BantenCorner – Kalau ngomongin sejarah Nusantara, pasti nggak jauh-jauh dari kerajaan besar yang punya pengaruh kuat, salah satunya Kesultanan Banten.
Kesultanan ini nggak cuma terkenal karena kejayaannya, tapi juga peran pentingnya sebagai pusat perdagangan di masa lalu. Tapi, seiring waktu, Kesultanan Banten mengalami masa-masa sulit hingga akhirnya runtuh.
Menariknya, jejak sejarah Kesultanan Banten masih bisa kita lihat sampai sekarang, mulai dari bangunan-bangunan tua seperti Masjid Agung Banten hingga cerita tentang strategi politik dan perdagangan yang canggih di zamannya.
Kalau kamu penasaran gimana perjalanan Kesultanan Banten dari masa ke masa, yuk kita bahas lebih dalam!
Awal Berdirinya Kesultanan Banten
Kesultanan Banten berdiri sekitar abad ke-16, didirikan oleh Sunan Gunung Jati dan anaknya, Maulana Hasanuddin. Awalnya, Banten merupakan wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Sunda, tapi setelah Sunan Gunung Jati menaklukkan daerah ini, Banten menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah barat Pulau Jawa.
Kesultanan Banten berkembang pesat karena letaknya yang strategis, yakni di Selat Sunda. Lokasi ini bikin Banten jadi jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Asia dan Eropa. Pedagang dari Arab, Tiongkok, hingga Portugis sering mampir ke pelabuhan Banten.
Selain itu, Kesultanan Banten juga dikenal sebagai produsen lada hitam berkualitas tinggi, yang waktu itu jadi komoditas utama perdagangan dunia.
Masa Kejayaan Kesultanan Banten
Puncak kejayaan Kesultanan Banten terjadi pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1682). Di bawah kepemimpinannya, Banten jadi kerajaan yang kuat secara ekonomi dan militer. Sultan Ageng juga menjalin hubungan dagang dengan berbagai negara, termasuk Inggris dan Belanda.
Namun, ia tetap berpegang teguh pada kemandirian kerajaan dan nggak mau tunduk pada VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Sultan Ageng juga memimpin pembangunan infrastruktur besar-besaran, termasuk saluran irigasi untuk mendukung pertanian rakyatnya. Masjid Agung Banten yang megah juga dibangun pada masa ini, dan hingga sekarang masih berdiri sebagai simbol kejayaan Kesultanan Banten.
Konflik Internal dan Keruntuhan
Sayangnya, kejayaan ini nggak berlangsung selamanya. Konflik internal jadi salah satu faktor utama keruntuhan Kesultanan Banten.
Perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan anaknya, Sultan Haji, membuka peluang bagi VOC untuk ikut campur. Sultan Haji yang didukung VOC berhasil merebut kekuasaan dari ayahnya.
Setelah Sultan Ageng ditangkap, Kesultanan Banten makin lemah. VOC perlahan-lahan mengambil alih kendali ekonomi dan politik di wilayah Banten. Pada akhirnya, Kesultanan Banten resmi dibubarkan pada tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Belanda.
Jejak Kesultanan Banten di Masa Kini
Meskipun sudah runtuh, jejak Kesultanan Banten masih terasa hingga kini. Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan yang sekarang tinggal reruntuhan, hingga budaya lokal yang masih kental, menjadi saksi bisu dari kejayaan masa lalu.
Kalau kamu main ke Banten, jangan lupa mampir ke situs-situs ini biar bisa merasakan langsung atmosfer sejarahnya.
Sejarah Kesultanan Banten mengingatkan kita bahwa kejayaan suatu bangsa nggak bisa lepas dari persatuan, kemandirian, dan pemimpin yang visioner. Di sisi lain, konflik internal bisa jadi bumerang yang menghancurkan segalanya.
Menyelami perjalanan Kesultanan Banten, dari masa kejayaan sebagai pusat perdagangan hingga keruntuhannya akibat konflik internal dan VOC.***







