Di sebuah masa lampau yang terselubung kabut legenda, di tanah Jawara yang penuh misteri dan kisah sakral, hiduplah seorang pangeran bernama Sae Bagus Lana. Ia tidak hanya dikaruniai wajah tampan dan pesona yang memikat, tapi juga memiliki kesaktian yang membuatnya disegani di seluruh Banten. Takdir kemudian menautkan hatinya dengan seorang putri cantik bernama Arum, wanita lembut dan baik hati yang memikat siapa pun yang memandangnya. Cinta mereka tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar perlahan di tengah malam. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
Dalam bayang-bayang persahabatan, tersembunyi sosok bernama Pangeran Cunihin, teman seperguruan Sae Bagus Lana yang diam-diam menyimpan rasa iri dan juga menginginkan Putri Arum. Dengan taktik dan kelicikannya, Cunihin merampas kesaktian Sae Bagus Lana melalui tipu daya dan mengutuknya menjadi lelaki tua renta berkulit gelap. Tak hanya kehilangan kekuatan, Sae Bagus Lana juga kehilangan segalanya: harga diri, martabat, dan juga kekasihnya.
Menyamar sebagai pembuat gelang sederhana, Sae Bagus Lana menjalani hari-harinya dengan nama Ki Pande, tinggal di perkampungan rakyat biasa. Sementara itu, Putri Arum dilanda kegundahan yang tak berkesudahan. Dalam kesunyian hatinya, ia memilih bertapa di sebuah bukit sunyi bernama Pasir Manggu, berharap wangsit dari langit. Di sanalah, dalam hening dan doa, ia menerima bisikan gaib: bahwa penyelamatnya akan datang dalam wujudu yang tak terduga.
Takdir tak bisa ditebak, mempertemukan kembali dua hati yang lama terpisah. Putri Arum bertemu Ki Pande di tengah pengembaraannya. Ia tidak mengenali wajah si tua itu, namun hatinya merasakan sesuatu yang akrab. Rupanya, rasa cinta dan kasihnya tidak pernah benar-benar hilang, Putri Arum masih mencintai Sae Bagus Lana.
Untuk merebut kembali kekuatannya dan menyingkirkan kejahatan, Ki Pande menyusun rencana untuk merebut kesaktianya kembali dengan mengalahkan Pangeran Cunihin. Setelah mendapat wejangan dari gurunya, Ki Pande kemudian diminta untuk membuat sebuah gelang raksasa yang nantinya akan digunakan sebagai senjata melawan Cunihin, gelang itu disebutkan bisa menghilangkan kesaktian targetnya jika dia melewatinya.
Rencana ini disampaikan kepada Putri Arum, tentu saja sang Putri menyetujui tanpa syarat mengingat ia sama sekali tidak mencintai Pangerang Cunihin. Meski ia tidak tau siapa sebenarnya Ki Pande, namun nalurinya menuntun untuk mengikuti apa yang direncakan Ki Pande untuk menyelamatkannya, sebab selama pertapaanya di Pasir Manggu, selain untuk menghindari pengejaran Pangeran Cunihin, dia juga berharap mendapatkan petunjuk untuk mengalahkannya.
Singkat cerita, Putri Arum yang saat itu sudah dikenal sebagai Putri Cadasari segera mengeluarkan aturan, bahwa ia bersedia menikah dengan Pangeran Cunihin asalkan si Pangeran sanggup melubangi batu cadas dan membawanya ke laut. Cunihin yang merasa syarat itu terlalu mudah, dengan sombong menyanggupinya begitu saja tanpa mencurigai apapun, ia mengerahkan seluruh kesaktiannya untuk memecahkan batu cadas dan melubanginya, tanpa tau bahwa ini adalah jebakan yang disiapkan oleh Ki Pande. Hingga pada akhirnya, saat ia melangkah melewati gelang buatan Ki Pande, tubuh Pangeran Cunihin gemetar, dan pada saat itu dia kaget dan merasakan tubuhnya seketika lemas tak berdaya, ia baru menyadari ternyata seluruh ilmu dan kesaktianya mendadak hilang begitu saja.
Dan pada saat yang bersamaan, suara gemuruh petir tiba-tiba terdengar di mana-mana, kemudian dengan tiba-tiba, wujud asli Sae Bagus Lana kembali seperti sediakala, tampan dan gagah layaknya seorang Putra Mahkota, dia berdiri di hadapan Putri Cadasari. Sontak sang Putri terperanjat dan tidak percaya, air mata bahagia mengalir di pipinya, seolah menjadi tanda bahwa siksaan batin dan kesulitan yang dideritanya hilang begitu saja.
Putri memang sebelumnya samasekali tidak mengenal Ki Pande, ia hanya mengikuti nuraninya, sosok di depanya tampak familiar dan seolah bukan orang lain, rupanya dugaanya benar, Ki Pande adalah Sae Bagus Lana, kekasihnya yang menghilang tanpa memberi kabar apapun.
Putri Cadasari segera berlari dan langsung jatuh ke pelukan Ki Pande, ia terisak bahkan suara tangisnya terdengar sesekali. Ki Pande dengan wajah yang tegas namun juga sayup, menyambut pelukan Putri Cadasari, ia meminta maaf karna telah membiarkan Putri menderita sendirian hingga mengembara demi menghindari Pangeran Cunihin sekaligus mencari petunjuk untuk mengobati penyakitnya.
Diceritakan bahwa Putri Arum mendapatkan nama Putri Cadasari adalah karena dia telah sembuh dari penyakitnya berkat air batu cadas. Kini, Putri Arum alias Putri Cadasari bisa melewati hidup penuh kebahagiaan bersama kekasihnya, Pangeran Pande Gelang.
Legenda ini tak sekadar kisah. Ia mengalir dalam nama-nama yang kini mengisi peta Banten: Pandeglang, dari kisah Pande dan gelang; Karang Bolong, dari batu berlubang; Cadasari, dari tempat pemulihan sang putri; hingga Pasir Manggu dan Kramatwatu. Semua menjadi saksi bisu kisah cinta, perjuangan, dan harapan yang tak pernah mati.
Dan di sanubari masyarakat Banten, kisah Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari terus hidup—diceritakan dari generasi ke generasi, bukan sekadar dongeng, tapi cermin dari nilai-nilai yang luhur: keberanian, kesetiaan, dan kekuatan cinta yang sejati.







