BANTENCORNER.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UNIBA Kelompok 78 Desa Sumurbandung melalui bidang Tata Kelola Pemerintahan Desa/Kelurahan, Pelayanan Publik, dan Inovasi Teknologi melaksanakan kegiatan pembuatan Alat Penyiram Pupuk (APP) pada 20 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diwakili oleh Reyhan sebagai bentuk inovasi teknologi sederhana yang dapat membantu masyarakat, khususnya petani.
Pembuatan Alat Penyiram Pupuk merupakan salah satu upaya mahasiswa KKM dalam menghadirkan teknologi sederhana yang dapat diterapkan secara langsung di bidang pertanian. Alat ini dirancang untuk membantu petani dalam proses pemberian pupuk cair dengan cara mengocorkan atau menyiramkan pupuk langsung ke tanaman maupun area tanah di sekitarnya.
“Alat ini kami buat dengan konsep yang sederhana dan praktis agar mudah digunakan oleh petani. Harapannya, proses pemupukan bisa menjadi lebih mudah, cepat, dan merata,” ujar Reyhan, perwakilan bidang Tata Kelola Pemerintahan Desa/Kelurahan, Pelayanan Publik, dan Inovasi Teknologi.
Alat Penyiram Pupuk dibuat menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan, di antaranya jerigen atau tangki plastik berkapasitas sekitar 20–25 liter, selang plastik, pipa atau batang penyemprot, nozzle, tali atau strap, klem pengikat selang, sambungan pipa atau selang, serta perekat atau sealant untuk mencegah terjadinya kebocoran.
Dalam penggunaannya, alat terlebih dahulu diperiksa untuk memastikan tangki dalam kondisi bersih dan tidak mengalami kebocoran. Pupuk cair yang telah dilarutkan sesuai takaran kemudian dimasukkan ke dalam tangki dan ditutup dengan rapat. Setelah itu, tangki dapat dibawa menggunakan tali atau strap pada punggung sehingga pengguna lebih mudah bergerak ketika berada di lahan pertanian.
Pipa atau batang penyiram kemudian diarahkan ke tanaman atau bagian tanah yang akan diberikan pupuk. Saluran keluarnya pupuk dibuka secara perlahan agar pupuk dapat mengalir dengan baik. Penyiraman dilakukan secara merata dengan memperhatikan jumlah dan jarak pemberian pupuk sesuai kebutuhan tanaman.
“Kami berharap alat ini tidak hanya menjadi hasil kegiatan KKM, tetapi juga bisa dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Dengan bahan yang sederhana, petani dapat memiliki alat yang membantu pekerjaan mereka di lahan,” tambah Reyhan.
Setelah selesai digunakan, alat perlu dikosongkan dari sisa larutan dan dibersihkan menggunakan air bersih. Bagian tangki, selang, dan nozzle juga perlu dibersihkan agar tetap terawat dan dapat digunakan kembali. Alat selanjutnya disimpan di tempat yang kering dan aman.
Melalui kegiatan ini, KKM UNIBA Kelompok 78 berupaya memberikan inovasi yang sederhana namun memiliki manfaat bagi masyarakat Desa Sumurbandung. Pembuatan APP diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif alat bantu bagi petani dalam melakukan pemupukan secara lebih praktis, efektif, dan merata. ***








