BANTENCORNER.COM – Pembangunan di Indonesia kerap diukur melalui indikator makro: pertumbuhan ekonomi, investasi, dan infrastruktur besar. Namun di Baduy Luar, Kabupaten Lebak, pembangunan justru memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah negara sudah hadir untuk memenuhi hak dasar warganya tanpa menegasikan identitas budaya mereka?
Masyarakat Baduy Luar hidup dengan nilai adat yang masih kuat, tetapi tidak sepenuhnya terisolasi seperti Baduy Dalam. Mereka berinteraksi dengan dunia luar, berdagang, dan bersentuhan dengan sistem sosial modern. Sayangnya, keterbukaan ini tidak selalu diikuti oleh akses memadai terhadap air bersih, layanan kesehatan, pendidikan dasar, dan infrastruktur penunjang kehidupan sehari-hari. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya menjangkau wilayah selatan Banten secara adil.
Kekeliruan Pendekatan Pembangunan terhadap Masyarakat Adat
Selama ini, pendekatan pembangunan terhadap masyarakat adat sering terjebak pada dua pola yang keliru. Pertama, pembiaran atas nama pelestarian budaya, seolah-olah pemenuhan hak dasar adalah ancaman bagi tradisi. Kedua, pendekatan seragam yang memaksakan standar pembangunan modern tanpa mempertimbangkan konteks sosial dan adat setempat.

Kedua pendekatan ini sama-sama problematis. Pembiaran membuat masyarakat adat tetap hidup dalam keterbatasan struktural. Sementara pemaksaan modernitas justru berpotensi merusak tatanan sosial yang sudah lama mereka jaga. Padahal, pemenuhan kebutuhan dasar—air bersih, layanan kesehatan, pendidikan—bukanlah bentuk intervensi budaya, melainkan kewajiban negara terhadap setiap warga negara, termasuk masyarakat adat.
Pemenuhan Kebutuhan Dasar sebagai Fondasi Pembangunan yang Berkeadilan
Pemenuhan kebutuhan dasar di Baduy Luar seharusnya dilihat sebagai fondasi pembangunan alternatif yang berkeadilan. Air bersih tidak menghapus adat, layanan kesehatan tidak meniadakan tradisi, dan pendidikan dasar tidak menjauhkan generasi muda dari nilai leluhur. Justru dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, masyarakat adat dapat menjaga budayanya dengan lebih bermartabat dan berkelanjutan.
Pembangunan di Baduy Luar perlu berangkat dari dialog dan partisipasi masyarakat, menggunakan pendekatan yang sesuai konteks lokal—teknologi tepat guna, layanan publik yang menghormati struktur adat, serta kebijakan yang tidak memaksakan homogenitas. Ketika tradisi bertemu kebutuhan modern, tugas negara bukan memilih salah satunya, melainkan menjembatani keduanya secara adil dan manusiawi.
Baduy Luar mengajarkan bahwa pembangunan sejati tidak selalu soal membangun lebih tinggi atau lebih cepat, melainkan membangun dari kebutuhan paling dasar manusia, tanpa kehilangan rasa hormat pada identitas dan kearifan lokal.***





















