BANTENCORNER.COM – Konser Rilaya 2026 yang digelar sebagai agenda seni budaya resmi besutan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bina Bangsa (BEM UNIBA) berakhir memprihatinkan. Acara yang sejatinya bertujuan menggairahkan kreativitas pemuda melalui program kerja Kementerian Ekonomi Kreatif itu berubah menjadi ajang kerusuhan usai terjadi ketidaktertiban dan tindakan anarkis di tengah lokasi acara pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Insiden tersebut memicu kepanikan di kalangan pengunjung, merusak sejumlah fasilitas, dan membuat sejumlah musisi pendukung terpaksa batal tampil. Menanggapi kekacauan yang terjadi, jajaran pimpinan dan panitia penyelenggara segera membuka pernyataan sikap. Dalam keterangannya, BEM UNIBA menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak, mulai dari audiens, masyarakat, hingga para seniman yang telah hadir.
Panitia menegaskan, situasi chaos yang terjadi sepenuhnya berada di luar kendali maupun prediksi tim pelaksana. Padahal, sejak tahap persiapan hingga hari pelaksanaan, seluruh prosedur resmi telah ditempuh, termasuk koordinasi intensif dengan pihak kepolisian dan pengerahan petugas pengamanan di titik-titik rawan.
“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya serta rasa prihatin yang mendalam kepada seluruh audiens, pengunjung, masyarakat umum, serta para musisi pendukung yang telah hadir maupun yang belum sempat menampilkan karya terbaiknya. Insiden kerusuhan dan dinamika permasalahan yang terjadi sepenuhnya berada di luar kendali kami, meski kami telah berupaya semaksimal mungkin melakukan koordinasi dan pengamanan,” ujar perwakilan BEM Universitas Bina Bangsa melalui pernyataan resmi pada Senin, 01 Juni 2026.
Pihak kampus melalui lembaga mahasiswanya menilai, tindakan provokasi dan keonaran yang terjadi merupakan perbuatan segelintir oknum atau kelompok tidak bertanggung jawab yang hanya mengutamakan ego pribadi atau kelompok. Peristiwa itu dinilai telah mencederai nilai luhur apresiasi seni, merugikan banyak pihak secara materi maupun imateri, serta menodai ruang publik yang seharusnya aman dan kondusif.
BEM UNIBA dengan tegas mengutuk segala bentuk tindakan anarkis dan premanisme tersebut. Pihaknya menuntut agar para pelaku utama dan provokator segera menyerahkan diri, memberikan klarifikasi, serta menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik.
“Kami mengecam keras segala bentuk tindakan anarkis, provokatif, dan tidak bertanggung jawab yang mencederai ketertiban umum. Kami mendesak oknum yang terlibat untuk segera memberikan penjelasan dan meminta maaf. Kami juga meminta kepolisian bertindak cepat, mengusut tuntas, menangkap, dan memproses hukum para pelaku sesuai undang-undang yang berlaku demi efek jera dan keadilan sosial,” tegasnya.
Selain mendesak penegakan hukum, BEM Universitas Bina Bangsa juga berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek pelaksanaan kegiatan. Hal ini dilakukan guna memperbaiki sistem dan memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Lebih jauh, organisasi mahasiswa ini mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya kaum intelektual dan mahasiswa, untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban. BEM menegaskan akan terus berada di garda depan mengawal isu sosial dan menolak segala bentuk kekacauan demi terciptanya lingkungan yang aman, nyaman, dan berkeadilan.
“Kami berkomitmen mengawal isu sosial dan keamanan, serta mengajak seluruh elemen menjunjung tinggi nilai solidaritas dan kedewasaan. Kami tidak akan mundur dan siap berjuang melawan segala bentuk premanisme yang merugikan banyak pihak,” pungkas pernyataan resmi yang ditandatangani oleh Ketua Panitia sekaligus Presiden Mahasiswa Universitas Bina Bangsa periode 2025/2026.**







