BANTENCORNER.COM – Pada masa ketika semua terasa sederhana. Saat perjuangan masih di tangan, bukan di panggung. Saat nama belum menjadi merek, dan jabatan belum menjadi perisai.
Dulu, semua terasa hangat, bukan karena ruangan yang nyaman atau ber-AC, tapi karena semangat yang sama-sama menyala.
Ada yang rela menunda mimpinya demi membantu orang lain mewujudkan mimpinya. Ada yang menahan lapar, asal cita-cita bersama tetap hidup.
Ada pula yang diam-diam berdoa di tengah malam, berharap perjuangan yang dirintis bersama tak berhenti di tengah jalan. Namun waktu memang pandai bermain peran.
Ketika perjuangan berubah menjadi keberhasilan, dan keberhasilan berubah menjadi status, tiba-tiba banyak hal jadi kabur. Yang dulu disebut kawan seperjuangan, kini cukup disebut “masa lalu”. Yang dulu menuntun arah, kini dikira penghalang langkah. Dan yang dulu mengangkat, kini dituduh menumpang.
Lucu, ya. Kadang, yang dulu berjuang bersama malah dianggap tidak pernah ada. Yang dulu memegang tali, kini tak diundang ketika perahu berlayar. Tapi begitulah zaman di mana “lupa” sering dibungkus dengan kata “sibuk”, dan “mengabaikan” terdengar sopan ketika disebut “menata masa depan”.
Mungkin mereka tidak benar-benar bermaksud melupakan. Hanya saja, setelah terbiasa disorot lampu, pandangan ke belakang terasa terlalu gelap untuk disinggahi lagi.
Lagipula, mengingat terlalu banyak bisa membuat langkah terasa berat, apalagi kalau kenangannya berisi wajah-wajah yang dulu ikut menanggung beban. Padahal, tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri.
Setiap nama besar tumbuh dari tanah yang sama: tanah kesabaran orang lain. Setiap keberhasilan lahir dari peluh yang tak sempat diseka, dari tangan-tangan yang memilih diam tapi tetap bekerja. Mereka tak menuntut disebut, hanya berharap tidak dihapus.
Ironinya, banyak yang kini pandai bicara tentang “kolaborasi” dan “kebersamaan”. Kalimatnya manis, disampaikan dengan senyum dan pencahayaan sempurna di depan kamera. Tapi di belakang layar, yang dulu ikut membangun malah dianggap tidak relevan. Mungkin memang benar: manusia lebih suka bercerita tentang perjuangan daripada benar-benar menghargainya.
Tapi tenang saja, waktu punya cara sendiri untuk menertawakan lupa. Ia tidak marah, hanya sabar menunggu momen ketika semua lampu mulai redup. Di saat itu, mungkin suara-suara yang dulu diabaikan akan terdengar lagi pelan, tapi jujur. Karena kebesaran sejati bukan soal seberapa tinggi nama disebut, tapi seberapa dalam ia mau mengingat dari mana ia mulai melangkah.
Dan tidak ada satire yang lebih lembut daripada kehidupan itu sendiri: yang diam-diam menguji siapa yang benar-benar tahu arti perjuangan, dan siapa yang hanya pandai mengenangnya lewat pidato.





















