sepang, Kecamatan Taktakan, pada November 2025 lalu.

Pernyataan ini disampaikan oleh mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Banten Jaya (Unbaja), Sahroni, Jumat, 16 Januari 2026.

“Mereka telah terjebak oleh sendirinya karena tidak fokus dan tidak mewakili masyarakat soal dampak lingkungan terhadap galian ilegal kepada pimpinan dewan,” ujarnya.

‎Ia mengatakan tuduhan AMPAL Banten kepada Edi Santoso terkait membawa senjata api atau senjata tajam saat sidak galian C belum tentu bisa dibuktikan, sehingga terkesan mengarah pada fitnah dan pencemaran nama baik.

‎”Di akun media sosial pak Edi juga saya tidak melihat ada moment menunjukkan senjata api atau senjata tajam saat sidak,” tambahnya.

‎Seharusnya, lanjut Sahroni, mereka membahas temuan galian ilegal yang disidak salah satu anggota legislatif. Mulai dari pelanggaran perizinan hingga keselamatan warga sekitar terhadap keberadaan galian tersebut.

‎”Padahal mereka mengatasnamakan aktivis lingkungan lho, tapi mereka tidak menunjukan kepeduliannya terhadap temuan galian C yang sudah sangat jelas bisa mengancam keselamatan lingkungan. Seperti pelanggaran perizinan, dampak negatif terhadap lingkungan, sampai kerugian warga setempat, itu tidak dibahas sama sekali oleh mereka pada pertemuan dengan Pak Ketua Dewan,” jelasnya.

‎Sehingga, ia menilai hasil audiensi AMPAL Banten dengan Ketua DPRD Kota Serang terkesan mubazir, tidak mencerminkan mereka sebagai mahasiswa yang berpendidikan, serta tidak mewakili kepentingan masyarakat.

‎‎”Jadi, tujuan atau motivasi mereka menggiring opini ini ke publik perlu dipertanyakan, cari panggung atau pesanan,” tanya Sahroni.

‎Sahroni juga membantah dengan tegas perihal adanya dugaan tindakan intimidasi yang dilakukan oleh Samsul Bahri, orang terdekat Edi Santoso, saat melakukan mediasi dengan beberapa anggota AMPAL Banten.

‎”Saat pertemuan di salah satu cafe itu tidak ada intimidasi yang dilakukan bang Samsul, karena saya juga ada di lokasi mendampingi beliau (Samsul),” ungkapnya.

‎Pandangan serupa juga disampaikan oleh Muhammad Ardi, yang merupakan Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Unbaja.

‎Ia mengaku sangat menyayangkan tindakan dari AMPAL Banten seharusnya fokus pada permasalahan utama, yaitu pelanggaran izin galian C, sebagaimana tertuang dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Serang.

‎”Dan sangat jelas aktivitas tersebut merupakan salah satu kegiatan yang merusak lingkungan,” ujar Ardi.

‎”Alih-alih memfokuskan perhatiannya kepada hal tersebut, mereka malah menyoroti tindakan pak Dewan (Edi Santoso) yang dinilai tak bermoral dengan tuduhan mengenai kepemilikan senpi yang tidak terbukti adanya,” tutur mahasiswa semester 6 ini.

Leave A Reply

Exit mobile version