Prof. Dr. Lili Romli lahir di Kampung Babadan, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Dari latar belakang yang modest, ia menapaki jenjang pendidikan dan karier hingga menjadi profesor riset di lembaga penelitian nasional.
Dalam hal pendidikan, Lili Romli menamatkan studi sarjana di bidang Ilmu Politik di Universitas Indonesia (UI) saat masih menghadapi tantangan ekonomi, ia bahkan sempat berjualan koran demi menyambung hidup dan kuliah. Gelar doktor (S3) kemudian diraihnya sebelum memperoleh pengukuhan sebagai profesor riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tanggal 20 Desember 2017, dengan orasi ilmiah berjudul “Problematik Institusionalisasi Partai Politik di Indonesia Era Reformasi”.
Kariernya meluas tidak hanya sebagai peneliti dan pengajar, tetapi juga sebagai pengamat politik yang sering dijadikan narasumber media nasional. Ia tercatat sebagai Research Professor di Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Di tingkat organisasi kemasyarakatan, ia aktif sebagai Ketua ORWIL (organisasi wilayah) dari Ikatan Cendekiawan Muslim se‑Indonesia (ICMI) wilayah Banten, serta menjabat sebagai Direktur Eksekutif dari Banten Institute for Regional Development (BIRD)
Karya tulisnya juga cukup produktif. Beberapa buku yang dikenal antara lain Sistem Presidensial Indonesia : Dinamika, Problematik, dan Penguatan Pelembagaan (2019) yang membahas aspek kelembagaan, kekuasaan eksekutif dan dinamika presidensial di Indonesia.
Selain itu, buku lain seperti Partai Politik : Dinamika dan Problematik Pelembagaan di Indonesia (2021) juga menyoroti isu partai politik dalam era reformasi.
Dalam karakter pribadi, ia dikenal dengan filosofi hidup sederhana: “ikuti seperti air mengalir. Yang penting setiap yang kita kerjakan, lakukan dengan baik dan sungguh. Setelah itu serahkan semuanya kepada Allah.”
Meskipun berasal dari keluarga yang sederhana, misalnya, membantu orang tua membajak sawah dan mengembala kerbau waktu kecil, ia berhasil menembus dunia akademik dan riset.
Isu-keahlian yang paling sering muncul dalam tulisannya dan komentarnya adalah tentang institusi politik, partai politik, sistem presidensial dan otonomi daerah. Ia juga kerap mengkritisi fenomena politik terbaru dari sudut akademik dan empiris.
Prof. Dr. Lili Romli juga dikenal sebagai salah satu pemikir politik Indonesia yang menaruh perhatian besar pada konsolidasi demokrasi dan pelembagaan partai politik di Indonesia pascareformasi. Melalui berbagai risetnya di LIPI dan kini di BRIN, ia berupaya menjembatani antara teori demokrasi dan praktik politik yang berlangsung di lapangan, terutama dalam konteks lokal seperti Banten, Jawa Barat, dan wilayah-wilayah lain di luar Jawa. Pandangan ilmiahnya selalu menekankan pentingnya tata kelola politik yang berakar pada nilai-nilai sosial masyarakat, bukan hanya pada struktur kelembagaan yang bersifat formal.
Dalam berbagai tulisan dan orasi ilmiahnya, Lili sering menyoroti bagaimana demokrasi Indonesia mengalami distorsi akibat lemahnya institusionalisasi partai politik. Ia menyebut partai di Indonesia sering kali berfungsi sebatas kendaraan elektoral dan bukan sebagai lembaga kaderisasi politik yang kuat. Menurutnya, demokrasi yang sehat membutuhkan partai yang terlembaga—artinya memiliki basis ideologi, mekanisme rekrutmen yang terbuka, dan kepemimpinan yang akuntabel. Pandangan ini menjadikannya salah satu narasumber tetap di berbagai diskusi politik nasional, termasuk forum televisi, seminar kampus, serta rapat dengar pendapat akademik di DPR dan lembaga pemerintahan.
Sebagai peneliti senior, Prof. Lili juga aktif menulis di jurnal ilmiah nasional dan internasional. Fokus risetnya meliputi sistem presidensial, reformasi birokrasi politik, hubungan eksekutif-legislatif, serta demokratisasi di tingkat daerah. Ia memandang bahwa otonomi daerah merupakan salah satu capaian penting reformasi, tetapi juga membawa tantangan baru dalam hal korupsi politik, dinasti politik, dan lemahnya akuntabilitas publik. Dalam salah satu esainya yang sering dikutip, ia menulis bahwa “Otonomi daerah tanpa kontrol publik yang kuat akan melahirkan feodalisme baru dalam politik lokal.”
Selain kontribusi akademiknya, Prof. Lili dikenal sebagai sosok mentor bagi banyak mahasiswa dan peneliti muda di bidang ilmu politik. Ia sering menekankan pentingnya disiplin metodologi riset dan integritas ilmiah, dua hal yang menurutnya menjadi kunci agar penelitian politik tidak sekadar menjadi opini. Gaya bimbingannya dikenal hangat, namun tegas dan penuh tanggung jawab. Banyak alumni yang kini menjadi dosen, peneliti, maupun pejabat publik mengakui bahwa pendekatan beliau membentuk karakter ilmiah yang kuat.
Lili juga aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan di Banten. Ia kerap diundang dalam kegiatan akademik daerah untuk memberikan ceramah tentang kepemimpinan, etika politik, dan pembangunan berbasis kearifan lokal. Ia menegaskan bahwa politik yang baik harus berpihak kepada kesejahteraan rakyat dan pembangunan manusia, bukan semata-mata pada perebutan kekuasaan. Pemikiran tersebut berakar dari pengalaman hidupnya yang sederhana di masa kecil: membantu orang tua bertani, berjualan koran, hingga menempuh pendidikan tinggi dengan perjuangan mandiri. Ia sering mengatakan bahwa keberhasilan sejati seorang akademisi bukan diukur dari jabatan atau gelar, tetapi dari seberapa besar manfaat pengetahuannya bagi masyarakat.
Kini, di usianya yang matang, Prof. Dr. Lili Romli tetap produktif menulis, berbicara di forum publik, dan membimbing peneliti muda di lingkungan BRIN. Gaya bicaranya yang tenang, analitis, dan berbasis data membuat pandangannya dihormati lintas kubu politik. Ia mewakili sosok cendekiawan yang tetap konsisten menjaga idealisme akademik di tengah arus pragmatisme politik nasional. Melalui karya dan dedikasinya, Lili Romli menjadi teladan bagaimana intelektualitas dapat tumbuh dari kesederhanaan dan kemudian berkontribusi besar bagi demokrasi Indonesia.







